Bupati Juliyatmono : Kalau Dipanggil Presiden Saya Akan Datang Menjelaskan, Soal Izinkan Salat Ied

bupati-karanganyar-juliyatmono
FOTO DIRI : Bupati Karanganyar, Juliyatmono (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Bupati Karanganyar Juliyatmono mengatakan keputusannya mengizinkan saalat Ied bagi masyarakat sudah melalui serangkaian pertimbangan.

Dia menolak dinilai membangkang pada Gubernur. Baginya kebijakan yang membahagiakan rakyat tidak mengapa.

“Kalau saya harus dipanggil Presiden mengenai kenapa saya mengizinkan warga masyarakat shalat Ied, saya akan jelaskan. Tapi kalau yang lain, tidak akan datang. Saya biarkan saja,’’ kata Juli saat ditanya kemungkinan dia dinilai membangkang pada perintah Gubernur Jateng soal shalat Ied, Rabu.

Bupati Juliyatmono memang merasa kalau berbeda sendiri di antara 35 bupati dan kepala daerah di Jateng soal sholat Ied. Dia mengizinkan semua warga menggelar shalat Ied bahkan bupati menjadi khatib di Alun-alun.

Dia mengulang pernyataannya bahwa dia tetap meminta warga untuk mematuhi imbauan MUI untuk shalat Ied di rumah secara berjahaam dengan keluarganya. Namun jika ada yang akan menggelar shalat di masjid dipersilahkan.

Pertimbangannya kasus comvid di Karanganyar sudah bisa dikendalikan. Sumber terbanyak korona sudah dilokalisasi dan diketahui ada di Colomadu dan klaster Gowa. Semua sudah dikendalikan.

Bahkan kini tinggal 5 yang positif reaktif dan sudah tinggal menunggu pulang setelah hasil swabnya jadi. Kondisi mereka baik dan sehat.

Kasus tambahan sudah cenderung stagnan dan malah yang tambah kabar kesembuhan warga yang positif Covid-19 itu, Baik dokter Moewardi yang di Jaten, peserta ijtimak Gowa dari Jaten, Gondangrejo dan Colomadu, dan kini masih 5 yang tinggal menunggu semoga hasil swabnya negatif.

Karena pertimbangan situasi sudah terkendali itulah maka dia mengizinkan, dengan syarat warga tetap memperhatikan prosedur kesehatran. Memakai masker,diukur suhu tubuh dengan thermo gun, membawa sajadah sendiri, shof dilonggarkan, berangkat ke masjid cuci tangan, khutbah dan shalat dipersingkat, tidak ada salam-salaman, tidak ada kunjung-kunjungan, halal bihalal, open house, dan lainnya.

‘’Pokoknya setelah shalat Ied langsung khutbah sebentar selesai dan pulang. Tidak ada acara lainnya apalagi kumpul-kumpul sesama warga saling bersalaman. Tidak ada,’’ kata Bupati.

Dia mengatakan, masyarakat harus ditempatkan menjadi warga yang pintar dan sudah tahu prosedur kesehatan, sehingga mereka akan dengan sendirinya menjaga lingkungannya dari kehadiran orang asing yang tidak dikenal.

Selain itu momen shalat Ied yang hanya sekali setahun meski sunnah itu moment yang ditunggu-tunggu setelah puasa sebulan. Moment itu seperti untuk menghapus dosa dan salahsetelah puasa sebulan di bulan Ramadhan.

Karena itu sangat membuat bahagia, dan itulah moment yang menjadikan imun tubuh meningkat karena rasa bahagia. Apakah tega momen itu kembali dilarang ?

Karena itu dia memilih membebaskan warga shalat Ied agar bahagia, dengan catatan tetap mematuhi prosedur kesehatan.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan