30 Calon Advokat Ikuti PKPA

0
pkpa-solo
UJIAN ADVOKAT- Sejumlah calon advokat dari berbagai profesi mengikuti ujian Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) yang digelar di Hotel Sahid Jaya, Solo, Sabtu (20/6). (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

SOLO, suaramerdekasolo.com – Berbagai kegiatan di hotel rupanya sudah mulai berlangsung bersamaan mulai berlakunya new normal.

Dengan mengedepankan protokol kesehatan, Hotel Sahid Jaya Jalan Gajah Mada, Solo, Sabtu (20/6) digunakan untuk penyelenggaraan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA).

Acara tersebut digelar oleh DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jateng bekerja sama dengan Fakultas Syari’ah Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta.

Ada sekitar 30 calon advokat dari berbagai profesi yang ikut, baik pegawai pengadilan negeri, petugas kepolisian, pegawai pengadilan agama yang mendekati masa pensiun hingga para alumni mahasiswa, termasuk alumni IIM Surakarta.

Ketua DPD KAI Jawa Tengah, Asri Purwanti SH, MH, CIL menjelaska, PKPA tersebut kali pertama digelar dalam kepengurusan DPD KAI Jateng di bawah kepemimpinannya.

“Sebenarnya ujian PKPA telah direncanakan sejak beberapa bulan yang lalu. Namun karena adanya pandemi covid-19, pelaksanaan baru bisa dilaksanakan hari ini, itupun harus mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah,” jelas Asri kepada sejumlah awak media.

Dia menambahkan, meski nantinya para calon dinyatakan lulus PKPA, namun DPD KAI Jateng tidak begitu saja melepas mereka. “Para advokat yang baru lulus, tentunya akan kami bimbing dan akan kami arahkan bagaimana cara menangani berbagai perkara yang timbul baik secara teori maupun praktik,” tambahnya.

Pengacara senior tersebut menyediakan kantornya di Mendungan, Pabelan digunakan praktik bagi advokat anyar sebelum mereka siap secara mandiri.

“Kasihan advokat yang baru lulus PKPA dan setelah disumpah dilepas begitu saja, karena mereka ingin belajar sebagai advokat profesional. Makanya kantor kami terbuka sebagai lokasi praktik,” tegasnya.

Dewan Penasehat DPP KAI, Gatot Sapto Heriyawanto SH, MH, MKn menambahkan, setiap advokat harus bekerja profesional sesuai dengan Undang-undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003. Dia menjelaskan, advokat wajib mengedepankan profesionalitas dan bekerja dengan hati.

“Jadi tidak ada istilah maju tak gentar bela yang bayar. Jangan sampai ada beberapa klien nanti yang ditelantarkan. Makanya pendidikan yang paling penting adalah etika profesi dan terkait kode etik,” tegas Gatot.

Dewan Penasehat KAI itu juga berkomitmen bahwa pengacara yang tergabung di KAI siap membela ”wong cilik” saat sedang berperkara.

Sementara itu, Wakil Rektor I IIM Surakarta, Dr Isfihani MAg mewakili Rektor IIM Surakarta, Drs H Imam Suhadi MSi mengemukakan, kerjasama dengan DPD KAI Jateng dalam ujian PKPA sebagai satu prasyarat untuk meningkatkan akreditasi.

Dalam hal kualitas, tidak diragukan lagi, bahwa para calon advokat yang merupakan lulusan IIM Surakarta siap untuk terjun di lapangan baik dalam menangani perkara dari sudut hukum agama maupun kasus yang sifatnya umum baik perkara perdata maupun pidana. Salah satu advokat lulusan IIM Surakarta yang cukup ternama yakni Dr HM Kurniawan SAg, SH, MH. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan