Kehilangan Uang Rp 21,6 Miliar, Korban Minta Hakim Adil

0
MINTA KEADILAN- Pemilik uang Rp 21,6 miliar, Roestina Cahyo Dewi yang uangnya habis diambil Waseso di Bank UOB minta hakim adil dalam memutus perkara kejahatan perbankan di PN Surakarta, Rabu (6/5). (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

SOLO, suaramerdekasolo.com- Sidang perkara dugaan kejahatan perbankan dengan terdakwa pegawai Bank UOB Solo, Vincensius Hendry, Meliawati dan Natalia Go memasuki tahap pemeriksaan saksi.

Sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta, pada Rabu (6/5), pemilik uang tabungan Rp 21,6 miliar yakni Roestina Cahyo Dewi meminta majelis hakim yang diketuai H Muhammad SH MSH, adil dalam memutus perkara ini. Sebab akibat kekuranghati-hatiannya peran ketiga terdakwa, uangnya Rp 21,6 miliar dengan mudah diambil oleh Waseso selama 18 kali pengambilan.

”Dengan memalsukan tanda tangan saya serta tanpa menyertakan KTP asli saya, Waseso dengan mudah menarik uang saya yang saya simpan di Bank UOB,” terangnya di hadapan majelis hakim.

Selama pengambilan uang, Dewi mengaku tidak diberi rekening koran hingga saat ini oleh pihak bank. ”Seharusnya saya diberi rekening koran sesuai alamat saya yang terdaftar di bank. Kalau pihak bank beranggapan sudah memberi tahu saya terkait penarikan uang tersebut, tentunya pihak bank akan mengulangi tanda tangan saya sesuai dengan spesimen contoh bukti tanda tangan saya yang disimpan di bank,” urai pengusaha Garmen yang tinggal di Mojosongo, Jebres itu.

Owner PT Ladewindo itu kembali menegaskan rekening koran yang tidak kunjung dikirim ke rumahnya membuat perkara ini berlarut-larut. Dia menjelaskan apabila sejak awal rekening koran dikirim alamat, pemalsuan tanda tangan yang dilakukan Waseso akan cepat ketahuan.

Justru yang dia ketahui belakangan, uangnya yang diambil Waseso dipindah pembukuan ke rekening Waseso baik di Bank UOB maupun pemindahan buku tabungan ke bank lainnya. Pemindahan uang ke bank lain yang dilakukan Waseso, oleh Dewi diperlihatkan ke majelis hakim disaksikan pihak terdakwa yang diwakili kuasa hukumnya, Zainal Arifin SH maupun jaksa penuntut umum (JPU) Rr Rahayu Nur Raharsi SH.

Terkait perkara dugaan kejahatan perbankan ini, Zainal Arifin sebagai penasihat hukum terdakwa, mengatakan saksi korban telah mengizinkan kepada Waseso untuk memalsukan tanda tangan saksi korban.

Menurutnya, dalam pengambilan uang yang dilakukan Waseso telah ada persetujuan dari Roestina Cahyo Dewi lengkap dengan bukti tertulis. ”Berdasar keterangan dalam sidang, Waseso memalsukan tanda tangan karena sudah mendapatkan izin dari Roestina Cahyo Dewi. Surat izin yang tertulis dalam satu lembar kertas dan disertakan foto kopi KTP Dewi telah ditunjukan dalam persidangan,” papar pengacara yang tinggal di Kebakkramat, Karanganyar tersebut.

Ditambahkan Zainal, setelah uang milik saksi korban dapat diambil, kemudian oleh Waseso dipergunakan untuk membayar karyawan Dewi dan proses pengambilan uang itu sudah sesuai prosedur.

Surat izin dari Dewi yang disertai tanda tangannya itu, lanjut Zainal, berdasar keterangan Waseso asli dan siap untuk dilakukan uji laboratorium. ”Hanya saja surat izin atau persetujuan dari Dewi untuk memperlancar pengambilan uang yang dilakukan Waseso tersebut baru ditemukan belakangan ini, dan belum pernah ditunjukkan dalam sidang saat Waseso diperkarakan dalam perkara tindak pidana pemalsuan tanda tangan Dewi hingga yang bersangkutan dihukum selama tiga tahun dalam putusan Mahkamah Agung (MA) pada tahun 2017.

Hanya saja, Roestina Cahyo Dewi yang dikonfrontir dalam sidang, mengaku terkejut munculnya surat izin tersebut yang seolah-olah dia mengizinkan Waseso memalsukan tanda tangannya untuk pengambilan uang di Bank UOB. ”Saya tidak pernah membuat surat izin tersebut dan saya meminta agar surat tersebut dilakukan uji laboratorium untuk menguji keasliannya,” terang Dewi dalam penjelasannya saat dikonfrontir. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan