Rasionalisasi Mitologi Covid-19

Dr. Bramastia, Direktur Boyolali Risearch and Analysis Movement (BRAM) Institute. (suaramerdekasolo.com/dok)

Oleh : Dr. Bramastia, M.Pd*

Di tengah muncul penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), gunung Merapi menyembur awan panas yang bentuknya konon menyerupai wajah tokoh pewayangan bernama Semar. Beredarnya viral awan panas menyerupai Semar sontak menjadi pergunjingan mengingat pandemi Covid-19 belum tahu usainya kapan. Konon menurut kepercayaan Jawa Mataraman, awan panas menyerupai Semar menandakan bencana (pagebluk) yang saat ini melanda dunia dan seluruh nusantara (saat ini Covid-19) mulai akan berakhir.

Dalam mitos pewayangan tanah jawa, sosok Semar menjadi panutan orang Jawa. Istilah Semar sebagai “Sang Pamomong” sudah melekat dalam benak orang Jawa yang merindukan kehangatan dari seorang pemimpin. Kemampuan Semar konon mampu menentramkan nusantara dari berbagai macam bencana dan cobaan yang datang silih berganti. Termasuk badai Covid-19 yang menjadi “sihir” menakutkan semua orang agar kembali berdzikir, ingat sang Pencipta, tidak boleh sombong dan jangan ‘kedunyan” atau hanya memikirkan keduniawian semata.

Menurut pandangan penulis, muncul awan panas menyerupai Semar memang melahirkan mitos akan berakhirnya bencana Covid-19. Semar kini menjadi mitos baru yang melahirkan harapan baru pula dengan dilukiskan akhir bencana Covid-19 melalui fantasi dan ingatan yang menakjubkan publik. Seiring perkembangan dan situasi mengganasnya penyebaran Covid-19, mitos Semar mendapat sentuhan intelektual maupun rasionalitas, dimana orang kini mulai optimis dan tidak takut dengan wabah bernama Covid-19.

Baca : Komentar Ki Djoko Tentang Fenomena Munculnya Awan Panas Erupsi Merapi Mirip Eyang Semar

Intelektualisasi mitos atas Semar akan menghantarkan pada tahap lanjut bernama rasionalisme. Kegelisahan manusia telah ditangkap Semar, yang dikemas melalui mitos bagi orang Jawa guna bersedia menerima segala sesuatu secara rasional. Berbagai relung religiusitas lantas dipadu dengan bukti rasional sebagai strategi mitos Semar yang melakukan jalan pembenaran dalam konteks ilmiah. Alhasil, munculnya awan panas yang menyerupai Semar menuai rasa optimisme rakyat bahwa pademi Covid-19 akan segera berakhir.

Rasionalisasi Mitos

Fenomena munculnya awan panas menyerupai Semar yang dimaknai Covid-19 akan berakhir tentu sangat tragis, karena sikap pemerintah yang maju mundur mengeluarkan kebijakan Lockdown atau istilah apapun. Terlepas dari semua kebijakan pemerintah saat ini, rakyat menjadi gagal paham membedakan antara pembenaran dengan rasionalitas. Secara teori tentu saja beda antara pembenaran dan rasionalitas yang terletak sejauh mana kebenaran diterima secara rasional.

Makna pembenaran bahkan mampu mengusut kebenaran hingga akar-akarnya. Sebaliknya, makna rasionalitas lebih memberikan tekanan sesuatu kepercayaan kebenaran yang secara umum sesuai dengan akal budi. Lantas, apa sadar rakyat kita saat ini?

merapi-meletus-pertanda-pagebluk-berakhir
FOTO/DOK

Kalau kita mau membaca buku The Origin of the Idea of God, Wihelm Schmidt menyatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan perlahan luntur karena manusia merasa bahwa Tuhan sangat Agung, Suci, dan tidak mampu termaterialkan dalam kehidupan manusia. Barangkali, realitas inilah yang kemudian membuat manusia ingin menggantikan Tuhan dengan “tuhan” yang lebih rendah, lebih dekat, dan hadir dalam menjawab kebutuhan dan kehidupan sehari-harinya.

Ketidakjelasan sikap pemerintah dalam mengantisipasi pademi Covid-19 yang membuat rakyat manusia mulai mendekati “tuhan” yang punya kedekatan secara fisikal maupun psikologis dan mampu menolong kehidupan keseharian mereka.

Baca : “Penampakan” Mirip Eyang Semar di Letusan Gunung Merapi, Pertanda Apakah ?

Ruang kosong inilah yang diambil pemuja mitos untuk melakukan rasionalisasi ke publik yang penulis sebut sebagai rasionalisasi mitologi. Pemuja mitos atas awan panas menyerupai Semar sebagai tanda berakhirnya Covid-19 adalah orang tidak lagi percaya pemerintah serta gagal paham terhadap nilai ketuhanan yang pada tingkatan Tuhan tidak dapat digambarkan melalui cara apapun. Posisi terdesak ini bagi pemercaya mitos awan panas berwujud Semar sebagai tanda berakhirnya Covid-19 mulai menggantikan Tuhan dengan “tuhan” yang mampu memenuhi kebutuhan domestiknya.

Pemerintah memang harus cepat menyelesaikan pademi Covid-10 karena korban rasionalisasi mitologi virus Corona adalah orang yang putus asa terhadap kondisi hidupnya. Rakyat mulai tidak sanggup lagi merasionalisasikan, menjelaskan, dan memberi hubungan sebab-akibat alam dengan kehidupan pribadi dalam formulasi keilmuan rasional ataupun secara scientific. Rakyat sudah tidak kuat menghadapi realitas dan badai kehidupan yang menerpa dan kini mencari jalan pintas bertemu “tuhan” yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pencerahan Kampus

Menurut hemat saya, rakyat harus diberikan pendidikan lebih bahwa mitos lahir dari bingkai sosio-kultur dan kepercayaan yang menjelaskan asal mula semesta dari Tuhan Yang Esa. Mitos awan panas berwujud Semar sebagai akhir pademi Covid-19 hanya menjadi strategi dalam merasionalisasikan misteri alam dengan manusia; menganalogikan bentuk sakral dalam ide terbatas yang sarat makna untuk penyingkapan hijab alam semesta.

Rakyat sebagai makluk rasional tentu ingin agar yang diyakini mempunyai unsur kebenaran. Rakyat harus belajar bagaimana mengkritisi dan mengerti mitos secara rasional. Sangat ironis apabila masih saja ada orang jatuh dalam pengaruh mitos menyesatkan dan tidak memiliki pendasaran moral atau rasional kuat. Penekanan atas sikap kritis terhadap mitos yang akan menolong kita sehingga tidak tersesat pada opini yang memanfaatkan rasionalisasi mitologi demi kepentingan pribadi.

Rakyat harus diajak membentuk kehidupan yang mengedepankan dialog tajam dan bersifat melacak antara kawan dan lawannya. Rakyat harus diajarkan menjadi penanya tangguh dan merangsang menjadi orang yang kritis. Ketajaman berfikir dan keberanian mempertanyakan segala ihwal akan memicu dialektika kebenaran dan keadilan. Munculnya ide atau gagasan barulah yang kelak mampu menangkal rasionalisasi mitologi yang selalu mengekang pencerahan peradaban dunia.

Baca : Semarak Kuliner Urutsewu, Lomba Cipta Kuliner Peringati HUT RI

Rasionalisasi mitologi harus dilawan dengan ide baru. Perjuangan berlandaskan ide lambat laun akan menggapai kebenaran dan pencerahan yang selalu hadir menyeruak untuk keluar dari mitologi dan kepalsuan, yang dalam bahasa saat ini antara hoaks atau bukan. Kekuasaan yang mengedepankan rasionalisasi mitologi akan kalang kabut andaikan kampus beserta intelektualnya kritis hadir menggugat, menyergap dan meruntuhkan serta merekonstruksi kembali bangunan fikir yang telah disesatkan.

Baca : Karena Dampak Covid-19, Uang pun Dikarantina

Progresivitas kampus sebagai kaum kritis mestinya hadir memecahkan kebekuan, kemandulan serta kerancuan pikir yang ditanamkan “sihir” rasionalisasi mitologi. Kampus harus tetap tegar dan terus menembus jantung kehidupan semesta saat bertarung melawan kekuasaan yang berideologi rasionalisasi mitologi Covid-19. Kampus tidak boleh panik saat mendengar kenaikan jumlah pasien Corona yang berlangsung begitu cepat.

Ketika pemerintah gamang membuat satu kebijakan dalam menyelesaikan pademi Covid-19, maka kampus harus memberikan optimisme baru kepada rakyat. Dalam sebuah epidemi kenaikan jumlah adalah sesuatu yang normal, namun perlahan-lahan jumlahnya akan menurun tajam. Untuk hal ini, tentu saja penulis sepakat dengan pesan Michael Levitt, ahli biofisika dan pemenang Nobel asal Stanford yang memprediksi akan ada peredaan wabah Corona dalam waktu tak terlalu lama (LA TIMES, 23 Maret 2020). Wallahu A’lam Bish Shawab.

FOTO DIRI : Dr. Bramastia, M.Pd, Direktur Boyolali Risearch and Analysis Movement (BRAM) Institute. (suaramerdekasolo.com/dok)

Dr. Bramastia, M.Pd, Direktur Boyolali Risearch and Analysis Movement (BRAM) Institute

 

Tinggalkan Pesan