Seperti Inilah Budi Daya Akar Wangi Berkekuatan 1/6 Kawat Baja di Wonogiri

akar-wangi-wonogiri
AKAR WANGI : Sejumlah petani Dusun Nglarang RT1 RW1 Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri memanen tanaman akar wangi, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Pemerintah akhir-akhir ini gencar mengampanyekan penanaman akar wangi atau rumput vetiver. Tanaman tersebut sangat efektif menahan erosi di lahan miring karena akarnya mampu menghujam dengan kedalaman hingga tiga meter di bawah permukaan tanah.

Sejumlah petani di Kabupaten Wonogiri ternyata telah lama membudidayakan tanaman tersebut. Selain berguna sebagai penguat tanah dan penahan erosi, akar wangi juga bisa diolah menjadi berbagai jenis kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

Seperti yang dilakukan Asef Indrianto, petani Dusun Nglarang RT1 RW1 Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Dia telah membudidayakan tanaman akar wangi sejak 2005 silam. “Tapi sebelum itu, masyarakat desa kami juga sudah banyak yang menanam,” katanya, baru-baru ini.

Tanaman sejenis rumput-rumputan bernama ilmiah vetiveria zizanioide itu mempunyai sejumlah kelebihan. Perawatannya sangat mudah, pertumbuhannya cukup cepat dan akarnya sangat kuat. “Kekuatan akar wangi setara 1/6 kekuatan kawat baja dan mampu mengikat tanah dengan baik,” katanya.

Oleh karenanya, tanaman tersebut banyak digunakan untuk memperkuat tebing atau tanah miring pada proyek-proyek besar. Dia mencontohkan, banyak tebing-tebing di tepi jalan tol yang ditanami akar wangi agar tanahnya tidak mudah terkikis atau longsor.

Pembibitan tanaman akar wangi dilakukan melalui tunas akarnya. “Pembibitannya melalui tunas akar, soalnya akar wangi tidak berbunga,” terangnya.

Tanaman yang telah berusia delapan bulan sudah mempunyai akar dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter di tanah keras. Panjang akarnya mampu mencapai 1,5-2 meter pada usia dua tahun.

Tanaman akar wangi yang sudah berusia delapan bulan tersebut sangat kuat. Bahkan, empat orang dewasa sekalipun tidak cukup untuk mencabut akar wangi sampai ke akar-akarnya. “Kalau mau panen, tanahnya harus digali dulu. Kalau dicabut sulit sekali,” ujarnya.

Para petani setempat menyuplai bibit-bibit akar wangi untuk proyek-proyek yang membutuhkan penguatan tanah. Dalam beberapa bulan ini, pesanan yang masuk mencapai 20.000 batang.

Pesanan datang dari daerah Kabupaten Blora, Pati, Kandang Menjangan, Kodim Wonogiri dan lainnya. Ada juga yang pesan untuk proyek jalan tol. “Harganya Rp 2.000-4.000 per ikat sesuai besar kecilnya bibit. Lahan yang saya tanami akar wangi seluas tiga hektare,” imbuhnya.

Tanah yang baru digarap proyek, tanah miring, atau tanah yang baru diuruk biasanya masih labil. Agar tanah cepat stabil dan mencegah erosi, tanahnya ditanami akar wangi.

Selain dijual dalam bentuk bibit untuk penguat tanah, tanaman akar wangi juga dimanfaatkan akarnya. Tanaman tersebut dapat disuling untuk diambil minyaknya. Adapun akarnya bisa digunakan untuk membuat berbagai bentuk kerajinan.

Tinggalkan Pesan