Laba Bank Daerah Turun Jadi Rp 6,4 Miliar

bank-daerah-karanganyar
FOTO ILUSTRASI

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Laba bersih Bank Daerah Karanganyar turun dari Rp 8,5 miliar menjadi hanya Rp 6,4 Miliar tahun 2019. Namun demikian setoran ke kas daerah malah naik dari target Rp 3,5 miliar menjadi Rp 3,74 miliar.

‘’Penurunan laba disebabkan hapus buku kredit macet yang berhasil ditagih kembali sebesar Rp 5,092 miliar dengan pertimbangan agar bisa menekan NPL (kredit macet/nonperforming loan) sebesar 14 % menjadi di bawah 5 % atau tepatnya menjadi 3,21 %,’’ kata Haryono, Dirut Bank Daerah Karanganyar, Jumat.

Dengan NPL yang sudah turun drastis di akhir tahun ini bank Daerah menjadi lembaga keuangan sangat sehat dan bisa terus berkarya menyumbang geliat ekonomi di lereng Lawu dengan baik, tidak seperti dulu.

Harus diakui Hary tidak ingin penampilan bank dengan aset Rp 377 miliar ini hanya semu saja, sehat namun ternyata utang tak tertagih menumpuk. Lebih baik NPL rendah dengan resiko laba menjadi turun karena ada hapus buku kredit.

Jika dihitung kasar, maka sebetulnya laba seharusnya sudah sekitar Rp 13 miliar, atau meningkat jauh dari tahun lalu namun dengan kondisi kredit macet yang masih terus menumpuk. Dan tentu saja itu tidak dia kehendaki.

Dia mengatakan, secara keseluruhan target bank milik pemkab Karanganyar itu terpenuhi semua. Kredit masyarakat Rp 329 miliar, meningkat dibanding tahun lalu hanya Rp 294 miliar, dan dana pihak ketiga juga naik menjadi Rp 300,78 miliar naik dari tahun lalu Rp 288,75 miliar. Indikator itu cukup menyatakan bank dalam keadaan sangat sehat.

Dia mengatakan, target tahun ini adalah mempersiapkan diri untuk berubah menjadi bank syariah. Sehingga bank Daerah akan menjadi satu-satunya bank milik daerah yang menerapkan sistem syariah, dan ini sudah direncanakan matang karena masyarakat Karanganyar yang memang dalam puncak religiusitas, sehingga kehadiran bank syariah akan sangat diharap.

‘’Januari 2021 sudah mulai saya launching dan operasional. Targetnya dalam enam bulan di tahun 2021 semuanya sudah beres sehingga total bank ini sudak menerapkan sistem syariah. Sehingga masyarakat yang mulai ingin bank yang menggunakan sistem syariah sudah bisa dilayani,’’ kata dia.

Hary yang bercita-cita ingin menjadikan bank ini beraset Rp 1 triliun di akhir jabatannya mengaku harus bekerja keras untuk mewujudkan cita-citanya. Dan dia mengaku sudah menyiapkan sejumlah rencana untuk menggaet nasabah untuk membesarkan bank ini.

Misalnya dia sudah merencanakan menggaet muslimat NU untuk mengembangkan wanita Karanganyar menjadi usahawan dengan kredit tanpa bunga, sehingga selain syar’i juga sekaligus bisa untuk menggaet mereka menjadi nasabah.

Caranya agar bank tetap tidak rugi meski tidak menarik bunga adalah dengan sistem angsuran titipan, sekaligus membayar kredit dan menabung, dan uang titipan mereka yang tanpa bunga itulah yang diputar di bank Daerah menjadi kredit biasa yang menghasilkan untuk menutup bunga.

Dia juga bercita-cita bank Daerah ikut membiayai proyek yang ada di Karanganyar. Ini cukup besar karena setahun setidaknya ada 100 proyek minimal yang dikerjakan di Karanganyar. Sangat ironis jika di antara proyek itu tidak ada yang dibiayai oleh Bank Daerah.

‘’Kan ini bank milik daerah, masak semua diserahkan ke BUMN semua? Saya siap sindikasi perbankan daerah untuk membiayai kreditur proyek yang besar jika diperlukan. Kenapa tidak bisa?’’ kata dia.

Sejumlah sumber dana bank sudah dia siapkan untuk digaet mulai dari tunjangan guru, tunjangan penghasilan pegawai, dan lainnya yang bisa digaetnya.(Joko DH)

Editor : Sri Hartanto

Tinggalkan Pesan