Peristiwanya Viral Di Medsos, Residivis Pencuri 6 Kambing Asal Jumapolo Ini Dibekuk Aparat

residivis-curi-kambing
CURI KAMBING – Ristanto pelaku pencurian kmbing saat dipamerkan di depan awak media di Mapolres Karanganyar. Kapolres AKBP Leganek Mawardi saat menunjukkan samurai yang dipakai membantai kambing betina.(suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Ristanto (34) warga Jatirejo, Jumapolo, bikin geregetan. Pasalnya lelaki pekerja serabutan itu baru enam bulan keluar dari penjara LP Wonogiri, sudah mengulangi perbuatannya mencuri kambing milik tetangga desanya.

Bukan itu saja, kasus pencurian kambing juga pernah membawanya menikmati penjara LP Sragen 1 tahun lamanya pada 2016. Ternyata dua kali masuk penjara tidak membuatnya kapok. Dan untuk kali ketiga perbuatannya menyatroni tetangga desanya sendiri, membuatnya berurusan lagi dengan petugas keamanan.

Kapolres Karanganyar AKBP Leganek Mawardi mengatakan, menurut pengakuan tersangka Ristanto, dia sudah mencuri kambing 6 ekor dan 9 ekor dibantai untuk mengamankan aksinya. Dia dibantu rekannya Sugino (24) yang bertindak mengemudikan motor untuk mengangkut kambing curian itu.

‘’Dia memang hanya mengambil kambing jantan yang paling laku di pasaran dan dijual sekitar Rp 800.000 satu ekornya di pasar hewan. Sedangkan kambing betina dan anakan kambing (cempe) dibunuh di tempat,’’ kata Kapolres.

Dibunuhnya kambing betina dan anakan kambing itu bukan apa-apa, hanya karena tidak laku dijual. Dan itu dilakukan untuk menghilangkan jejak, sebab kambing tidak berbunyi. Dan menariknya kambing itu dibunuh di tempat.

Karena itu sempat viral di media sosial, pencuri meninggalkan kambing betina dan anakan kambing dalam keadaan sudah disembelih dan ditinggal begitu saja di kandang. Hanya kambing jantan yang hilang.

Atas perbuatannya itu, pelaku dikenai pasal 303 KUHP tentang pencurian, namun diusulkan ada pemberatan hukuman sebab pelaku residivis dengan kasus yang sama. Dia pernah dipenjara 2 kali, sehingga kasus di Polres Karanganyar ini kali ketiga sehingga hukumannya perlu ditambah. (Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan