Nongkrong, Warga Sragen Diminta Bubarkan Diri

bubarkan-kerumunan-sragen
BUBARKAN TONGKRONGAN- Kapolres AKBP Raphael Sandy Cahyo Priambodo Selasa malam membubarkan pembeli yang nongkrong di warung hik di kawasan shopping centre Sragen, karena menimbulkan kerumunan orang.(suaramerdekasolo.com/Anindito AN).

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Pembeli di warung hik di kawasan shopping centre Sragen yang menimbulkan kerumunan, dibubarkan polisi. Para pembeli diminta membawa pulang makanan yang sudah dibelinya dan tidak berkerumun, karena hal itu menimbulkan kerawanan untuk penyebaran virus korona.

”Makanan yang dbeli, dibawa pulang saja,” tutur Kapolres AKBP Raphael Sandy Cahyo Priambodo.

Untuk mencegah menularnya virus korona, semua aparat Pemkab dan Forkompimda Sragen menempuh berbagai cara

. Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati setelah meliburkan semua siswa di Sragen dan menekankan social distancing, kini bupati yang akrab disapa Yuni itu mengimbau rumah makan mebuka layanan take away (bawa pulang).

“Supaya pembeli tidak bergerombol di rumah makan,” tutur Yuni. Bupati Yuni didampingi Wabup Dedy Endriyatno beserta Forkompimda, Selasa (24/3) malam lalu juga menggelar patroli bersama.

Patroli yang melibatkan TNI/Polri, Satpol Pamong Praja, Kesbangpol, BPBD dan Dispora menghimbau kerumunan di lokasi wedangan hik atau warung, untuk membubarkan diri.

“Boleh membeli kebutuhan di wedangan atau warung hik, namun segera dibawa pulang,” pinta Yuni kepada penjual wedangan Sulis yang mangkal di kawasan Shopping Centre Sragen.

Yuni juga memesan 15 bungkus bakmi dan nasi goreng untuk dibungkus, karena melihat penjual bakmi sepi pembeli.

Kapolres AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo didampingi Sekda Tatag Prabawanto mendekati sejumlah penjual warung hik dan bakmi di kawasan shopping centre sambil berpesan agar pembeli diminta membawa pulang jajanan. Sehingga tidak nongkrong bareng yang menimbulkan kerumunan massa.

Tidak Dilarang

Bupati Yuni yang berada di kawasan shopping centre itu mengaku tidak sampai hati untuk melarang pedagang kecil berjualan. Karena jika sampai dilarang, lanjut Yuni maka pendapatan mereka sehari-hari dari berjualan akan terganggu. Hal itu bisa berdampak terhadap perekonomian keluarga.

Namun Yuni juga berharap agar penjual warung hik dan bakmi di kawasan shopping centre, bisa bekerjasama dan mendukung himbauan pemerintah meminta para pembelinya tidak bergerombol dan bisa menjaga jarak antar orang minimal satu meter.

Himbauan serupa ditujukan untuk pemilik rumah makan agar menerapkan sistem take away (bawa pulang) makanan.

“Kalau dilarang ya tidak mungkin, karena mereka mencari makan. Kalau tidak berjualan untuk menghidupi keluarganya, bagaimana nanti,” celetuk Yuni.

Rombongan bupati, wabup dan forkompimda yang melakukan patroli membubarkan kerumunan orang kemudian bergerak menuju arah Jl.Dr Sutomo, kemudian belok kanan dan tembus di Jl. A Yani. Patroli itu berhenti di titik kerumunan masyarakat, seperti warung dan rumah makan di tepi jalan.

Menurut data Kapolres AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo hingga kemarin jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) karena virus korona di Sragen ada tiga orang. Ketiga pasien itu dirujuk di RS dr Muwardi Solo. Sedangkan Orang Dalam Pengawasan (ODP) karena datang dari luar kota mencapai 200 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Sragen dr Hargiyanto mengatakan, saat ini kalau ada orang mengalami flu, batuk dan demam sudah dikategorikan ODP.

“Karena gejalanya mirip penyakit akibat virus korona,” tuturnya.(Anindita AN)

Editor : Sri Hartanto

Tinggalkan Pesan