Tak Pahami Risiko Kerja Penyebab Kecelakaan Kerja Tinggi

keselamatan-kerja
SIMBOLIS: Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT Brantas Abipraya, Suradi secara simbolis memasangkan helm keselamatan sebagai tanda dibukanya Bimbingan Teknis dan Distance Learning (DL) Ahli Muda Bidang Jasa Konstruksi Mahasiswa Se-Solo Raya, di Universitas Sebelas Maret (UNS). (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)
SOLO,suaramerdekasolo.com – Permasalahan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di sektor konstruksi seringkali menjadi penyebab banyaknya kecelakaan kerja. Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT Brantas Abipraya, Suradi mengemukakan,  hal itu dikarenakan rendahnya pemahaman dan kepekaan terhadap bahaya dan risiko konstruksi.
 
Untuk itu, tenaga kerja konstruksi perlu bersertifikasi agar memiliki nilai tambah yang lebih berkompeten dan produktif. Di samping untuk melindungi dirinya sendiri.
 
“Indonesia termasuk negara yang tertinggal dibandingkan negara lain soal K3 ini, ” kata Suradi di sela-sela kegiatan Bimbingan Teknis dan Distance Learning (DL) Ahli Muda Bidang Jasa Konstruksi Mahasiswa Se-Solo Raya, di Universitas Sebelas Maret (UNS).
 
Terdorong dilaksanakan dalam rangka implementasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi yang menyatakan setiap tenaga kerja konstruksi yang bekerja di bidang Jasa Konstruksi wajib memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja, Pihaknya sevara berkala memberikan pelatihan dan sertifikasi pada 1.700 mahasiswa secara bertahap. Suradi menambahkan sertifikasi tersebut sekaligus menyiapkan masa depan tenaga kerja sata terjun di dunia kerja.
 
“Pemerintah ingin selalu menargetkan zero accident. Kita lihat beberapa tahun lalu kejadian konstruksi menunjukkan bahwa keselamatan tenaga kerja itu dianggap hal yang remeh. Indonesia termasuk tertinggal dibandingkan negara lain di dunia untuk bidang oil and gas,” katanya. 
 
Dikemukakan,  pihaknya berupaya memberi pelatihan minimal Ahli Keselamatan Muda pada para mahasiswa. Akhir-akhir ini sistem itu sudah mulai berjalan dan bagus sekarang. Tinggal perusahaan swasta yang kecil mungkin belum mature tingkat pemahaman K3. Sehingga kejadian-kejadian konstruksi masih terjadi. Tapi kalau di BUMN kami pastikan semua sistem sudah berjalan
 
Utamakan Mutu
 
Menurutnya, pemerintah sudah menganggarkan untuk K3 di setiap projek kegiatan. Ini membuktikan bahwa K3 sudah mulai diperhatikan. Tidak hanya karena ada aturan, namun juga timbulnya kesadaran tenaga kerja dalam budaya ber-K3.
 
“Peran mahasiswa sebagai penerus generasi konstruksi sangatlah penting, sehingga kami menginisiasi program bimbingan tersebut sekaligus pelatihan untuk Ahli K3 Konstruksi Muda ini agar mereka mampu bersaing dan siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),” sambungnya.
 
Sebagai BUMN konstruksi yang berperan menjadi agen pembangunan, di setiap projek Suradi menyebut selalu mengutamakan mutu dan kualitas sehingga pelatihan dan bimbingan untuk menghadapi uji sertifikasi pekerja konstruksi ini sejalan dengan misi Abipraya dalam meminimalisir risiko terjadi kecelakaan kerja konstruksi atau kegagalan bangunan.
 
“Total sejak 2014 kami telah berhasil melakukan sertifikasi sebanyak 3.600 pekerja kami. Dan kami akan terus berkomitmen menyokong Kementerian PUPR untuk melakukan percepatan program sertifikasi ini,” sambungnya.
 
Di hadapan ratusan peserta pelatihan, Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan Kementerian PUPR, Kimron Manik berpesan kepada seluruh mahasiswa peserta pelatihan agar senantiasa menjaga kesehatannya. Karena di bidang konstruksi sangat dibutuhkan kondisi tubuh yang fit.(Evie Kusnindya)
 
Editor : Budi Sarmun 
 
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here