Gua Jepang Tirtomoyo Pernah Jadi Tambang Tembaga

gua-jepang-tirtomoyo1
PENINGGALAN JEPANG : Seorang warga memasuki Gua Jepang di Dusun Dawuhan, Desa Hargorejo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Penjajah Jepang ternyata pernah membangun pertambangan tembaga di Kabupaten Wonogiri. Hal itu ditandai dari banyaknya terowongan bekas penambangan di Desa Hargorejo, Kecamatan Tirtomoyo.

Ada puluhan terowongan yang dibangun di masa penjajahan. Pada masa itu, area pertambangan dilengkapi dengan rel, kereta, dan gedung-gedung perkantoran. Namun, alat-alat pertambangannya kini sudah raib, sedangkan gedung-gedungnya tinggal menyisakan fondasi.

Sukino, pemilik lahan Gua Jepang di Dusun Dawuhan desa setempat mengungkapkan, gua-gua pertambangan zaman dahulu dioperasikan oleh para pekerja lokal. “Desa ini dulu ramai karena ada tambang tembaga,” katanya, baru-baru ini.

Mulut gua terlihat kecil. Tetapi, bagian dalamnya terdapat ruangan-ruangan besar. Sebagian kini tertutup longsor.

Para pekerja mengambil bebatuan dengan menggali terowongan di antara perbukitan Hargorejo. Kemudian diangkut menggunakan kereta menuju tempat pengolahan tembaga. Tempat pengolahan tembaga itu kini menjadi SD 3 Ngrejo, Desa Hargorejo.

“Listriknya diambil dari Kahyangan (air terjun di Desa Dlepih, Tirtomoyo) lalu disalurkan ke tambang,” terangnya.

gua-jepang-tirtomoyo2

Setelah Indonesia merdeka, Jepang meninggalkan pertambangan begitu saja. “Alat-alatnya tidak diketahui keberadaannya. Lubang-lubangnya sekarang jadi sarang kelelawar,” imbuhnya.

Praktisi pertambangan Tirtomoyo, Deni Suseno menerangkan, pertambangan tembaga di zaman Jepang dahulu dikerjakan dengan sistem underground minning atau penambangan dalam.

“Panjang terowongannya mungkin tidak sampai berkilo-kilo meter. Tetapi saya yakin uratnya (jalur mineralnya) memanjang sampai ke arah pegunungan,” katanya.

Menurutnya, Gua Jepang itu menyimpan potensi wisata sejarah dan edukasi. Pengunjung bisa mempelajari peninggalan penjajah sambil menikmati alam pegunungan yang asri dan sejuk.  (Khalid Yogi)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan