Beranda PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI Suka Duka Ujian Kelulusan Kuliah Masa Pandemi Covid-19

Suka Duka Ujian Kelulusan Kuliah Masa Pandemi Covid-19

isuda-drive-thru-uns
KETERANGAN WISUDA : Suwarno (kanan) memberikan keterangan seusai wisuda drive thru bersama Rektor UNS. (suaramerdekasolo.com/Evie Kisnindya)

*Ada Syarat Tertentu, UNS Pangkas Tahapan Ujian Akhir

SOLO,suaramerdekasolo.com – Banyak adaptasi dan penyesuaian yang harus dilakukan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di era pandemi dan new normal. Salah satunya ujian untuk meraih gelar maupun perayaan wisuda.

Untuk ujian meraih gelar doktor, di era pandemi ini UNS membebaskan mahasiswanya untuk ujian terbuka jika memiliki jurnal internasional terindeks scopus.

Suwarno, wisudawan dari Program Doktor Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) merupakan salah satu yang merasakan suka dukanya menyelesaikan studi di era pandemi. Untuk menyelesaikan program doktornya, Suwarno mengikuti berbagai ujian secara daring. Tentu banyak hal yang harus dia persiapkan untuk ujian semacam itu, salah satunya koneksi yang stabil.

Sesuai ketentuan, lelaki ini pun harus menempuh tujuh kali ujian. Namun ada satu ujian yang tak perlu ia lakukan yakni ujian terbuka.
Pasalnya ada kebijakan kampus di masa pandemi ini dibebaskan mengadakan sidang terbuka. Jika telah memiliki jurnal terindeks scopus.

Kendati memperoleh kemudahan, tapi Suwsrno mengakui jika ia memang merasa ada yang kurang saat ujian tertutup. Sebab biasanya ujian tertutup ia hanya berada di rumah.

Saat dinyatakan lulus, hanya dosen penguji dan keluarga yang mengucapkan selamat. Tak ada ucapan dari rekan sejawat maupun teman kuliah.

Untungnya saat wisuda, Suwarno terpilih mewakili lulusan di Program Doktor untuk mengikuti wisuda secara offline di kampus. Dengan menaiki mobil listrik milik UNS, Suwarno dikukuhkan secara langsung oleh Rektor.

Sementara, demi bisa mengikuti wisuda offline, Irfiade Zarkasyi Talaththof rela untuk menunggu lebih lama perayaan wisudanya. Sebab beberapa waktu setelah itu, pandemi covid-19 mulai mewabah di Tanah Air dan di Kota Bengawan.

“Waktu itu saya disuruh memilih oleh pihak kampus. Ingin wisuda daring atau offline seperti biasanya. Saya memilih wisuda offline. Makanya saya tidak ikut wisuda daring bulan lalu. Karena saya masih berharap pandemi ini cepat selesai,” ungkap Irfiade, wisudawan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS ini.

Sayangnya, harapan hanya tinggal harapan. Masa pandemi masih berlangsung hingga sekarang. Praktis Irfiade harus rela melangsungkan prosesi wisudanya via online. Namun sehari sebelum wisuda digelar, Irfiade mendapat kabar dari pihak kampus bahwa dia ditunjuk sebagai perwakilan fakultas. Untuk datang ke kampus dan dikukuhkan langsung oleh Rektor dengan cara drive thru.

“Sebenarnya sudah dikabari H-seminggu kemarin. Tapi baru tahu sehari sebelum wisuda kalau ada simbolisasi drive thru ini. Saya kebagian naik motor listrik milik UNS. Rasanya istimewa banget,” kata pria kelahiran Surakarta, 30 April 1996 ini.

“Rasanya spesial banget. Hanya 15 wisudawan yang diberi kesempatan dipindah kuncir oleh Rektor langsung. Saya salah satunya. Setidaknya saya tetap merasakan euphoria wisuda, meski tidak seperti biasanya,” beber anak pasangan Ridwan Iriyanto dan Chairany Fitriyah ini.

“Sebelumnya, saya sudah melewati beberapa tahapan setidaknya delapan ujian di masa pandemi ini. Semuanya menggunakan metode daring. Tidak bertatap muka dengan penguji,” ujarnya.

Rektor UNS, Prof Jamal Wiwoho menyebut wisuda kali pihaknya mencoba mengkombinasikan wisuda daring dan luring. Sebelumnya, pada 2 Mei lalu, wisuda digelar daring lantaran situasi masih dengan suasana pandemi.

“Kali ini sudah ada era new normal. Banyak pelonggaran dan penyesuaian yang dilakukan. Namum tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku,” jelasnya.(Evie Kusnindya)

Editor : Budi Sarmun

 

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan