Daripada Cemari Air dan Tanah, Minyak Jelantah Bisa Disulap Jadi Sabun

Galakarya-Srikandi
FOTO/DOK

*Galakarya Srikandi Sungai indonesia Klaten

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Minyak bekas menggoreng yang sudah berwarna coklat pekat atau hitam, tentu sudah tidak sehat bisa digunakan lagi. Bila dibuang pun, minyak jelantah bisa mencemari tanah dan air bahkan bisa membuat ikan di saluran air mati.

Apakah masih bisa dimanfaatkan ? Tentu saja masih bisa. Minyak jelantah atau mijel, bisa dimanfaatkan untuk pembuatan sabun. Caranya pun tidak sulit, bisa dilakukan ibu-ibu rumah tangga, bahkan anak-anak. Namun harus hati-hati, karena menggunakan zat kimia.

Untuk mengurangi pencemaran lingkungan, Srikandi Sungai Klaten menggelar pelatihan pengolahan mijel menjadi sabun. Acara dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup itu digelar di Kampus Universitas Widya Dharma (Uniwidha) Klaten Jalan Ki Hajar Dewantara, Klaten autara, Sabtu (6/6).

”Kami menggelar pelatihan pengolahan mijel menjadi sabun. Karena masih masa pandemi covid-19, maka peserta dibatasi hanya 10 orang, nantinya diharapkan mereka bisa menularkan hasil pelatihan kepada masyarakat di sekitarnya,” kata Ketua SSI Klaten, Sri Susilowati SHut MSi.

Sebelum pelatihan peserta mencuci tangan dengan sahun, kemudian diukur suhu tubuhnya dengan thermogun. Mereka duduk di tikar dengan jarak minimal 1 meter dengan peserta lain. Nuri Wulandari dan Anis Veranita Febriana.

”Bahan yang dibutuhkan tiga macam, yakni minyak jelantah, air dan soda api dengan perbandingan 3:2:1, misalnya 75 gram mijel, 50 gram air dan 25 gram soda api. Mijel disaring dulu dengan kain agar kotoran bekas menggoreng terpisah,” kata Nuri.

Setelah bahan siap, disiapkan peralatan untuk mencampur bahan yakni mangkok, sendok kayu atau plastik atau stainless steel dan cetakan sabun sesuai selera. Sebaiknya dari kaca agar tahan panas, jangan gunakan plastik/melamin tipis yang tidam tahan panas. Jangan gunakan peralatan dari alumunium.

”Pertama, masukkan soda api ke dalam air kemudian diaduk. Jangan terbalik ya, jangan memasukkan air ke dalam soda api akan terjadi panas dan bisa meledak. Setelah soda api larut, tuangkan mijel sedikit demi sedikit sambil terus diaduk-aduk sampai akhirnya mengental,” kata Nuri Wulandari.

Jangan lupa, saat pengolahan gunakan sarung tangan, masker dan kacamata untuk melindungi diri dari zat kimia. Bila cairan soda api mengenai tangan atau kulit, bisa berasa panas terbakar. Bila hal itu terjadi, jangan dicuci dengan air, tapi dioleskan cuka apel.

Setelah campuran mijel air dan soda api mengental dan dingin, tuangkan di cetakan yang sudah dilumuri dengan minyak agar mudah dilepas. Setelah dicetak, sabun akan mengeras dalam 12-24 jam dan baru bisa digunakan setelah didiamkan selama 4 hari agar efek soda api menghilang. Bila langsung digunakan, bisa menyebabkan gatal-gatal.

”Bila ingin warna mijel jernih, bisa direndam bersama arang 24 jam atau diberikan nasi. Bila ingin aroma harum bisa ditambah pewangi pakaian, biaa juga ditambah warna. Namun sabun dari mijel sebaiknya digunakan untuk mencuci baju, bisa untuk mencuci batik. Untuk aabun mandi bisa digunakan minyak yang masih bagus,” ujar Nuri.

Yulinda Erma Suryani SPd MSi, aktifis SSI Klaten yang juga dosen Unwidha mengatakan, pengolahan mijel selain bisa mengurangi pencemaran lingkungan, bisa menghasilkan sabun untuk keperluan rumah tangga, dan mengantisipasi daur ulang jelantah untuk minyak konsumsi oleh pihak tak bertanggung jawab.

Pelatihan diikuti perwakilan PKK, ASN, IIDI, aktifis lingkungan, perwakilan Aisyiyah, pengurus SSI dan perwakilan SSI kecamatan/desa serta mahasiswa Unwidha. Peaerta pelatihan dibatasi sesuai protokol kesehatan. Rencananya, pelatihan lain akan digelar secara bertahap baik kreasi sampah, makanan olahan, hidroponik dan lainnya.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan