Sambut Hari Air, Klaten Rintis Desa Tangguh Bencana

peringatan-hari-air-klaten
RAPAT KOORDINASI : Para relawan bersama Prof Suratman diterima Bupati Sri Mulyani, Sekda Jaka Sawaldi di rumah dinas Bupati, baru-baru ini.(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Dalam menyambut Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2019 mendatang, para pegiat peduli sungai bertemu dengan Bupati Klaten Sri Mulyani di rumah dinas Bupati, untuk membahas gerakan masyarakat sadar bencana hingga tingkat desa.
Acara tersebut dihadiri Kepala Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) Fakultas Geografi UGM, Prof. Dr. Suratman, M.Sc, Kepala Sekolah Sungai Klaten yang juga Sekda Klaten Jaka Sawaldi, para relawan, Komunitas Peduli Sungai, pegiat Sekolah Sungai Klaten, dan Srikandi Sungai Indonesia (SSI) Klaten.
‘’Untuk peringatan Hari Air Sedunia, kami mempersiapan sejumlah agenda. Kami sepakat untuk terus menggerakan Sekolah Sungai hingga tingkat grassroot di level kecamatan dan desa,’’ kata Prof Suratman yang juga inisiator SSK, Selasa (21/1).
Menurutnya, Bupati Sri Mulyani sangat mendukung gerakan peduli air yang disinergikan dengan gerakan peduli bencana. Setelah Kabupaten Klaten dinyatakan sebagai Kabupaten Tanggung Bencana, maka akan perluas dengan aksi nyata pembentukan Kecamatan dan Desa Tangguh Bencana.
Pengelolaan air dengan membuat resapan, memanen air hujan, pengelolaan sampah dan lainnya merupakan bagian dari upaya pengurangan risiko bencana, khususnya banjir. Aksi komunitas dan relawan di Klaten sangat terkoordinir dalam upaya pengurangan risiko bencana dan penanganan bencana.
‘’Ibu Bupati ingin memperbanyak forum hingga tingkat desa, yang nantinya akan terbentuk keluarga tangguh bencana. Dengan adanya kecamatan, desa dan keluarga tangguh bencana, maka penanganan bencana akan lebih cepat dan meminimalisir korban,’’ ujar dia.
Sementara itu, aktifis SSK Arif Duad Hidayah menambahkan, rapat koordinasi dengan Bupati juga membahas merevisi SK SSK dan SK tim kerja SSK, penguatan peran rumah komunitas di Rawa Jombor sebagai pusat pelatihan dan pendidikan relawan dan lainnya.
Bupati Sri Mulyani merasa sangat terbantu dengan peran relawan dan komunitas yang sudah terbentuk di tingkat bawah. Gerakan dari bawah itu menjadi nilai plus dalam penanganan bencana di Klaten. Hal tersebut mendapatkan apresiasi dari Gubernur Ganjar Pranowo.
‘’Dalam forum bupati dan walikota, Pak Gubernur memuji penanganan dampak bencana di Klaten. Misalnya ada tanggul jebol, masyarakat dan relawan juga TNI/Polri akan langsung bergerak tanpa Bupati perintah. Mereka sangat cepat dan terkoordinir dengan baik,’’ tegas Bupati.
Dia menyambut baik rencana peringatan Hari Air Sedunia yang akan memfokuskan pada gerakan di tingkat bawah. Selama ini, Pemkab Klaten merasa sangat terbantu dengan adanya relawan dan komunitas di lapangan.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Samun

 

Tinggalkan Pesan