Pendataan Sembako Bantuan OPD di Wilyah Plupuh Sragen Tak Seimbang Warga Ricuh

bantuan-blt-sragen
RAPAT : Para perangkat Desa Sambirejo Kecamatan Plupuh, Sragen rapat untuk membahas permintaan sembako permohonan warga. Jatah sembako di Desa Sambirejo minim, tidak sesuai jumlah permintaan.(suaramerdekasolo.com/Anindito AN)

SRAGEN,suaramerdekasolo.com -Jumlah calon penerima bantuan sembako dari organisasi perangkat daerah (OPD) di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Plupuh, ternyata njomplang.

Karena jumlah penerima dari desa satu sangat terpaut jauh dibanding desa lainnya. Akibatnya warga protes.

”Saat dilakukan pendataan bagi calon penerima sembako di Balai Desa Sambirejo, Plupuh, sempat tegang,” tutur Prihandoko, Kades Sambirejo, Kecamatanb Plupuh, Senin.

Sejumlah warga Desa Sambirejo yang tidak terdata pun mengajukan protes ke Ketua RT dan Bayan Desa. Bantuan sembako rencananya diberikan dari Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Pemkab Sragen.

Bantuan di antaranya dari dana Dinas Koperasi, Disperindag, Disnaker dan Dinas Perhubungan yang dialihkan untuk mengatasi dampak Covid-19. Setiap paket sembako nilainya sekitar Rp 200.000.

“Saat pendataan banyak warga protes, karena tidak kebagian,” tutur Prihandoko, Kades Sambirejo Kecamatan Plupuh saat ditemui.

Dikatakan banyak warga Desa Sambirejo mendatangi Ketua RT dan Bayan meminta agar dijatah kupon untuk mendapatkan bantuan sembako dari dana OPD.

Tapi para Ketua RT dan Bayan angkat tangan, karena jumlah kuota Desa Sambirejo yang menerima jatah hanya 36 orang, bahkan kemudian berkurang lagi menjadi 19 orang. Sedangkan yang minta puluhan orang.

Hal itu memicu kericuhan. Jumlah penerima bantuan sembako tiap desa di Kecamatan Plupuh, terdapat perbedaan mencolok. Prihandoko menuturkan Desa Gedongan mendapat jatah 709 paket, Desa Sidokerto 407 paket dan Desa Jabung 254 paket.

Sedangkan Desa Somomorodukuh, lanjut Prohandoko hanya 2 paket. Jatah Desa Sambirejo 19 paket, Desa Ngrombo 4 dan Desa Karangwaru 8 paket. Untuk Desa Dari hanya 7 dan Desa Pungsari 13, Desa Manyarejo 11 paket.

Total jumlah penerima ada 1.619 paket. Tapi setelah diverifikasi ulang, jumlah penerima tinggal 1.356 paket. Sisanya 263 paket yang semula dikurangi, kini dikembalikan lagi untuk dibagikan ke desa-desa di wilayah Kecamatan Plupuh.

“Karena perolehan desa satu dengan desa lain di Kecamatan Plupuh cukup jomplang, sehingga banyak warga yang protes,” ungkap Hanjus, sapaan akrab Prihandoko.

Karena sering didatangi warga yang tidak terdaftar sebagai calon penerima bantuan, lanjut hanjus sejumlah Ketua RT di Desa Sambirejo menyatakan ingin mengundurkan diri.

Menurut Hanjus, kades, kadus hingga Ketua RT bisa-bisa dianggap warga tidak bisa mencarikan bantuan sembako.

Camat Plupuh Sumarno saat dimintai konfirmasi mengatakan pendataan calon penerima sembako diterima dari Kantor Dinas Koperasi dan Disperindag Sragen.

“Mereka yang tahu datanya, siapa saja warga yang terdampak Covid-19 dan berhak menerima sembako dari OPD,” tutur Sumarno.

Disebutkan di Desa Gedongan jumlah penerimanya ada 709 orang, sedangkan di Desa Somomorodukuh hanya dua orang, karena banyak warga Desa Gedongan bekerja di sektor garmen dan batik yang di PHK, karena usaha garmen dan batik tutup.

Desa lain yang mendapat jatah cukup besar warga Desa Sidokerto 407 paket dan Desa Jabung 254 paket. Sedangkan di Desa Somomorodukuh hanya mendapat jatah dua paket, karena masyarakatnya banyak yang bekerja sebagai petani dan tidak terdampak Covid-19.(Anindita AN)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan