Ada 1.500 Janda Baru Di Lereng Lawu, Diputus Pengadilan Agama Karanganyar

0
janda-baru-karanganyar
PERESMIAN SIBACA – Ketua Pengadilan Agama Karanganyar M Daniel saat meresmikan Sibaca untuk mengetahui keaslian akta cerai.(suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Tahun 2019 lalu, sebanyak 1.953 kasus ditangani oleh Pengadilan  Agama Karanganyar. Di antaranya adalah 1.700-an kasus perceraian dan 1.500 di antaranya sudah diputus. Artinya ada sejumlah itu janda baru di lereng Lawu.  Angka itu setiap tahun berkisar sejumlah itu.

Demikian diungkapkan Ketua Pengadilan Agama Karanganyar M Daniel kepada wartawan usai peresmian Sibaca, sistem yang dikembangkan dengan sistem barcode untuk mengetahui keaslian akta cerai yang dikeluarkan PA Karanganyar.

Dia mengatakan,  aplikasi yang bisa diunduh melalui play store, maka akan keluar aplikasi untuk membaca barcode yang keluar di akta perceraian, untuk mengetahui asli atau tidaknya akta cerai. Sebab saat ini banyak kasus pemalsuan akta cerai untuk berbagai keperluan,’’ kata M Daniel.

Baca: Gedung Assessment Center Polda Jabar Resmi Beroperasi

Dia mengatakan, barcode itu meski dikeluarkan di PA Karanganyar namun sudah bisa digunakan oleh kota lain di seluruh Indonesia. Sehingga dengan Sibaca itu orang tidak perlu mengecek ke PA setempat untuk mengetahui keaslian akta cerai tersebut.

Daniel mengatakan, selain banyaknya kasus gugatan perceraian, PA juga terus menangani sisa kasus sisa dari gugatan cerai yang dilakukan masyarakat tersebut. Sebab kasus itu perlu diselesaikan dengan baik.

PA juga menerima permohonan untuk nikah dini di bawah 19 tahun. Di Karanganyar tahun 2019 ada sekitar 400, tertinggi di Solo Raya kasusnya. Setiap warga yang akan menikah di bawah usia itu memang wajib minta izin.

Baca : Swadaya, Warga Gali Terowongan Untuk Kembangkan Wisata

‘’PA ingin melindungi agar rumah tangga tetap bagus dan kebanyakan gugatan cerai itu salah satunya karena pernikahan dini. Sebab pasangan diakui belum cukup umur untuk berpikir berat soal rumah tangga. Meski ada juga cerai karena pendapatan istri naik tajam karena kasus sertifikasi guru, dan sebab lain.’’

Saat ini PA terus menerima permohonan kasus dispensasi pernikahan dini dari masyarakat. Meski kadang secara mental juga masih belum siap namun harus kita nikahkan karena sudah hamil dulu, atau sebab lain yang tidak memungkinkan ditolak.

Tentang barcode di akta perceraian itu karena kasus aduan masyarakat yang memang cukup banyak, dan kebanyakan berkaitan dengan permohonan nikah baru setelah cerai dan lainnya. Karena data barcode itu kita pakai data nasional yang sudah dikelompokkan perdaerah maka saat akan digunakan di luar Karanganyar akan muncul data barcode di daerah itu.

Pertengahan tahun 2019 ini PA Karanganyar sudah mengeluarkan barcode untuk seluruh akta cerai, dan akta cerai yang belum ber-barcode bisa datang ke kantor PA untuk dicetak ulang yang berbarcode.(Joko DH)

Baca : Musim Hujan di Wonogiri Terjeda, Ini Penyebabnya

editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan