Setelah Nunggu Empat Tahun, Rayi Panjalu Sukses Operasi Jantung Bocor

pasien-jantung-bocor-karanganyar
JANTUNG BOCOR- Rayi Juna Panjalu saat dipangku Bupati Juliyatmono. Dia baru saja sukses menjalani operasi kelainan jantung bawaan. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Rayi Juna Panjalu (4 ), anak pasangan Sular (40) dan Tri Wahyuni, warga Jumantoro, Jumapolo, sukses operasi jantung bocor, akibat kelainan jantung bawaan sejak lahir. Kondisi anak itu kini dinyatakan sehat seperti sedia kala.

Saat diterima Bupati Karanganyar Juliyatmono, di rumah dinasnya, Rabu pagi, Sular bercerita anak itu diketauhui menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir, ketika usia enam bulan. Saat itu dia menangis terus hampir dua minggu setiap hari. Sampai capek ibunya menggendong anak itu.

‘’Saya beriniatif membawa anak itu ke dokter di RS Ngadirojo, Wonogiri. Ternyata setelah diperiksa seksama, dia langsung dirujuk ke RS Moewardi Solo. Segera saja dia dibawa ke Solo. Dan dari hasil pemeriksaan dokter anak, diketahui dia menderita kelainan jantung bawaan itu dan dirujuk ke RSCM Jakarta karena yang punya alat mengoperasi di sana,’’ kata Sular dan istrinya.

Dengan modal nekat dan sadanya, dia pergi ke Jakarta memeriksakan anaknya. Setelah diperiksa dengan teliti, dia bisa dioperasi setelah umur dua tahun. Dia pulang dan dijanjikan akan ditelepon jika sudah tiba waktunya.

Ternyata takdir berkehendak lain.Nomor ponsel yang dia titipkan ke perawat RSCM terblokir dan dia ganti nomor. Karena itu saat ada panggilan dari RSCM dia tidak tahu. Baru setelah dua tahun lebih dia berinisiatif menghubungi dan menanyakan, dijawab saat dihubungi tidak ada yang menyahut.

Kalah cacak menang cacak, kata orang Jawa, dia nekat ke Jakarta siapa tahu ada kemurahan. Dia tinggal di rumah singgah. Ternyata ada ribuan anak yang serupa menderita kelainan jantung bawaan yang antre minta dioperasi.

Sular pun pasrah kepada Tuhan. Bolak balik ke Jakarta, akhirnya dia menemukan titik terang. Saat anaknya berusia 4 tahun, akan dioperasi. Saat itu dia mengaku sudah habis-habisan. Apalagi hanya seorang pedagang sayur keliling kampung.

Dia akhirnya mengajukan proposal ke Baznas Karanganyar, karena dia penduduk di situ. Ternyata Baznas berjanji menanggung biaya saat dia bolak balik ke Jakarta dan memeriksakan anaknya itu. Hitung-hitung ada empat bulan dia hidup di Jakarta yang semua ditanggung Baznas.

Setelah melalui perjalanan yang berliku ayah dua anak itu mendapatkan panggilan operasi. Namun saat akan operasi pada April 2020 setelah tiap hari dia mengurus keperluan anaknya itu, ada saja gangguannya.

‘’Yang anak giginya sakit sehingga harus dioperasi karena gigi tidak boleh sakit karena jika sakit akan mengakibatkan infeksi pada jantung, hidung pilek, sampai tas istri yang berisi ponsel dan uang saku untuk hidup di Jakarta diambil pencuri saat ditinggal shalat. Pokoknya ada saja. Namun saya ihlaskan, mungkin itu cobaan untuk kesembuhan anak saya,’’ kata Sular.

Hari H operasi pun tiba, dan hampir sehari dia menunggui anaknya dioperasi dokter, akhirnya perjuangan Sular berhasil. Sebagai ungkapan rasa syukur, dia diajak menghadap Bupati Karanganyar untuk bercerita perjuangannya.

Bupati berpesan agar mutiara berupa anak yang diberi sakit kelainan jantung bawaan ityu dijaga. Seban Tuhan pasti punya rencana lain. Semuanya harus diterima dengan ihlas. Dan itulah peran Baznas yang selalu siap menolong kapan saja. Kalau njagakne pemerintah harus nunggu tahun anggaran dulu.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan