New Normal, Kebutuhan Elpiji Melon Belum Terdongkrak

elpiji-karanganyar
TABUNG ELPIJI – Tumpukan tabung elpiji siap edar di agen di Karanganyar. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Meski sudah memasuki tahap new normal sejak 10 Juni lalu, dengan mulai dibukanya kran untuk pedagang kuliner di berbagai kawasan seperti Taman Pancasila depan rumah dinas bupati, atau di Alun-alun Karanganyar, ternyata belum membuahkan perubahan signifikan pada perekonomian.

“Terbukti dengan masih sedikitnya pedagang kulineran, dan secara lebih nyata jatah tabung elpiji melon untuk pedagang kecil ternyata belum beranjak naik. Bahkan saat hari raya Idul Fitri lalu, tidak ada permintaan tambahan tabung elpiji,’’ kata Zaenal Maarif Kabag Perekonomian didampingi Daryoko Kasubag Sumber Daya Alam dan Mineral Karanganyar, Kamis.

Jatah perbulan sekitar 960.000-an naik turun sedikit, ternyata tidak bertambah atau bisa dibilang pas untuk kebutuhan warga Karanganyar. Malah penggunaan tabung elpiji besar untuk pelaku usaha besar, ternyata tidak terdeteksi. Alias mereka juga banyak menggunakan elpiji melon, sama dengan yang lain dan tidak mengakibatkan pengaruh apapun.

Dulu, sebelum pandemi Covid-19, petugasnya bersama Satpol PP, polisi bahkan TNI, harus sering mengoperasi restoran besar yang menggunakan tabung elpiji kecil, namun itu tidak pernah lagi dilakukan semasa pandemi. Artinya tidak ada gejolak apapun.

Zaenal dan Daryoko justru khawatir jika banyak restoran besar malah tidak beroperasi sehingga mereka tidak membutuhkan lagi tabung besar atau tabung melon karena berhenti beroperasi. Namun mudah-mudahan itu sekadar perasaan saja.

Di sisi lain, sebetulnya pelaku usaha kuliner sebetulnya masih cukup eksis karena banyak di antara mereka yang masih berjalan dengan cara online ataupun siap antar makanan, atau paling tidak mereka menggunakan cara take and carry, model dibungkus bawa pulang.

Ini bisa dilihat dari pajangan online yang semuanya menjajakan makanan, kulineran, yang menjadi indikasi mereka eksis meski di masa krisis akibat pandemi. Sehingga kebutuhan elpiji melon sebanyak 960.000-an perbulan itu masih mencukupi walau tidak meningkat.

Dahulu masih sebelum Ramadhan saja sudah ada permintaan tambahan elpiji melon paling tidak 20.000-an sehari dihitung berapa kali libur agar tidak terjadi gejolak penimbunan. Namun sekarang tidak ada lagi. Puasa cenderung tenang, hari raya juga tenang, memasuki liburan juga tenang. Tak ada permintaan tambahan pasokan elpiji melon.

Daryoko mengatakan, memang di atas kertas meski sudah tiga minggu memasuki new normal, belum berpengaruh secara signifikan dengan kembalinya aktivitas ekonomi, khususnya kulineran, sehingga masih harus dipacu lagi masyarakat agar kembali seperti semula meski tetap dalam protokol kesehatan.

Masyarakat terlanjutr takut untuk jajan kulineran seperti dulu, karena terlanjur ada stigma soal Covid-19 yang salah kaprah sehingga mereka takut jajan di luar rumah. Sehingga belum signifikan sektor ini babngkit. Ini yang perlu dipulihkan.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan