Tanpa Ujian, Siswa SD dan SMP Karanganyar Langsung Lulus

0
nyemplu-pawiyatan-smkn-jenawi-karanganyar
SOSIALISASI : Siswa kelas XII SMKN Jenawi mendengarkan paparan dari komisioner Bawaslu Karanganyar dalam acara Sosialisasi Pengawasan Partisipatif "Nyemplung Pawiyatan" di aula sekolah tersebut, Kamis (12/3). (suaramerdekasolo.com/Irfan Salafudin)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Akibat pandemi Covid-19 ini, ada keuntungan bagi siswa SD dan SMP. Sebab tanpa ujian baik ujian akhir maupun ujian akhir kelas, mereka langsung dinyatakan lulus bagi siswa kelas III dan langsung naik bagi siswa kelas I dan II.

Hal itu dikemukakan Tarsa, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar, menyikapi perkembangan dunia pendidikan saat ini. Sebagai tolok ukur, adalah prestasi harian sebelumnya yang diukir para siswa dan diketahui guru.

‘’Memang di satu sisi tetap ada positifnya. Anak tidak perlu berpayah-payah belajar, tapi langsung lulus dan naik kelas. Guru juga tidak perlu berpayah-payah untuk menyiapkan soal ujian dan koreksi, cukup prestasi harian anak, yang tentu guru sudah hafal,’’ kata dia, Senin (4/5).

Baca : Stok Pakan Koleksi TSTJ Surakarta Diprediksi Tinggal Dua Bulan, Penggalangan Dana Segera Digalakkan

Begitu pula saat pendaftaran peserta didik baru nanti. Tentu tidak ada syarat angka prestasi ujian nasional karena sudah dihapus, namun hanya angka hasil rapor dan ijazah saja yang dipakai untuk mendaftarkan ke sekolah lanjutan.

‘’Rencananya hasil ujian yang jelas sudah lulus semua akan diumumkan tanggal 5 Juni dan kemungkinan juga akan diberikan ke orang tua lewat pos atau lewat online untuk mengurangi kerumunan di sekolah, sedangkan penerimaan siswa baru akan dilakukan sekitar 20 Juni,’’ kata dia.

Baca : Tinggal Satu Pasien Covid-19 yang Dirawat di RSUD Wonogiri

Tarsa menambahkan, sistem yang dipakai untuk PSPB nanti masih menggunakan sistem tahun lalu, yakni sistem zona A merupakan siswa sekitar se RW dan se desa, baru zona B se kecamatan, zona C se kabupaten, zona  prestasi yang bisa antar kabupaten, ditambah zona afirmasi sebesar 20 persen untuk zona anak miskin di sekitar sekolah sebesar 20 persen, yang jika tersisa akan ditambahkan untuk zona prestasi.

‘’Yang untuk zona afirmasi itu untuk mengadopsi calon siswa yang dulu menggunakan SKTM (Surat tanda kurang mampu) yang menghebohkan dulu. Ini sudah jelas kuotanya 20 persen tapi jika ketahuan dicek silang tidak keluarga kurang mampu akan dikeluarkan,’’ kata dia.

Sedangkan karena wabah ini, maka penggunaan dana BOS (biaya operasional sekolah) tetap bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan penggunaannya sudah ada aturannya. Jika sisa maka dana BOS akan menjadi silpa (sisa lebih pemakaian anggaran yang kembali ke kas negara.(Joko DH)

Baca : PT SHA Peduli Fakir Miskin dan Kaum Dhuafa

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan