Difabel Tuna Rungu Wonogiri Memproduksi Masker Transparan, Ini Tujuannya

masker-transparan-wonogiri
MASKER TRANSPARAN : Bupati Wonogiri Joko 'Jekek' Sutopo bersama relawan dan penyandang disabilitas tuna rungu memamerkan masker transparan di pendapa Kabupaten Wonogiri, Senin (4/5). (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Sejumlah penyandang disabilitas tuna rungu atau tuli di Kabupaten Wonogiri berinisiatif membuat masker transparan. Masker tersebut tembus pandang, sehingga gerak bibir pemakainya akan terlihat.

Hal itu mempermudah penyandang disabilitas tuna rungu untuk saling berkomunikasi.

Pembuatan masker transparan itu diinisiasi oleh juru bahasa isyarat asal Wonogiri, Eka Sari Utami, Siska dan penyandang disabilitas tuna rungu Sutantini.

Inovasi itu berawal dari kesulitan para penyandang tuna rungu ketika lawan bicaranya mengenakan masker yang menutupi mulut.

Alhasil, mereka kesulitan membaca gerak bibir lawan bicaranya.

Mereka kemudian mendapatkan informasi, bahwa di Amerika Serikat ada masker yang dibuat khusus untuk penyandang disabilitas tuna rungu.

Mereka kemudian juga mengetahui bahwa di daerah Makassar ada yang sudah bisa membuat masker transparan.

Selanjutnya, Sutantini penyandang tuna rungu warga Pakis RT1 RW9 Kelurahan Wuryorejo, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri yang juga berprofesi sebagai penjahit mencoba membuat masker transparan.

Mereka beberapa kali mencoba membuatnya. Bahan yang digunakan antara lain kain toyobo, tali kur, stoper dan mika bening. Setelah beberapa kali uji coba, akhirnya mereka bisa membuat masker transparan yang bisa menutup hidung dan mulut.

Biaya produksinya dibantu dari para donatur dan beberapa komunitas. Untuk masyarakat umum, masker itu dihargai Rp 15.000 per unit.

Khusus bagi penyandang disabilitas tuna rungu mendapatkan donasi untuk mengganti biaya produksi. Sejumlah komunitas tuna rungu telah memesan masker tersebut.

Bupati Wonogiri, Joko ‘Jekek’ Sutopo mengapresiasi kreatifitas para relawan dan penyandang disabilitas tuna rungu.

“Pak Bambang (kepala BPBD Wonogiri) melapor ke kami. Alhamdulillah kami bisa bertemu dan berdiskusi (tentang masker transparan),” katanya usai menemui para relawan dan penyandang disabilitas tuna rungu di ruang kerjanya, Senin (4/5).

Dalam diskusi itu, para relawan dan penyandang disabilitas mengaku terkendala keterbatasan dana dan sumber daya manusia untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Oleh karenanya, Pemkab akan mengalokasikan anggaran guna membeli masker transparan kemudian dibagikan kepada 1.687 penyandang disabilitas tuna rungu di Kabupaten Wonogiri. Adapun biaya produksinya sekitar Rp 7.500 per unit.

Selain itu, sekitar 20 orang relawan akan dikerahkan untuk membantu percepatan produksi. Mereka terlebih dahulu dilatih di Balai Latihan Kerja (BLK) selama beberapa hari.

Setelah itu bisa langsung memproduksi masker transparan.

“Kalau sudah jalan, dalam waktu 10-12 hari, kebutuhannya sudah bisa terpenuhi. Kalau pesanan tahap pertama sudah selesai, kami akan lanjutkan pesanan tahap ke dua, agar bisa ganti masker,” katanya. (Khalid Yogi)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan