Bersyukur, Belajar, dan Mencari Kebahagiaan

Basid-Burhanudin
FOTO DIRI : Basid Buthanudin, sekretaris BPC PHRI (Perhimpunan Hotel Dan Restoran Indonesia) Sukoharjo. (suaramerdekasolo.com/Vladimir Langgeng)

SEBAGAI sekretaris BPC PHRI (Perhimpunan Hotel Dan Restoran Indonesia) Sukoharjo, sekaligus panitia, tentu saja Basid Burhanudin sibuk mempersiapkan musyawarah cabang (muscab) asosiasi tersebut yang digelar di Solobaru, Rabu (22/1).
Ternyata, general manager Hotel Amrani Solo itu menjadi sekjen di dua tempat, yakni PHRI Solo dan PHRI Sukoharjo. Dia pun punya cerita.
“Awalnya untuk kepengurusan, saya di biro sosial PHRI Solo periode 2009-2013. Setelah itu menjadi sekertaris dua periode, 2013-2019 dan 2019-2023. Kebetulan waktu itu saya kerja di Hotel Pramesthi di Sukoharjo,” katanya mengawali ceritera.
“Waktu itu di Sukoharjo belum ada PHRI sebagai jembatan komunikasi industri pariwisata dengan pemerintah. Maka saya dengan Oma Nuryanto dari Omaya Hotel dan Frans dari Hotel Brothers membentuk BPC PHRI di Sukoharjo dengan dukungan dari PHRi Solo. Akhirnya di 2014 terbentuk PHRI Sukoharjo dan saya ditunjuk di sekertaris dengan modal pengalaman dari Solo.”
“Karena wujud tanggung jawab saya membentuk PHRI Sukoharjo, maka tugas saya sebagai sekretaris di Sukoharjo tetap saya laksanakan, meski mulai 2015 saya jadi GM hotel di Solo,” jelasnya.
Kendati jadi pengurus di PHRI boleh dibilang menghabiskan waktu tanpa ada hasil langsung, namun Basid tetap enjoy menjalani. Itu dilakukan semata-mata komitmen dirinya sebagai pengembangan profesi di perhotelan dan pariwisata.
Meski bukan manfaat langsung yang didapat, tapi dia mengaku mendapat manfaat tidak langsung yang melebihi nilai uang. Yaitu persahabatan yang luas, pengembangan ilmu yang selalu didapat dimana dia berada dan merasa senang bisa membantu teman-teman hotel yang membutukan masukan untuk.pengembangan hotel. Karena tdk semua hotel yang berdiri pengelolanya memahami tentang perhotelan secara utuh.
Sekarang yang sering dia bantu adalah tentang penyiapan sertifikasi bagi hotel. Sertifikasi ini wajib, namun banyak hotel yang belum memahami cara penyiapan sertifikasi. Biasanya dia datang ke hotel tersebut dan membimbing untuk membantu penyiapan sertifikasi dan masukan perbaikan agar hotelnya bisa menyandang sertifikasi bintang yang diinginkan.
“Yang sudah saya bantu penyiapan sertifikasi dari hotel nonbintang sampai bintang empat. Dan mungkin sudah sekitar duapuluhan hotel kami bantu penyiapannya,” jelasnya.
Basid kepingin bekerja di dunia perhotelan sejak kecil. Makanya selepas lulus SMP tahun 1994, dia mendaftar di Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) Kasatrian Keraton Surakartan. Gaji yang didapat serta tambahan bonus dan uang service menjadi alasan bekerja di situ.
“Saya mengenal kerja waktu dulu masih sangat jarang sekolah perhotelan. Karena sekolah di perhotelan maka punya semangat kerja di perhotelan,” kata lulusan S2 program pasca sarjana UnIversitas Islam Batik Solo itu.
Laki-laki kelahiran 31 Maret itu nampaknya syarat pengalaman berkarir di dunia perhotelan. Mulai dari petugas front office, sales marketing, hingga general manager. Cita-citanya pun meluas, dari semula cari uang untuk makan kini bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain. Bapak tiga anak itu punya pegangan hidup, yakni bersyukur, belajar, serta mencari kebahagiaan dunia dan akhirat.(Vladimir Langgeng)

Tinggalkan Pesan