Selama Triwulan, Pendapatan Pajak Karanganyar Turun Rp 16 Miliar

0
pajak
FOTO ILUSTRASI

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Pendapatan daerah Karanganyar dari sektor pajak dan retribusi selama pandemi corona ini turun Rp 16 miliar. Penurunan pendapatan tu karena banyak wajib pajak yang tutup usahanya, atau paling tidak mengalami penurunan omset usahanya sehingga berimbas pada pembayaran pajaknya.

‘’Tidak sedikit yang melapor turun omset, bahkan juga ada yang melapor tutup usahanya. Kami hanya bisa mengelus dada, prihatin karena kondisinya tidak terhindarkan. Kami langsung menurunkan tim untuk mengecek apakah benar tutup atau sekadar turun omset,’’ kata Kurniadi Maulato, Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) usai rapat koordinasi membahas hal itu, Rabu.

Kurniadi mengatakan, Pemkab hanya bisa memberikan keringanan pada para pelaku usaha dalam pembayaran pajak dan retribusi. Baik dengan membebaskan mereka dalam waktu pembayaran, maupun menghapuskan denda keterlambatan bagi mereka yang telat membayar.

Itu yang bisa dilakukan pemerintah, sehingga harus juga toleransi kepada mereka yang sedang mengalami musibah karena pandemi. Dan itu untuk semua jenis pajak dan retribusi, misalnya pajak hotel dan restoran, warung, usaha lain, bahkan pajak bumi dan bangunan jika selama ini dilombakan wilayah untuk melunasi PBB maka sekarang justru diberi keleluasaan membayar.

Pemda juga menyerahkan sepenuhnya pada wajib pajak untuk dengan kejujuran menghitung omzet usahanya untuk kemudian menentukan besaran pajak yang dibayarkan.

Ini sekaligus untuk melatih fairness dalam menentukan pajak. Kalau restoran yang sudah dipasang alat penghitung tidak masalah, namun yang belum, ini perlu kejujuran.

Sementara itu, Sekda Sutarno membenarkan pernyataan itu. Kondisinya memang tidak terhindarkan, sehingga banyak pelaku usaha yang kolaps. Namun yang terpenting, Pemkab dan juga masyarakat tidak berhenti untuk membantu dan sejauh ini kondisinya tetap stabil dan kondusif.

‘’Kita akan mengevaluasi lagi pada saat perubahan anggaran, apakah semakin menurun atau justru ada peluang usaha yang bisa dikembangkan di tengah pandemi ini sehingga mendapatkan pemasukan yang lebih,” kata Sekda.

Banyak usaha yang gulung tikar, sehingga secara keseluruhan memang harus dilakukan evaluasi untuk menentukan pendapatan daerah. Memang turun, itu harus diakui, dan memang cukup besar selama pandemi ini.

Sebagaimana diketahui pendapatan asli daerah Karanganyar ada Rp 350 miliar tahun lalu. Jika terjadi pengurangan sampai sekitar Rp 16 miliar, itupun dalam tiga bulan terakhir, bisa bertambah, maka pengurangannya cukup besar.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan