Raih Top BUMD, Kredit Bank Daerah Karanganyar Naik 5 Persen Saat Pandemi Covid-19

sumbangan-bank-daerah-karanganyar
SUMBANGAN – Karyawan dan dharma wanita Bank Daerah Karanganyar mengumpulkan 600 paket sembako untuk masyarakat, memberi bantuan APD untuk menghadapi wabah korona. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Di saat wabah korona berkecamuk dan semua lembaga bisnis mengeluhkan keterpurukan, justru Bank Daerah Karanganyar (BDK) makin eksis dengan kredit yang naik sekitar 5 persen atau sekitar Rp 5 miliar pada bulan ini.

BDK juga meraih penghargaan Top BUMD untuk bank bintang empat dengan aset di atas Rp 350 miliar, top pimpinan BUMD untuk Haryono dan Top Pembina BUMD untuk Bupati Juliyatmono.

Sebab dengan dukungan dan binaan Bupati maka bank tersebut bisa menekan kredit macet sampai di bawah 2 persen, menekan rentenir, dan menjadi lembaga keuangan yang inovatif.

‘’Mungkin ini berkah karena kami terus mencoba tidak sekadar memberi kredit, namun juga memberikan pendampingan agar nasabah tetap eksis. Sehingga mereka semakin percaya terhadap kinerja kami,’’ kata Dirut BDK Haryono, Selasa.

Memang pihaknya tetap mengakui ada kreditor yang minta penjadwalan. Terutama kreditor besar. Ada lebih dari sekitar Rp 30 miliar yang meminta penjadwalan hutang. BDK tetap memberikan sampai setahun agar hanya membayar bunga saja, itupun kreditor didampingi agar eksis.

Sebab saat krisis seperti ini, maka yang dituntut adalan inovasi dan kreatifitas.

Hary mencontohkan, jika pengusaha restoran maka jika selama ini orang datang ke warungnya, maka harus tanpa datang ke warung makanan diantar ke rumah. Memang sedikit mengeluarkan tenaga ekstra namun masih eksis.

Dia memang mencoba agar keberadaan BDK tetap selalu ada ketika masyarakat Karanganyar memiliki kebutuhan. Sebagai bank milik Pemkab Karanganyar, BDK harus jadi solusi.

Dia membandingkan bank lain yang tentu kinerjanya bukan untuk masyarakat Karanganyar. Sementara BDK sudah pasti untuk masyarakat Karanganyar.

’Yang kami lakukan tidak sekadar memberi kredit murah saja. Sebab kalau hanya mengucurkan kredit bunga murah, pasti semua orang juga bisa. Namun setelah diberikan kredit, pendampingan apa yang diberikan bank, bagaimana saat situasi sulit seperti ini. Itu yang membedakan BDK dengan yang lain.’’

Tentang menekan rentenir atau bank plecit yang bergerak di level bawah sampai ke pedagang pasar, BDK mencoba untuk menyaingi mereka dengan masuk ke setiap pasar kabupaten bahkan pasar desa yang tergolong cukup besar. Sehingga rakyat punya pembanding.

Jika yang diinginkan kredit cepat mengucur tanpa proses berbelit, maka petugas BDK akan melakukan itu. Jika mereka butuh ditagih tanpa harus datang, maka BDK siap untuk itu. Jika selama ini bunga bank plecit tinggi, justru BDK berani memberi kredit sampai 0,5 persen saja. Sehingga pedagang pasar kecil-kecil itu kini mulai beralih.

Tentang penghargaan Top BUMD yang akan diberikan di Jakarta pertengahan Juli nanti, Hary mengatakan, penghargaan itu diberikan majalah Top Bussines bekerja sama dengan Institut Otonomii Daerah didukung lembaga pengamat bisnis nasional.

‘’Saya harus presentasi tentang kinerja dan rencana BDK di depan 9 guru besar bisnis dan politik termasuk Prof Siti Zuhro, selama lebih dari dua jam. Saya dikmeroyok berbagai pertanyaan njelimet tentang perbankan dan rentenir,’’ kata dia.

Satu hal rencana BDK yang tertunda karena korona ini, yaitu rencana berubah menjadi bank syariah di akhir tahun ini. Sebab persiapan tergunda sementara karena harus memikirkan wabah agar bisnis ini tetap eksis. Untung saja semua karyawan solid dan bisa melewati.(joko dh)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan