26 Sertifikat Tanah di Desa Mojorejo Bendosari Sukoharjo Digandakan

1
sertifikat-mojorejo-bermasalah
SERTIFAT TANAH DIGANDAKAN- Ketua Umum LAPAAN RI Jateng, BRM Kusuma Putra SH MH bersama timnya membeberkan 26 sertifikat tanah milik warga masyarakat di desa Mojorejo yang diduga disengaja oleh para oknum tertentu di Solo, Kamis (16/1). (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

*Pemilik Sertifikat Dianggap Sudah Meninggal Dunia

SUKOHARJO, suaramerdekasolo.com– Di Desa Mojorejo, Bendosari diduga ada mafia tanah yang melakukan praktik ”kotor” dengan maksud menggandakan sertikat hak milik (SHM). Hal itu terbongkar oleh Lembaga LAPAAN RI Jateng. Hasil temuan lembaga tersebut menjelaskan bahwa ada 26 SHM milik warga setempat digandakan dengan cara menggunakan nama orang lain. Cara menggandakan SHM berbagai macam, seperti membuat surat kematian pemilik SHM.

Berbekal Surat Keterangan Warisan (SKW) yang disahkan oleh perangkat desa, Kepala Desa Mojorejo, hingga Camat Bendosari, pemohon alas hak baru atau letter C akhirnya dapat mengantongi SHM baru. Padahal SHM yang digandakan tersebut, yang asli masih dipegang oleh pemilik atau pemegang SHM yang kini masih hidup.

Ketua Umum LAPAAN RI Jateng, BRM Kusuma Putra SH MH mengemukakan, dugaan pelanggaran pidana itu disinyalir dilakukan mulai dari perangkat desa, kepala desa hingga camat.

”Bahkan ada indikasi keterlibatan oknum pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sukoharjo. Sebab saat ada pengajuan pembuatan sertifikat baru melalui program PTSL, pegawai BPN tidak melakukan pengecekan, investigasi terhadap lahan yang akan disertifikatkan,” tegas Ketua Umum LAPAAN RI yang juga sebagai anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Surakarta tersebut, Kamis (16/1).

Sebanyak 26 sertifikat yang digandakan, Kusuma mencontohkan salah satunya SHM milik Panut Darmosemito di Desa Mesan RT 01 RW 02, Mojorejo, yang tanahnya telah dijual kepada Endang Suwarsi pada tahun 1987, sehingga hak kepemilikan SHM secara otomatis beralih dari Panut Darmosemito kepada Endang Suwarsi.

”Namun di tahun 2019, terbitlah surat kematian Panut Darmosemito dan SKW dengan ahli waris tunggal yang bernama Miyanto. Atas permohonan pembuatan sertifkat baru yang diajukan mulai dari Desa Mesan, Mojorejo hingga di BPN Sukoharjo, terbitlah SHM nomor 2205 atas nama pemohon yakni Miyanto,” jelas aktifis dan pegiat anti korupsi itu.

Apa yang terjadi ini, lanjut Kusuma, kasusnya hampir sama seperti yang dialami pemilik sertifikat asli lainnya yang kemudian sertifikat digandakan sehingga nama pemilik sertifikat sudah beralih ke orang lain.

”Dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen ini, akan saya laporkan secara resmi ke institusi penegak hukum agar kasus ini dapat diusut secara tuntas,” ungkapnya saat membeberkan kasus ini kepada Suara Merdeka.  

1 KOMENTAR

  1. Mohon ditindak lanjuti masalah tanah di kelurahan puhgogor ada beberapa korban yg dilakukan ex sekdes Kel puhgogor atas nama Suharno ,dengan mengambil sertifikat dari warga tegalmiri sebanyak 19 sertifikat dan dalih mau bantu untuk menjualkan tanah tsb dan sudah 2 tahun lebih TDK ada realisasinya dan setiap warga minta sertifikatnya ybs selalu menghindar sampai saat sekarang ,ybs sekarang jadi staf di kecamatan Bendosari bawahan camat Paulina ,mhn di bantu Krn saya curiga sertifikat tsb disalahgunakan ,terima kasih

Tinggalkan Pesan