Rekom Krusial, PDI Perjuangan Berhati-hati

Rekom Krusial, PDIP Berhati-hati

SOLO,suaramerdekasolo.com – Melihat alotnya proses pemberian rekomendasi untuk calon yang akan diusung PDIP dalam Pilwalkot Surakarta 2020 menurut pengamat politik asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Dr Agus Riewanto menunjukkan jika partai tersebut berhati hati dalam memutuskan siapa yang akan diberi rekomendasi.

Sebab proses pemilihan kandidat yang diusung ini justru menjadi titik krusial bagi PDI Perjuangan.

“Persoalan rekomendasi ini bagi PDIP merupakan persoalan yang cukup pelik. Karena di satu sisi arus bawah di DPC telah memutuskan proses penjaringan. Di sisi lain, kelompok elit ingin agar rekomendasi diberikan kepada Gibran. Keputusan Gibran untuk ikut terlibat dalam Pilwalkot ini sendiri awalnya juga mengejutkan berbagai pihak karena tak terduga,” kata Agus kepada suaramerdekasolo.com

Dikemukakan, sebagai partai yang konsisten untuk kepentingan kemenangan dan pertimbangan politik di masa depan, pemilihan rekomendasi pada Gibran menjadi hal yang paling masuk akal.

Ada beberapa hal yang menjadoi pertimbangan kondisi tersebut menurut Agus. Yang pertama adalah pertimbangan perlunya regenerasi si tubuh partai. Bisa dibilang dalam satu atau dua tahun mendatang, regenerasi di PDIP sangat diperlukan.

Pertimbangan yang kedua adalah Gibran mewakili figur orang muda. Representasi ini juga diperlukan untuk branding bahwa partai semakin dinamis.

Yang ketiga adalah faktor ewuh pakewuh yang merupakan kultur khas masyarakat Solo terkait Gibran yang merupakan anak presiden.Agus mengemukakan, jika pada pilkada periode kali ini larwan rerberat PDIP adalah dirinya sendiri.

Dengan kata lain, dengan adanya dua kepentingan akan berpotensi adanya benturan kepentingan. Jika mampu melewatinya, maka PDIP akan menang bukan hanya dalam hal perolehan suara namun juga keutuhan dan kesolidan partai.

Agus menyebut jika ketokohan tidak berpengaruh banyak dalam pilwalkot kali ini melainkan lebih ke partai. Kemenangan PDIP sejak pilwakot langsung pada 2005 hingga sekarang lebih banyak diaebabkan oleh unsur partai dan bukan ketokohan.

Karena itu tidak mengherankan jika ada yang menyatakan pilkada sudah selesai dengan PDIP sebagai penenangnya. Sebab kemungkinan PDIP menang sangat besar siappun calon yang diusungnya. (Evie Kusnindya)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan