Kerajaan Campursari” Itu Sudah Selesai ?

0
lord-kempot-raja-kecil1
MENDEKAP ''SANG AYAH'' : Anak kedua Didi Kempot dari istri Yan Vellia, Seika (4), memang belum begitu faham bahwa dirinya sedang kehilangan ayah. Mungkin juga kurang paham ketika dirinya mendekap patung ''sang ayah'' yang dihadirkan di acara peringatan 40-an hari almarhum, Jumat malam (12/6) itu. (suaramerdekasolo.com/dok)

*Ki Manteb Sarankan Pakai Kata ”Swarga”yang ”Njawani” (7-bersambung)

MENINGGALNYA Didi Kempot tanggal 5 Mei lalu, mendapat penghormatan dalang kondang Ki Manteb Soedarsono, yaitu dengan menunda hajadan pentas wayang kulit ”climen” yang sedianya disiarkan ”live streaming” dari rumahnya, yang sedianya digelar Selasa 5 Mei untuk peringatan weton kelahirannya, Selasa Legi.

Biasanya pentas rutin 35 hari sekali itu dijatuhkan malam weton atau Senin Kliwon malam Selasa Legi (4/5), seperti yang sudah berjalan bertahun-tahun. Namun karena ada permintaan dari pihak ”sponsor”, pentas disepakati diundur Selasa malam (5/5).

Berhubung setelah itu ada kabar duka meninggalnya Didi Kempot yang sudah dikenal baik sebagai sesama seniman, Ki Manteb kemudian menunda pentas sebagai bentuk penghormatan terhadap ”perginya” Sang Raja Dangdut Jawa itu.

Pentas wayang kulit dalam rangka menyiasati pandemi Corona itu, akhirnya diundur tanggal 9 Mei, di tempat yang sama.

Tetapi bukan sekadar soal penghormatan Ki Manteb terhadap sesama seniman yang meninggal, melainkan ada semacam kesepakatan antara Ki Manteb dengan almarhum, yaitu janji untuk mengabarkan sesuatu kepada Ki Manteb, tetapi Didi Kempot keburu meninggal.

lord-kempot-raja-kecil5
WAKIL ”SOBAT AMBYAR” : Salah seorang wakil komunitas ”Sobat Ambyar” yang ikut hadir di acara doa dan tahll peringatan 40-an hari meninggalnya Didi Kempot, sempat mengabadikan patung di depan foto besar almarhum yang dsajikan di panggung upacara Jumat malam (12/6) itu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Yaitu janji Didi Kempot akan memberi kabar tentang hasil penciptaan sebuah lagu, dengan menggabungkan antara syair yang sudah ditulis almarhum dalam sebuah gending karya Ki Manteb yang berjudul ”Ngenteni”

Pinjam Gending Ki Manteb

Singkat kata, dalam perjumpaan antara keduanya di acara pentas menyambut Kemerdekaan RI yang digelar Presiden Jokowi di halaman Istana Presiden, Jakarta, 2 Agustus, dalam perbincangan santai Didi Kempot minta izin untuk mengambil sebagian lirik gending ciptaan Ki Manteb yang berjudul ”Ngenteni”.

Sebagian lirik yang kira-kira berkait dengan harapan manusia ketika dianggil Sang Khalik itu, menurut Didi Kempot akan digabungkan dengan lirik lagu yang sedang ditulis.

Almarhum beralasan, dari susunan narasi, estetika dan makna filosofinya sangat sesuai apabila digabungkan dengan lirik dari gendingnya Ki Manteb.

Tanpa pikir panjang, Ki Manteb yang dimintai izin langsung setuju, bahkan menegaskan tak perlu menggunakan permohonan resmi izin dalam bentuk surat atau perjanjian.

Namun Ki Manteb menyarankan, sebaiknya tidak memakai kata ”akherat” seperti bagian lirik yang disebut Didi Kempot saat dialog memohon izin, dan disarankan lebih tepat dan ”njawani” kalau diganti dengan kata ”swarga”.

lord-kempot-raja-kecil2
PROTOKOL COVID 19 : suasana acara doa dan tahlil peringatan 40-an hari meninggalnya Didi Kempot yang digelar di rumah duka kediaman Yan Vellia di Kampung Sumber, Banjarsari, Jumat malam (12/6), tetap menyesuaikan dengan aturan protokol kesehatan Covbid 19. (suaramerdekasolo.com/dok)

Atas saran itu, Didi Kempot juga setuju, dan akan menggunakan kata ”Swarga” yang lebih halus dan ”njawani”, mengingat selama ini dirinya dikenal sangat konsisten menggunakan budaya Jawa dalam berkarya, bahkan seakan menjadi karakter dan cermin pribadinya selaku ”wong” Jawa.

Pilih Kata ”SWarga”

Beberapa bulan setelah pertemuan di Istana Presiden, kira-kira bulan NOvember 2019 keduanya bertemu lagi sebagai sesama penyaji seni yang diundang seorang pejabat yang menggelar resepsi hajad menantu di kediamannya, daerah Wonosari, Gunungkidul (DIY).

”Merga jarake durung suwe saka Agustus ketemu meneh, aku takon rencanane sing gawe lagu kae. ‘Endi apa wis dadi Dik (Didi Kempot)?. (Didi) Kempot ya langsung njawab, ‘dereng pakde’. ‘La melodine nembe gantos enggal. Taksih dereng kompak”.

”Aku ya njawab, ya uwis, ora apapa. Suk yen wis dadi aku dikirimi lagune ya. Ya wis mung ngono kuwi thok, rembuganku karo almarhum,” tunjuk Ki Manteb yang ngobrol dengan suaramerdekasolo.com sempat membahas soal meninggalnya Didi Kempot, belum lama ini.

Memperhatikan sebuah kata yang menjadi bahan diskusi antara Ki Manteb dengan Didi Kempot tentang ”Akherat” dan ”Swarga” yang maknanya sama, sepertinya mirip dengan yang disebut dalam lirik ”…..;Apa aku pantes mlebu swarga; Aku ya ora pengin mlebu neraka; Ati iki mung nyuwun; Mugi Gusti Allah ngapura….dan seterusnya itu.

Dan bila benar lagu itu adalah hasil penggabungan dari lirik gending Ki Manteb yang berjudul ”Ngenteni”, benar juga bahwa proses penyelarasan antara dua lagu itu memang perlu waktu. Bahkan belum final betul sampai ajal menjemput Didi Kempot. Terlebih kalau Didi Kempot pernah menyebut, ada proses aransemen yang belum kompak dan tuntas.

lord-kempot-raja-kecil4
JADI ”JURU BICARA” : Gus Miftah dari Ponpes ”Ora Aji” Kalasan, Sleman, DIY, sehabis memberi tausyiah di acara doa dan tahlil peringatan 40-an hari meninggalnya Didi Kempot, langsung dikerubuti para awak media dan seakan menjadi ”juru bicara” tuan rumah, Yan Vellia. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Segera Diluncurkan

Berlangsungnya acara doa dan tahlil peringatan 40-an hari meninggalnya Didi Kempot yang digelar Yan Vellia sekeluarga di kediamannya, kampung Sumber, Banjarsari, Jumat malam, 12 Juni, seakan menjawab sebagian nasib lagu ”Istigfar Sak Kuate” yang disebut karya terakhir almarhum yang belum sempat diluncurkan.

Dalam konferensi persnya di depan sejumlah awak media seusai doa dan tahlil malam itu, Gus Miftah yang mendampingi Yan Vellia sekaligus ditunjuk sebagai juru bicara membenarkan bahwa lagu ”Istigfar Sak Kuate” merupakan karya almarhum yang paling akhir. Di situ Yan mengisyaratkan kepada Gus Miftah, bahwa lagu tersebut akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.

”Betul. Lagu Istighfar itu lagu terakhir almarhum. Mudah-mudahan bisa diluncurkan dalam waktu dekat. Betul ya mbak Yan?,” jelas Gus Miftah dari Ponpes ”Ora Aji” Kalasan, DIY, menjawab pertanyaan para wartawan, sembari meyakinkan penjelasannya dengan bertanya kepada Yan Vellia, dan yang ditanyapun langsung mengangguk dan menjawab ”ya”.

Melihat fakta-fakta, ”Kerajaan Campursari” seperti yang dikonotasikan publik secara luas melalui aksentuasi sejumlah media TV sebagai bagian industri musik, memang sudah selesai ketika Manthous kehilangan penerus.

Dangdut Jawa Berbeda

Dalam pengertian yang berbeda, ”Kerjaan Campursari” yang berarti dangdut Jawa, setelah ”Raja Besar” Didi Kempot, agaknya bisa berlanjut lagi ke tangan-tangan para penerusnya ketika melihat potensi yang sudah mulai bermunculan.

Misalnya dari kalangan keluarga dekat sendiri, baik dari istri Yan Vellia, yang langsung meluncurkan single lagu ”Kembang Mawar” melalui YuoTube. Lagu ciptaan penyanyi asal Jogja, Ndarboy Genk, itu dinyanyikan bersama kedua anaknya, Saka Praja Adil Prasetya (10) dan Seika Zanithaqisya Prasetya (4).

Di Klaten, juga ada penyanyi cilik penyandang tuna netra, Ardan (12), yang pernah diorbitkan almarhum dengan lagu ”Tatu”, punya kans besar untuk meneruskan jejaknya melestarikan dangdut Jawa.

lord-kempot-raja-kecil3
LENGKAP DENGAN PATUNG : Acara doa dan tahlil peringatan 40-an hari meninggalnya Didi Kempot yang digelar di rumah duka istri Yan Vellia, Kampung Sumber, Banjarsari, Jumat malam (12/6), selain foto almarhum, juga dilengkapi dengan patung perunggu setengah badan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bahkan, dari istri Dian Ekawati (KLaten), juga punya anak bernama Staso, yang sudah mulai mencoba merilis single lagu ciptaan sang ayah, Didi Kempot. Bahkan dari istri di Ngawi (Jatim) yang bernama Putri, anaknya semata wayang sangat mungkin juga akan meniru jejak ayahnya di jalur musik yang sama. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan