Ratusan Warga Terdampak RUM Demo, Tuntut Ketegasan Pemkab Soal Penutupan

0
demo-pt-rum2
DEMO : Ratusan warg aterdampak limbah bau PT RUM menggelar aksi di depan pabrik tersebut. (suaramerdekasolo.com/Herus Susilo)

SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Ratusan warga terdampak limbah bau PT Rayon Utama Makmur (PT RUM) menggelar aksi demo di depan PT RUM, Selasa (10/12) siang. Mereka menuntut PT RUM menghentikan pencamaran dan Bupat mencabut izinnya.
Di depan gerbang pabrik, para peserta aksi menggelar orasi sembari membentangkan spanduk dan poster. Berbagai tulisan terkait dengan protes keberadaan PT RUM yang mengakibatkan limbah bau, mereka bentangkan.

Aksi sendiri tidak hanya diikuti oleh laki-laki saja, tetapi juga ibu-ibu. Mereka berada di depan sembari mengenak masker. Menurut peserta aksi, limbah bau yang dihasilkan oleh PT RUM sangat mengganggu dan meresahkan warga. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi kali ini saja, tetapi sudah sejak beberapa tahun lalu.

Karena itu, mereka menuntut agar PT RUM bertanggungjawab dan tidak lagi membuat limbah bau yan meresahkan warga.

Baca : Bupati Wonogiri Menanti Jadwal Gubernur, Terkait Limbah PT RUM

Selain meminta udara bersih warga juga mempertanyakan keseriusan Bupati dalam penanganan limbah PT RUM. Sepanjang aksi warga memukul kentongan berkali-kali. Sebelumnya kentongan tersebut selalu dipukul warga ketika bau rum mulai menyengat. Seorang ibu rumah tangga yang ikut dalam aksi sempat tidur di depan barisan polisi dan berkata, “Bau limbah PT RUM bikin tidak bisa tidur!,” teriaknya.

Kendati sempat turun hujan, warga masih kekeh untuk bertahan melanjutkan demo.
Forum Warga Terdampak PT RUM menyatakan,  bau limbah PT RUM di rasakan warga sejak Oktober 2017 silam. Namun, hingga kini, warga menuding tidak ada tindakan tegas perihal limbah bau PT RUM.

“Pemasangan alat CEMS dan Wet Scruber terbukti tidak mampu menghilangkan bau. Apalagi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo malah memberi pernyataan yang intinya meminta kami menunggu satu tahun lagi untuk perbaikan sistem pengolahan limbah,” kata Hirman, perwakilan aksi.

Baca : Minta Waktu 1 Minggu, Gubernur Jateng Turun Tangani Fasilitasi Pertemuan dengan PT RUM

Menurut dia, Ganjar hanya menganggap hal tersebut sebatas permasalah percemaran air saja. Padahal bau PT RUM sudah meneror warga sejak dua tahun silam. Pihaknya juga menuntut agar Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan Bupati Sukoharjo pada Februari 2018 dipenuhi. Yakni peningkatan saksi PT RUM jika masalah bau tidak teratasi.

Bupati Sukoharjo juga tidak ada bedanya dengan Ganjar. Alih-alih menaikan sanksi justru pemerintah tidak mau menutup PT RUM dengan alasan pekerja dan dampak investasi serta Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Bagi kami ini sulit diterima oleh akal sehat manusia,” imbuhnya.

Pihaknya tidak mengabaikan nasib pekerja PT RUM, namun hanya menuntut untuk bisa menghirup udara segar. Karena itu mereka menuntut penghentian pencemaran PT RUM, Bupati Sukoharjo segera mencabut izin lingkungan PT RUM dan menghentikan intimidasi aparat TNI-Polri dan Satpol PP terhadap mahasiswa dan warga di luar Kecamatan Nguter yang mendukung perjuangan warga.

Baca : Jika Terjadi Peristiwa Luar Biasa, Pemkab Wonogiri Bisa Gugat PT RUM

Tinggalkan Pesan