Bencana Angin Puting Beliung Landa Dua Kecamatan Di Sragen

smk-1-miri1
TINJAU LOKASI: Wabup Sragen Dedy Endriyatno meninjau SMK 1 Miri, yang bangunan aula terbukanya roboh dan menyebabkan 22 siswanya luka-luka, saat bencana angin puting beliung melanda wilayah itu, Rabu (20/11) sore. (suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

 

*Aula Roboh 22 Siswa SMK Luka, Ratusan Rumah Rusak

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Hujan deras yang disertai angin puting beliung melanda dua wilayah kecamatan di Sragen, yakni Miri dan Gemolong, sekitar pukul 14.30, Rabu (20/11) kemarin.

Akibat bencana ini, tercatat 22 siswa SMK 1 Miri, Desa Jeruk Kecamatan Miri mengalami luka-luka. Sebab grand hall atau aula terbuka berbentuk linmas tanpa dinding beton berukuran 12 X 24 m terbuat dari kayu roboh. Meski ada korban luka-luka dan ratusan bangunan atau rumah rusak berat, sedang dan ringan, tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Bangunan lain yang mengalami kerusakan parah adalahrumah joglo yang terbuat dari kayu jati berukuran 8 x 12 meter milik obyek wisata kolam renan waterboom yang ada di Dukuh Candirejo RT 15 Kleurahan Kwangen, Kecamatan Gemolong yang roboh dengan kerugian sekitar Rp 100 juta.

Wakil Bupati (Wabup) Dedy Endriyanto yang meninjau ke beberapa lokasi bencana dan rumah sakit mengatakan, peristiwa di SMK 1 Miri terjadi saat sekitar pukul 14.30 WIB terjadi hujan deras yang disertai angin puting beliung.

Pada saat itu, murid kelas 11 dan kelas 12 sedang melaksanakan praktek pengelasan di lapangan tenis belakang, di samping aula.

Tidak lama ada angin kencang disertai hujan anak anak kemudian berteduh di aula terbuka tersebut. Pada saat itu guru melihat aula sudah mulai goyang dan meminta para siswa meninggalkan ruangan tersebut.

“Tapi sebelum meninggalkan aula, ternyata aulanya sudah rubuh dan menimpa para murid,” kata Dedy.

smk-1-miri2
JENGUK KORBAN: Wabup Sragen Dedy Endriyatno menjenguk salah satu siswa SMK 1 Miri yang mengalami luka-luka akibat aula tebukanya yang roboh di RS Assalam Gemolong, Rabu (20/11) petang. (suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

Untuk korban rata-rata bagian kepala dan patah tangan serta tidak ada korban jiwa.

Berdasarkan data yang ada, tercatat ada empat siswa yang dirujuk ke ke RS Karima Utama Kartasura akibat mengalami fracture atau patah tulang.

Juga ada enam orang yang dirujuk ke RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen, RS Yakssi Gemolong empat orang dan RS Assalam Gemolong delapan orang.

“Yang dirujuk ke RS Karima Utama harus menjalani operasi, sementara untuk yang masuk ke RS lain ada yang hanya rawat jalan saja, seperti yang di RS Assalam Gemolong,” tandasnya.

Wabup mengungkapkan, pihaknya juga akan melakukan evaluasi pascabencana angin puting beliung ini. Selain itu Pemkab Sragen akan membebaskan biaya pengobatan dan perawatan para siswa yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Proses Pendataan

Pihaknya juga sudah meminta kepada camat dan jajarannya agar dilakukan gotong-royong membersihkan dan membangun rumah-rumah warga yang terdampak bencana.

Khusus untuk SMK 1 Sragen, Pemkab Sragen sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sebab menjadi kewenangan mereka.

Wabup juga menyampaikan bila ada ratusan rumah dan bangunan yang terkena dampak angin puting beliung ini. Namun untuk pastinya saat ini sedang dalam pendataan yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen.

“Semuanya sudah tertangani dengan baik, di lapangan sudah ada kerjasama dan koordinasi antara Pemkab Sragen dengan TNI, Polri, PMI, Tagana, Pramuka dan semua unsur masyarakat,” tegasnya.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Sragen Sugeng Prijono mengatakan, belum bisa memastikan berapa rumah atau bangunan yang mengalami kerusakan. Baik rusak berat, sedang atau ringan, karena saat ini masih melakukan pendataan.

Dua wilayah yang mengalami kerusakan parah adalah di Kecamatan Miri dan Gemolong. “Saat ini kami juga masih melakukan proses evakuasi di beberapa tempat,” kata Sugeng. (Basuni Hariwoto)

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here