Harga Ayam Terus Turun, Peternak Ancam Turun ke Jalan

0
harga-ayam-turun
HARGA TURUN : Para pedagang tengah melayani pembelian daging ayam ras di Pasar Gede Solo, baru-baru ini. (suaramerdekasolo.com/Vladimir Langgeng)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Lantaran harga ayam ras di pasaran anjlok, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia) Pedaging kembali mengancam bakal menggelar aksi demo.

Jauh sebelumnya, asosiasi itu pernah mengelar aksi di berbagai daerah dan membagi-bagikan ayam hidup pada masyarakat di pinggir jalan dan pasar unggas.

“Kami akan melakukan aksi demo lagi karena kondisi ini sudah terlalu lama. Sudah 17 bulan,” kata Ketua Pinsar Pedaging Jawa Tengah Parjuni ketika dihubungi melalui telepon selulernya di Solo, Senin (20/1).

Baca : Aparatur Sipil Negara Didorong Miliki Rumah

Menurut dia, selama ini para peternak mengeluhkan anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak lantaran ada “over suplai” di lapangan. Saat ini, ia mengatakan, harga ayam hidup lepas kandang terlalu rendah jika dibanding harga pokok produksi (HPP). Saat ini harga ayam hidup lepas kandang di kisaran Rp 13.500 hingga 14.500 per kg, sedang HPP di angka Rp17.500 hingga 18.000.Sebetulnya, lanjut dia, menjelang Natal 2019 harga sempat mendekati HPP, yaitu sekitar Rp 17.000 per kg.

Harapannya, saat itu paling tidak harganya bisa bertahan hingga tahun baru, tetapi setelah Natal harga terus turun sampai sekarang. Parjuni mengaku sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Kementerian Pertanian.Namun sejauh ini hasilnya kurang memuaskan. “Dulu sempat disepakati akan ada pengurangan tujuh juta bibit ayam di lapangan, kenyataannya hanya dikurangi lima juta ekor. Artinya, pemerintah tidak punya komitmen,” katanya.

Baca : Listrik Kantor Pelayanan Publik Solo Bakal Beralih Ke Premium

Dengan anjloknya harga tersebut, kata dia selanjutnya, peternak rakyat terus mengalami kerugian, bahkan hingga ratusan juga rupiah. Ia mencontohkan, dalam sebulan, dirinya bisa rugi rata rata sampai Rp 200 juta. “Kalau kondisi seperti berjalan selama 17 bulan, berapa besar total kerugiannya,” kata dia.

Pihaknya hanya berharap, pemerintah benar-benar bisa menjadi pengayom bagi peternak kecil dan tidak terkesan propengusaha besar yang saat ini ikut memproduksi bibit ayam. “Ibarat bapak, pemerintah mestinya melindungi peteranak. Masa 17 bulan terus merugi,” katanya.(Vladimir Langgeng)

Baca : REI Sambut Hangat Sosialisasikan Aplikasi SiKasep

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan