FBM Ajak Warga Solo Peduli Kelangsungan Hidup Satwa TSTJ

PEDULI SATWA-Ketua Umum FBM, Kusumo Putro bersama pengurus FBM sembari membawa bermacam makanan satwa saat berkunjung ke TSTJ, Selasa (26/5) sore. (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

SOLO,suaramerdekasolo.com- Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau Solo Zoo yang tidak beroperasional selama Kota Solo dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) covid-19, menjadi keprihatinan berbagai pihak. Agar semua satwa yang ada di dalam terpelihara dengan baik, Yayasan Forum Budaya Mataram (FBM) punya kepedulian.

Rombongan FBM yang dipimpin Ketua Umumnya, Kusumo Putro SH MH, Selasa (26/5) sore, datang ke TSTJ untuk mengirim berbagai macam makanan hewan serta menyerahkan donasi.
Selain bekatul, beberapa ikat rumput kolonjono, kelapa, pisang, uang tunai dan lainnya diserahkan kepada pihak TSTJ melalui Manager Pemasarannya, Nonot Harwanto.

Apa yang dilakukan YBM, menurut Kusumo Putro sebagai bentuk kepedulian. ”Semoga yang kami lakukan ini dapat menginspirasi warga Solo lainnya untuk peduli terhadap kelangsungan TSTJ,” tegasnya.

Dia berasumsi, jika jumlah penduduk Kota Solo sebanyak 545.000 orang dan separuhnya menyumbangkan Rp 1.000 per orang, dana yang terkumpul sudah luar biasa. Hal itu tentunya dapat membantu operasional Jurug, utamanya untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh satwa yang berada di hutan lindung dan menjadi ikon Kota Bengawan tersebut.

Kusumo Putro, yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan berpengaruh itu mengingatkan, TSTJ selain berfungsi sebagai kebun binatang hiburan dan komersil, sejatinya merupakan tempat konservasi. Baik konservasi sebagai kebun binatang ataupun tanaman langka. Atau bisa juga disebut sebagai hutan kota. Karena di dalam TSTJ banyak dilestarikan atau dikembangkan binatang-binatang, serta tanaman unik dan langka. ”Untuk itu, kami mengajak warga Kota yang merasa memiliki Taman Jurug ikut nguri-nguri dan melestarikannya,” jelasnya.

Dari sektor pariwisata, lanjut dia, TSJT apabila dikelola dengan sungguh-sungguh dapat mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup besar. ”Jika Kota Solo hanya mengandalkan festival, carnaval, menyemarakkan seni budaya di tingkat kelurahan, maka lima tahun ke depan, Kota Solo mulai ditinggalkan wisata asing dan domestik,” paparnya.

Seperti diketahui, sejak wabah virus corona melanda dunia, pihak TSTJ kerap diberitakan kesulitan dana dalam mencukupi kebutuhan pakan hewan-hewan peliharaannya. Meskipun bantuan berbagai pihak sudah mengalir, namun sepertinya suntikan dana segar tetap diperlukan demi kelestarian hewan-hewan di TSTJ agar hidup sehat, normal, dan layak berkembang. ”Oleh sebab itu, dengan sumbangan yang tidak seberapa, kami berharap bisa menumbuhkembangkan kepedulian warga lain untuk berbuat yang sama, bahkan bisa lebih,” tandas Kusumo.

Adapun manajer pemasaran TSTJ, Nonot Harwanto (51) merasa senang dan mengucapkan terima kasih aksi kepedulian yang dilakukan FBM. Dia berjanji akan mengemban amanat dari semua warga yang telah peduli akan kelestarian isi dan masa depan TSTJ.

Ditambahkan Nonot, kebutuhan pakan semua jenis hewan di TSTJ sangat urgent. ”Apabila ada bantuan dari berbagai pihak, kami selalu menyalurkan secara cepat dan merata,” terang Nonot disela mendampingi rombongan dari pengurus FBM yang datang di Jurug, Selasa sore. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan