Dua Warga Klaten Meninggal Berturut-Turut, Satu Ditabrak KA

1
tewas-klaten
LINTASAN KA: Kapolsek Jogonalan Iptu Rizky Widyo Pratomo mengecek lokasi tertabrak KA di Desa Somopuro, Selasa (26/11) malam. (suaramerdekasolo.com/Achmad H)


KLATEN,suaramerdekasolo.com – Dua warga Kabupaten Klaten tewas dalam kurun waktu 24 jam dengan berbagai sebab. Mardiwiyono (76) warga Dusun Sawahan, Desa Somopura, Kecamatan Jogonalan tewas terhantam kereta api dan Andi Nugroho (43) warga Desa Barepan, Kecamatan Cawas mengakhiri hidup dengan seutas selendang.

Mbah Mardi tertabrak KA Gajayana jurusan Malang-Gambir pada Selasa (26/11) malam sekitar pukul 21.30 WIB. Korban yang menuntun sepeda onthel dari arah timur atau dari Desa Srowot melintas tengah rel hendak pulang.

Baca : Bawaslu Ajak Media Solo Berpartisipasi Kawal Pemilu

Sesampai di lintasan Dusun Pule, Desa Somopura, Kecamatan Jogonalan korban tidak menyadari ada kereta api melintas di belakangnya. KA Gajayana nomor loko CC 2061335 menghantamnya sehingga korban terpental bersama sepedanya. Korban meninggal di lokasi kejadian sebab lukanya di kepala sangat parah.

Kapolres Klaten AKBP Wiyono Eko Prasetyo melalui Kapolsek Jogonalan Iptu Rizky Widyo Pratomo mengatakan korban diduga tidak mengetahui sebab usianya sudah tua.

” Korban menuntun sepeda onthelnya di rel,” jelasnya, Rabu (27/11).
Jenazah sudah divisum dan barang bukti sepeda onthel diamankan. Korban diserahkan ke keluarga untuk dimakamkan.

Baca : Tim PKM Fakultas Teknik UNS Kembangkan Alat Pemotong Tahu

Selendang Lurik

Sementara Rabu (27/11) siang diduga terbelit masalah ekonomi keluarga, Andi Nugroho (43) warga Dusun Brangkal, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten nekat mengakhiri hidup dengan seutas selendang lurik.

Kejadian gantung diri itu diketahui Rabu (27/11) sekitar pukul 11.30. Keluarga korban Sunaryo (55) yang baru tiba di rumah curiga sebab rumah sepi. Saksi mencari korban tetapi tidak ada. Saat pintu kamar korban dibuka, korban ditemukan tergantung menggunakan selendang lurik warna hijau. Saksi yang ketakutan melaporkan pada tetangganya, Triatmo (60).

Baca : Hyundai Akan Tanamkan Investasi USD1,5 Miliar di Indonesia

Keduanya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek. Tim Polsek Cawas bersama dokter Novi Trisusanto memeriksa jazad korban tidak menemukan tanda penganiayaan tetapi lidahnya menjulur dan keluar sperma. Berdasarkan pemeriksaan dokter, korban meninggal murni gantung diri. Ciri-cirinya seperti lidah menjulur. Jenazah diserahkan ke keluarga untuk dimakamkan. Keluarga menerima dan sudah membuat pernyataan.

Menurut Kapolsek korban selama ini bekerja apa saja. Sudah menikah sekitar satu tahun tetapi belum memiliki anak.

” Dugaan sementara berdasarkan keterangan karena masalah ekonomi. Korban tertekan,” ungkap Kapolsek AKP Waleri. (Achmad H)

Baca : Dahulukan Upaya Persuasi Sebelum Tindak PKL

Editor : Budi Sarmun 

 

1 KOMENTAR

  1. Hati hati saat melewati perlintasan sebidang, sesuai aturan keselamatan semua wajib tengok kiri kanan pastikan kondisi aman dan sesuai dengan uu perkeretaapian semua wajib mendahulukan perjalanan kereta api.

Tinggalkan Pesan