Awal Juni, Karanganyar Laksanakan Simulasi Proses Belajar Mengajar Bersahabat Dengan Covid-19

foto-new-normal
FOTO ILUSTRASI/tribun bali

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Awal Juni mendatang, siswa sekolah di Karanganyar akan masuk sekolah mengikuti simulasi proses belajar mengajar dengan aturan standar kesehatan.

Jika lancar, maka seluruh siswa pada tahun ajaran baru akan tetap masuk sekolah seperti biasa.

‘’Hasil evaluasi kami, pelaksanaan sekolah sistem daring tidak maksimal. Siswa tetap perlu bimbingan guru secara langsung. Karena itu muncul pemikiran melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah, namun tetap harus memenuhi standar kesehatan,’’ kata Kadis Pendidikan Tarsa, Sabtu (31/5).

Ketua Muhammadiyah Karanganyar Moh Samsuri mengingatkan Bupati untuk berhati-hati dengan rencana tersebut.

Menurutnya itu baik namun jangan menjadikan anak-anak sekolah sebagai kelinci percobaan. Sebab ada 840-an penderita Covid-19 yang usianya 0-12, usia anak sekolah.

Karena itu jangan sampai percobaan sekolah baru dengan mencoba menerapkan new normal itu menjadikan anak sekolah merupakan klaster baru korona seperti yang sudah terjadi. Perlu kehati-hatian dan pemikiran yang serius.

Simulasi dilakukan awal Juni sebelum memasuki masa libur sekolah pada pertengahan Juni. Sehingga jika lancar ketika masuk sekolah siswa semua sudah masuk seperti biasa. Dalam simulasi tersebut, siswa dibagi dua, separoh masuk pagi dari jam 08.00 – 11.30 yang sore dari jam 13.00 – 16.00 WIB.

Sehingga jarak siswa bisa satu bangku seorang, sehingga lebih dari satu meter. Saat masuk mereka dites suhu tubuh dengan termo gun, cuci tangan dan menggunakan masker. Mereka juga tidak boleh interaksi dalam jarak dekat.

Nantinya jika mereka sekolah, harus seperti itu, mematuhi standar kesehatran. Nanti sekolah akan diinstruksikan membeli termo gun dengan dana BOS sesuai kebutuhan, tiap kelas satu buah atau bagaimana teknisnya.

Tarsa mengatakan, ada 51 SMP Negeri dan 29 swasta serta 473 SD negeri serta beberapa puluh swasta.

Dikatakannya, dibahas pula sistem penerimaan peserta didik baru, yang untuk SMP memakai sistem zonasi seperti dulu. Zonasi porsinya 50 persen, porsi siswa berprestasi 30 persen, porsi pindahan orang tua 5 persen dan porsi afirmasi 15 persen.

Sistem afirmasi Dikbud bekerja sama dengan Dinsos untuk memberi sertifikasi dan izin bahwa siswa tersebut benar-benar miskin. Dan itu akan disurvei oleh Dinsos sebelum diberi surat izin berasal dari keluarga miskin.

Sistem zonasi akan dibagi zonasi kelurahan, setelah itu zona kecamatan, kabupaten, baru zona antar daerah yang akan diterima. Dan dia sudah setahun minimal tinggal di tempat tersebut, dibuktikan dengan kartu keluarga.

Pengalaman tahun lalu siswa jalur pindah mengikuti orang tua masih sisa, termasuk yang jalur prestasi yang biasanya agak lengang di awal-awal namun akhirnya terpenuhi.

Untuk SD tidak perlu zonasi karena jumlah usia sekolah berimbang dengan jumlah sekolah.

Bupati Juliyatmono menambahkan, seimulasi itu sekaligus mengobati rindu siswa yang sudah tiga bulan lebih berada di rumah.

“Untuk tahap awal akan digelar di beberapa kecamatan dulu, dan nanti jika baik semua sekolah wajib,” kata bupati.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan