Pakar Pendidikan Luar Biasa Soroti Sekolah Inklusif

sekolah inklusi
FOTO DIRI : Prof Dr Munawir Yusuf (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)
SOLO suaramersekasolo.com – Sistem pendidikan inklusif seharusnya otomatis di setiap satuan pendidikan. Namun yang masih terjadi saat ini, sekolah yang tidak merasa ditunjuk sebagai sekolah inklusif cenderung menyerahkannya ada yang ditunjuk sesuai ketentuan.

“Adahal seharusnya pendidikan inklusif itu otomatis tanpa harus ditunjuk atau ditugaskan seperti yang terjadi sekarang ini di Indonesia. Jika harus ditunjuk maka filosofi pendidikan inklusif akan kabur, ” kata pakar Pendidikan Luar Biasa Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr Munawir Yusuf MPd. 

Prof Munawir juga menyoroti zonasi pendidikan. Ia menambahkan siswa berkebutuhan khusus yang berada di dalam satu zonasi wajib diterima di sekolah dalam zonasi tersebut. Artinya, sekolah-sekolah saat ini mau tidak mau harus berperspektif sebagai sekolah inklusif.

Baca : Penuh Semangat, Siswa Inklusi Tampil Sebagai Petugas Upacara Bendera

“Sekolah tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus. Jadi pihak sekolah harus menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa berkebutuhan khusus tersebut,” sambungnya.

Selama ini, pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia menganut dua paradigma. Yakni model segregatif yang merupakan model lama dipengaruhi oleh paradigma medis dan model inklusif yang merupakan model baru dipengaruhi oleh paradigma sosial. Munawir menyebut model segregatif merupakan model tertua dan telah mengakar kuat di masyarakat.

“Namun model ini kurang mampu mempercepat perluasan akses dan pemerataan pendidikan bagi anak dengan kebutuhan khusus. Sekolah Khusus (SLB) akan terus dibutuhkan akan tetapi revitalisasi harus dilakukan agar lebih responsif terhadap tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan IPTEK,” imbuhnya.

Mempercepat

Dikatakan, model inklusif merupakan paradigma baru dalam pelayanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Model ini terbukti mampu mempercepat dalam meningkatkan angka partisipasi pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Dengan diterapkannya sistem zonasi dalam pendidikan, ada kecenderungan ke depan semua sekolah akan menjadi sekolah yang inklusif.

Lalu apakah sekolah luar biasa kemudian akan ditutup? Munawir menjawab, tidak. Sekolah luar biasa tetap akan berkembang. Sebab di Indonesia memiliki kultur yang berbeda. Ada sebagian masyarakat yang lebih nyaman bersekolah di sekolah luar biasa dan terpisah dengan siswa umum lainnya. Sementara di sekolah inklusif para siswa akan berbaur dengan siswa berkebutuhan khusus.

“Sekolah luar biasa tetap akan berkembang. Penelitian yang saya tawarkan adalah model Manajemen Sekolah Berbasis Pendidikan Inklusif. Sehingga ke depan semua sekolah harus siap mengelola pendidikan inklusif,” jelasnya.

Baca : Anak Autis Punya Harapan ke Sekolah Umum

Implikasi penyelenggaraan pendidikan inklusif terhadap manajemen sekolah, tidak hanya berdampak kepada komponen guru, akan tetapi juga semua aspek manajemen sekolah yang meliputi manajemen kesiswaan, kurikulum dan pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, budaya dan lingkungan sekolah, serta peranserta masyarakat, harus dikelola dengan menggunakan perspektif manajemen sekolah berbasis pendidikan inklusif.(Evie Kusnindya)

Editor : Budi Sarmun 

 

 
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here