Juliyatmono Prihatinkan Nasib Guru Wiyata Bhakti Dan Honorer

0
bupati-juliatmono2
FOTO DIRI : Bupati Karanganyar Juliyatmono. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

 

*Pemerintah Hendak Aktifkan PPPK

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Guru wiyata bakti yang kini membantu menjadi pengajar di SMP dan SD, yang banyak kosong karena guru ASN (Aparatur Sipil Pemerintah)-nya pensiun, dan juga tenaga honorer daerah yang magang di Pemkab, bisa menjadi masalah baru bagi pemerintah. Sebab saat rekrutmen ASN, mereka diperlakukan sama dengan pendaftar baru rekrutmen ASN.

‘’Ditambah lagi pemerintah ternyata sampai sekarang kurang mengintensifkan pengangkatan PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak). Tidak jelas prosedur pengangkatannya, apakah mereka juga rekrutmen baru. Sehingga jika begitu justru kasihan guru wiyata bakti dan honorer daerah itu,’’ kata Bupati Juliyatmono, akhir pekan lalu.

Sebab kata bupati, para guru wiyata bakti dan honorer daerah itu tentu merasa ikut berjasa sehingga wajar jika mereka menuntut memiliki hak untuk diangkat menjadi ASN daripada rekrutmen baru. 

Mereka sudah mengenal anak didik, brjasa ikut mengajar, tapi harus tersisih menjadi ASN karena ada yang lolos saat rekrutmen baru.

“Ini, kan tidak adil,” tegasnya. 

Di saat sekolah kekurangan guru, tenaga mereka digunakan secara maksimal dengan honor seadanya, namun saat rekrutmen ASN mereka yang sudah ikut berjasa selama bertahun-tahun harus tersisih dan mempersilahkan posisinya jadi guru diberikan pada orang lain yang lolos jadi ASN.

Inilah yang memancing rasa kasihan, sekaligus memprihatinkan sistem rekrutmen yang ada saat ini. Pemkab tidak bisa berbuat apa-apa sebab rekrutmen semua diurus oleh Kemen-PAN.

Sehingga Pemkab pun tidak bisa memperjuangkan tenaga honorer atau guru wiyata bakti untuk diangkat menjadi ASN atau minimal PPPK sekalipun.

Berbicara tentang kondisi ASN di Karanganyar saat ini, Juliyatmono mengatakan, karena ASN yang pensiun setiap tahun berkisar sekitar 400-an, maka saat ini jumlah ASN di Karanganyar sangat kekurangan, sebab sudah di bawah 9.000-an orang.

‘’Idealnya 13.5000-an sudah termasuk guru SD yang saat ini SD yang jumlahnya 450-an tinggal memiliki kepala sekolah atau satu dan dua tenaga guru yang ASN. Sehingga kekosongan diisi oleh guru wiyata bakti yang sekarang sudah sejumlah 1.200-an lebih. Belum guru wiyata bakti yang di SMP,’’ kata dia. (Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan