Jadi Banker Cita-cita Sejak Kecil

banker

MENJADI banker adalah cita-cita Lusiana Sulistyowati sejak kecil. Apalagi dia juga dari keluarga banker, bapak dan salah satu kakaknya bekerja di perbankan.

Bahkan Lusi mengaku pernah mendapat pesan untuk meneruskan karir bapaknya di perbankan. Kebetulan basic pendidikan dia adalah ekonomi manajemen.

“Jadi cita-cita bekerja di bank memang sudah sejak kecil,” kata anak bungsu dari enam bersudara itu, Jumat (7/2).

Sebelum diangkat menjadi wakil pimpinan cabang BNI Slamet Riyadi Solo pada awal Januari 2016 dan pada pertengahan 2019 diangkat menjadi pimpinan di cabang yang sama, Lusi mengawali kariernya dari bawah. Masuk di BNI tahun 1995, dia menjadi teller di cabang Wonosobo.
Kemudian berlanjut menjadi costumer service di cabang Purworejo tahun 1997.

Selanjutnya menduduki posisi yang sama sebagai analis kredit sekaligus penyelia kredit untuk usaha di BNI SKC Semarang dari 1998 hingga 2010. Sebelum menjadi wakil cabang layanan/PBN di BNI Karangayu Semarang sampai Desember 2015, dia sempat menjadi kepala cabang pembantu (KCP) di Banjarnegara.

“Keinginan saya terus berkarir di BNI,” kata lulusan Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus dan SMAN 1 Semarang itu melalui pesan whatsapp.
Menurut dia, bekerja di bank tentu saja banyak tantangan, selain bertemu banyak orang/nasabah.

Tantangannya, bagaimana bisa menciptakan profit bagi bank pemerintah itu, yang tentunya juga akan memberi kesejahteraan bagi pemilik, pegawai bank, serta memberi manfaat bagi lingkungan bisnis di sekitar.

“Kerja dengan tulus dan iklas tanpa tendensi, itu menjadi pegangan saya,” kata perempuan cantik itu.
Ibu tiga anak itu merasa betah dan kerasan selama lebih dari tiga tahun bekerja di Solo. Keramahan dan keterbukaan orang-orang Solo menjadi salah satu alasan untuk lebih mudah menyatu dan bermasyarakat. Alasan lain, kuliner di Solo enak-enak. “Di Solo itu enak dan enak banget,” kata perempuan yang hobi bernyanyi itu.(Vladimir Langgeng)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan