Kartu Kredit Dibobol Rp 134 Juta, Mengadu ke Bank BNI, BCA dan OJK

bobol-kartu kredit
MENGADU-Kuasa hukum LHJ, Kusuma Putra SH MH menyerahkan surat pengaduan ke Bank BCA Jalan Slamet Riyadi. Surat pengaduan diterima oleh petugas pengaduan konsumen kartu kredit, Jumat (14/2). (suaramerdekasolo.com/dokumentasi)

SOLO, suaramerdekasolo.com– Seorang wanita, LHJ (58) warga Colomadu, Karanganyar yang menjadi korban pembobolan kartu kredit, merasa was-was jika ditagih pihak Bank BNI dan Bank BCA. Sebab pada tanggal 21 Februari 2020 sudah jatuh tempo pembayaran kartu kredit.

Padahal sejak enam bulan dia tidak menggunakan kartu kredit dan pada Januari 2020 yang lalu, kartu kreditnya diketahui dipakai orang lainnya yang jumlahnya Rp 134 juta. Uang sebanyak itu digunakan pelaku untuk membeli berbagai barang di beberapa toko online.

Supaya dibebaskan sementara dari penagihan dan tidak terkena Bank Indonesia (BI) cecking, LHJ bersama kuasa hukumnya, Kusuma Putra SH MH menyampaikan pengaduan ke Bank BNI, Bank BCA, ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada Jumat (14/2).

”Kami datang ke Bank BNI, Bank BCA dan OJK selain meminta kepastian agar klien kami tidak ditagih uang atas penggunaan kartu kredit yang dibobol pelaku, juga menyerahkan foto copi surat pelaporan dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng,” terang Kusuma Putra mewakili LHJ, Sabtu (15/2) siang.

”Dari pihak bank, kami sudah menerima tanda bukti penerimaan aduan. Setelah itu, kami juga memasukan aduan ke OJK, sedang hal yang sama baru akan kami sampaikan ke Bank Indonesia (BI) pada Senin (17/2),” tambah pengacara yang kini sedang menyelesaikan pendidikan Program Studi Doktor (S-3) di Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung Semarang tersebut.

Kedatangan LHJ bersama pengacaranya agar pihak bank segera melakukan pemblokiran kartu kredit milik LHJ. ”Selain itu, kami juga mendesak agar pihak bank tidak melakukan penagihan pembayaran biaya penggunaan kartu kredit yang tidak dilakukan oleh klien kami. Termasuk, pengembalian limit kartu kredit milik klien kami,” jelasnya.

Terkait pengaduannya ke OJK, pengacara yang tergabung dalam Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Surakarta itu mengatakan agar lembaga pengawas perbankan itu dapat membantu menyelesaikan kasus pembobolan kartu kredit yang dialami LHJ.

”Selain itu, kami juga meminta kepada OJK turut melakukan investigasi agar kasus seperti yang dialami LHJ tidak menimpa customer lainnya. Mengingat, LHJ sebagai korban dan mau melapor apa yang sedang dialami saja membutuhkan waktu panjang, tenaga dan pikiran agar kasus ini dapat dituntaskan, termasuk petugas Ditreskrimsus Polda Jateng dapat segera mengungkap pelaku dan membongkar modus kejahatannya,” tandasnya.

Mengenai perkembangan kasus yang telah dilaporkan ke Ditreskrimsus Polda Jateng tersebut, Kusuma mengemukakan, bahwa kliennya telah mendapat panggilan dari penyidik untuk kelengkapan berkas laporan melalui telepon.

”Namun, kami masih menunggu panggilan secara tertulis dari penyidik karena kami menyampaikan laporan resmi ke Ditreskrimsus Polda Jateng beberapa hari yang lalu.”

Seperti diberitakan sebelumnya, LHJ (58), warga Colomadu, Karanganyar terkejut setelah dia menerima tagihan kartu kreditnya mencapai Rp 134 juta pada Januari 2020. Padahal, selama enam bulan, warga Colomadu itu tidak menggunakan kartu kreditnya untuk transaksi pembelian barang.

Kasus ini bermula, saat LHJ menerima tagihan melalui pesan email mencapai Rp 134 juta. LHJ memiliki empat kartu kredit, tiga dari bank BNI dan satu dari Bank BCA. LHJ menduga ada orang yang telah membobol keempat kartu kredit miliknya untuk membeli barang-barang secara online.

Terkait transaksi kartu kredit miliknya, LHJ mengatakan, terdapat dua transaksi yang mengakibatkan kerugian hingga Rp 134 juta. Pada 16 Januari 2020 ada 24 transaksi dengan jumlah kerugian Rp 120,2 juta. Sedang pada tanggal 19 Januari 2020, ada satu transaksi dengan kerugian Rp 13,9 juta. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan