Beranda GAYA HIDUP HIBURAN Rencana Konser ”Tribute to Ambyar tak Jogeti” di GBK

Rencana Konser ”Tribute to Ambyar tak Jogeti” di GBK

tribute-to-ambyar1
SELAKU MANAJER : Selaku manajer DKM, Yan Vellia didampingi anak pertamanya Saka, memberi penjelasan kepada para awak media dalam konferensi pers yang digelar istri Didi Kempot (alm) di kafe @omaheWhawhin.resto, Sabtu malam Minggu (20/6). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

– Presiden Jokowi Ingin Hadir Lihat Langsung

SUASANA duka sudah berangsur-angsur berkurang setelah 40 hari kepergian Sang Maestro Dangdut Jawa, Lord Didi Kempot, yang diperingati dengan upacara spiritual keagamaan di rumah keluarga Kampung Sumber, Banjarsari, Jumat 12 Juni lalu.

Suasana yang nyaris kembali ke kehidupan seperti sebelum berduka, setidaknya terlihat di wajah-wajah sang istri Yan Vellia bersama dua anaknya, Saka (10) dan Seika (4) serta sejumlah kerabat dekat yang terlibat dalam acara peluncuran album kompilasi berjudul ”Persembahan Kagem Bapak” di Kafe @OmaheWhawhin.Resto, Kadipiro, Banjarsari, Sabtu malam Minggu (20/6).

Rasa sedih karena kehilangan sosok suami, ayah, kepala keluarga sekaligus sang pahlawan pelestari budaya Jawa dan juga seniman besar yang sedang sukses di papan atas industri musik dangdut Jawa, memang sesekali masih terlihat saat berhadapan dengan banyak awak media yang hadir malam itu.

Terutama ketika Yan Vellia menjelaskan bagaimana proses perjalanan produksi album ”Penak Karo Kowe”, hingga isi album dan rencana peluncurannya harus berubah (tertunda), karena kreator/penyusun sebagai tokoh sentral (sebagai pengisi utama) dalam album meninggal di hari-hari hendak memasuki proses finishing album.  

Memperpanjang Kesedihan

Begitu pula saat si kecil Seika diminta menyanyikan beberapa baris lirik lagu ”Kembang Mawar”, kemudian Saka mendendangkan lagu ”Bapak”, semua yang duduk di deretan tuan rumah pengundang seakan menahan tetes air mata, karena teringat sosok Didi Kempot seperti yang dimaksud dalam judul lagu ”Bapak” itu.

tribute-to-ambyar3
JUGA DISIAPKAN : Sambil masih malu-malu, anak bungsu Didi Kempot (alm) dari istri Yan Vellia yang bernama Seika, harus dibujuk Yudith Nuraini (anggota DK Voice) untuk menyanyikan lagu ”Bapak” di tengah acara konferensi pers launching album kompilasi yang digelar di kafe @omaheWhawhin.resto, Sabtu malam Minggu (20/6). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Cuplikan lagu-lagu yang dilakukan dua anak itu, bukan bermaksud untuk mengingat dan memperpanjang kesedihan yang sedang diupayakan agar makin berkurang dan hilang. Namun, adegan itu untuk memperlihatkan bagaimana kesiapan dua anak itu mulai menapaki jenjang kehidupan meneruskan jejak sang ayah, sebagai seniman atau penyanyi dangdut Jawa.

Sekaligus untuk memperlihatkan, bagaimana dua anak itu sudah mampu memsuki kehidupan di industri musik yang menurut sang ibu tidak begitu sulit ketika mereka menjalani proses rekaman.

”Kalau Seika memang masih belum akrab dengan proses rekaman. Karena usianya belum genap 4 tahun. Tapi waktu berusia 2 tahun, nyanyi lagu ‘Tokek’, proses rekamannya termasuk lancar. Kalau Saka memang sudah siap dan akrab dengan proses rekaman,” jelas Yan yang diikuti anggukan bernada setuju oleh Saka,ketika ditanya ibunya apakah ingin meneruskan jejak sang ayah Didi Kempot?.

Kebutuhan Harus Dicukupi

Acara di kafe milik Wawin Laura yang nota bene anggota Didi Kempot Management (DKM), sekaligus menandakan bahwa masih ada keinginan dan potensi yang cukup besar untuk terus menjaga kibar bendera yang sudah dipasang tegak dan tinggi oleh Didi Kempot.

tribute-to-ambyar2
UNJUK KEBOLEHAN : Anak pertama Didi Kempot (alm) dari istri Yan Vellia, Saka, mencoba unjuk kebolehaannya menyanyikan lagu ”Kembang Mawar” di depan ara awak media dan publik pengunjung konferensi pers launching album kompilasi yang digelar di kafe @omaheWhawhin.resto, Sabtu malam Minggu (20/6). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Terlebih, ada kesadaran di antara potensi SDM yang ada terutama dari keluarga besar DKM bahwa talenta bermusik dan produktivitas di bidang musik yang sudah dihasilkan DKM, masih bisa dilanjutkan walau tanpa Sang Maestro Didi ”Kempot”Prasetyo.

Dan kemungkinan yang paling masuk akal mengapa acara launching album itu terjadi, karena produktivitas di industri musik terbukti bisa menghasilkan banyak uang/materi, yang diharapkan bisa mencukupi kebutuhan hidup, memelihara status sosial dan popularitasnya sebagai keluarga selebritas, di tengah industri musik di Tanah Air, bahkan di kancah industri musik dunia.  

Selain itu, sepeninggal Sang Raja Besar Dangdut Jawa, berbagai kebutuhan harus tetap dicukupi yang hanya bisa didapat dari meneruskan dan mengelola produksi industri musik yang sudah menjadi habitat keluarga besar DKM atau siapa saja yang pernah dihidupi oleh aktivitas Didi Kempot.

Sebab, jelas tidak bisa dipungkiri bahwa Didi Kempot adalah satu-satunya motor penggerak ekonomi bagi keluarga besarnya. Meskipun, tak bisa dikesampingkan pula peran dan dukungan orang-orang terdekat yang telah ikut mengantar sukses almarhum sebagai Raja Besar Dangdut Jawa, Sang Maestro Dangdut Jawa, The God Father of Broken Heart maupun Lord Didi Kempot, terutama tiga istri dan keluaga masing-masing yang ditinggalkan.

Hanya Pengisi Acara

Karena alasan-alasan logis seperti itulah, maka roda produksi jasa hiburan berupa lagu-lagu akan terus digerakkan. Alasan yang ideal dan esensial yang pernah menjadi komitmen Didi Kempot, mungkin akan ada di urutan kesekian, meski sayup-sayup terucap dalam konferensi pers launching album malam itu.

tribute-to-ambyar4
MEWAKILI KELUARGA : Adik Didi Kempot (alm) dari lain ibu, Eko Gudel, tampak sedang menyampikan harapan sekaligus dorongan semangat ketika diminta berbicara mewakili keluarga mbah Ranto Edy Gudel (orangtua almarhum), pada acara konferensi pers launching album kompilasi yang digelar di kafe @omaheWhawhin.resto, Sabtu malam Minggu (20/6). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)



Dan karena alasan-alasan logis itu pula, selain launching album (hanya) melalui YouTube itu, juga disebut DKM group siap menjadi pengisi sebuah konser akbar yang akan digelar sebuah promotor (EO) di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, 14 November mendatang.

Untuk konser itu, DKM Group yang terdiri dari DK Voice (termasuk Trio Kebo) berisi sejumlah penyanyi (termasuk Yan Vellia) dan unit iringan Lare Jawi sudah mempersiapkan diri. Karena menurut Yan Vellia selaku Manajer GKM, tiket masuk konser sudah mulai dijual melalui on-line.

Konser akbar dengan judul ”Tribute to Ambyar tak Jogeti” itu, dirancang sekitar setahun sebelumnya oleh sebuah promotor di Jakarta. Temanya kurang lebih sama dengan yang disebut-sebut dalam tayangan konser Didi Kempot di sejumlah TV nasional menjelang ajal tiba,5 Mei lalu.

Tema Jadi ”Tribute”

Waktu itu yang mencuat judul”The God Father of Broken Heart”,” Ambyar Dijogeti Wae” dan sebagainya. Sebab itu, karena tokoh sentral dan utama yang akan tampil pada konser akbar itu ”tiba-tiba berpulang”, beberapa bulan kemudian atau saat acara konferensi pers launching album, terdengar lagi tema konser sebagai hasil adaptasi dengan situasi riil yang berbunyi ”Tribute to Ambyar tak Jogeti”.

”Waktu awal dirancang, jauh sebelum ada pandemi virus Corona, saya sudah dengar pak Presiden Jokowi akan diundang (pihak promotor/EO)  untuk hadir di konser itu. Tetapi, saat konser November nanti apakah situasi sudah bisa normal lagi, saya tidak tahu”.

”Kalau normal, apakah pak Presiden Jokowi bisa berkenan hadir, saya juga tidak tahu. Karena posisi kami nanti hanya sebagai bagian dari pengisi acara. Tapi seandainya pak Presiden ‘kersa rawuh mirsani’ konser, alangkah bangga dan bahagianya kita semua,” ujar Yan menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com setelah konferensi pers itu usai.      

tribute-to-ambyar5
MENGISI ACARA : Pelantun single lagu ” Kreteg Bacem” Yudith Nuraini dan Rima Irviana, dua anggota DK Voice yang ikut mengisi acara memeriahkan konferensi pers launching album kompilasi ”Persembahan Kagem Bapak”, yang digelar Yan Vellia di kafe @omaheWhawhin.resto, Sabtu malam Minggu (20/6).

Berkait dengan jaminan hidup dan kelanjutan gerak aktivitas yang masuk kategori ekonomi kreatif itu, selain aktivitas produk lagu-lagu dan jasa hiburan musik, ternyata masih ada potensi lain yang makin bisa diharapkan. Yaitu royalti dari penggunaan lagu-lagu karya Didi Kempot yang digunakan publik untuk kepentingan komersial.

Bintang Iklan dan Royalti

Namun ketika menjawab pertanyaan para awak media tentang hak royalti almarhum siapa yang berhak menerima?, Yan Vellia berucap, ihaknya akan membicarakan mengenai itu dengan istri pertama almarhum yang tinggal di Ngawi (Jatim) bernama Saputri. Dalam konferensi pers malam itu tidak disebutkan istri kedua bernama Dian Ekawati akan diajak berunding.

Dalam beberapa bulan sebelum almarhum adik kandung seibu dari Sentot (alm) dan Mamik Prakosa Podang (alm) itu, selain konser ”off air” di berbagai tempat dan konser ”on air” di sejumlah TV nasional, masih ada potensi penghasilan dari royalti. Bahkan, menjelang Lebaran lalu almarhum sempat muncul sebagai tokoh sentral bintang iklan obat masuk angin dan aplikasi belanja di internet.

”Termasuk sisa 31 titik konser yang sudah kami sepakati, kami akan mengajak bicara dengan mbak Putri (Saputri) di Ngawi. Karena, kami tidakbisa memutuskan sendiri”.

”Setelah (peringatan) 40 hari (meninggalnya DidiKempot) ini, kami baru bisa membuka pembicaraan untuk mencari solusi atas semua pekerjaan yang ditinggal almarhum”, ujar Yan sambil menyebut bahwa urusan lelang patung sepenuhnya sudah diserahkan kepada Wawin Laura untuk mengurusi (mengelola). (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

 

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan