Konseling Spiritual Jadi Alternatif Penguatan Karakter

guru-besar-uns
FOTO DIRI / Prof Dr H Asrowi MPd

* Prof Dr Asrowi Dikukuhkan Guru Besar

SOLO,suaramerdekasolo.com – Kemajuan Ilmu dan Teknologi era 4.0 dan era Society 5.0 harus dibarengi kekuatan spiritual keagamaan agar kehidupan tidak terpisah dengan nilai karakter. 

Hal itu dikemukakan Prof Dr H Asrowi MPd yang pagi ini dikukuhkan menjadi guru besar UNS ke -218 dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

 “Disadari atau tidak, spiritual keagamaan sebagai sumber kebahagiaan yang selama ini diabaikan banyak orang. Ada kecenderungan masyarakat ingin menata kembali kehidupan secara pribadi keluarganya maupun social kemasyarakat dengan landasan spiritual agama (back to religioin) atau kembali ke agama,” kata Prof Asrowi.

Ditambahkan, bahwa kompleksitas problem di era globalisasi dunia memang sulit dikendalikan, melaju dengan kecepatan yang sangat dahsyat dan menimbulkan maslah moral dan karakter. Keluarga, sekolah dan masyarakat perlu mengantisipasi dinamika akselerasi ini agar tidak kehilangan nilai-nilai edukatif yang seharusnya menjadi tanggungjawab bersama. Konseling spiritual karakter dibangun atas dasar asumsi bahwa manusia adalah ciptaan Allah.

 “Secara umum spiritual karakter era Society 5.0 dilakukan dengan tujuan untuk memfasilitasi dan meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan kesadaran beragama, kesadaran teknologi tanpa mengurangi kesempurnaan hidup sejati, yaitu manusia yang cerdas berkarakter, sehingga mampu mencapai kehidupan yang bermakna dunia akherat,” kata sosok santun kelahiran Ngawi, 8 Agustus 1955 ini. 

Ia mengemukakan, banyak kalangan elite merasakan keberlimpahan harta dan materi namun ternyata hal itu bukan jaminan mencapai kebahagiaan batiniah.Pengukuhan Prof Dr Asrowi MPd sebagai Guru Besar Bimbingan Konseling ibarat meneguhkan dirinya sebagai sosok Begawan Pendidikan Konseling.

  Dalam Orasi Ilmiahnya yang berjudul “Konseling Spiritual Sebagai Alternatif Penguatan Karakter Era 5.0 di Bidang Pendidikan”, Prof Asrowi menyoroti ada empat tujuan konseling spiritual karakter. Yang pertama yakni Meaning of Live, yaitu orang harus mampu mencapai kebermaknaan hidup, yaitu hubungan manuasia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia.

Kedua, instrinsik Value yakni manusia scara naluriah dituntut kebahagiaan dan nilai-nilai moral yang harus dipertimbangkan. Apabila nilai-nilai tersebut tidak terwujud, maka akan mengalami disintegrasi moral yang berdampak kepada munculnya tekanan kejiwaan. Yang ketiga yakni transedental atau tingkatan ibadah kepada Allah. Manusia diciptakan dengan naluri beragama.

Apabila manusia tidak beragama, secara psikologis terkena diskualifikasi (tidak memenuhi syarat) karena manusia tergantung kepada Allah. Tujuan keempatnya, community of share value and support, yaitu setiap naluri mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, karena setiap manusia diberi sifat-sifat Tuhan sebagai sarana untuk membangun karakter manusia melalui pendidikan (konseling Spiritual).

  Menurut sosok santun nan sederhana ini, dampak era Society 5.0 saat ini semakin keras. Orang semakin malas, depresi semakin tinggi karena tidak bisa mengikuti perkembngan zaman. Bahkan kemungkinan banyak yang mengembangkan perilaku yang tidak sehat, banyak melanggar norma agama dan tata susila karena agama dianggap bukan soslusi perkembangan teknologi.

Maka dengan ini, konseling spiritual untuk membantu dan menghidupkan mengembalikan krisis religius, melatih kepekaan batin dan iman seseorang menuju karakter yang sehat serta perilaku yang aman. Keberadaan Spiritual Konseling untuk menata masa depan. (Evie Kusnindya)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan