Beranda SERBA-SERBI HUKUM KRIMINAL Tiga Terdakwa Kompak Melaksanakan Pekerjaan Sesuai SOP

Tiga Terdakwa Kompak Melaksanakan Pekerjaan Sesuai SOP

sidang-bank-oub
PEMBUKTIAN- JPU, penasihat hukum terdakwa, serta terdakwa Meliawati di hadapan majelis hakim saat mengecek slip penarikan uang di Bank UOB yang dilakukan Waseso dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta, Senin (29/76). (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

*Saksi Korban Bantah Keterangan 3 Terdakwa

SOLO,suaramerdekasolo.com – Sidang kasus dugaan kejahatan perbankan di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta, Senin (29/6) agendanya pemeriksaan tiga terdakwa yakni para mantan pejabat Bank UOB, Natalia Go, Vincensius Hendry dan Meliawati.

 Ketiga terdakwa meski disidang secara bergiliran menyatakan bahwa saat mereka menjalankan tugas yakni mengizinkan penarikan uang yang dilakukan salah satu pemilik rekening (Waseso-red) sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). 

Ketiga terdakwa menjelaskan dihadapan majelis hakim yang diketuai H Muhammad SH MH, bahwa syarat penarikan uang dalam rekening bersama atau join and, dapat dilakukan satu pemilik rekening asalkan pemilik rekening lainnya turut menandatangani slip penarikan uang dan menyertakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli. 

”Syarat dalam ketentuan terpadu seperti itu, sehingga saya mengizinkan adanya penarikan uang yang dilakukan Waseso setelah ada pengecekan dari teller,” terang Vincensius Hendry dalam keterangannya. 

Waseso dapat menarik uang di rekening bersama, kata Vincensius, karena membawa KTP asli milik Roestina Cahyo Dewi dan dalam slip penarikan uang sudah ada tanda tangan Roestina Cahyo Dewi. 

Menurutnya, sesuai ketentuan terpadu atau SOP tidak ada kewajiban untuk menghubungi atau mengkonfirmasi kepada Roestina Cahyo Dewi saat Waseso melakukan penarikan uang di Bank UOB.

  Adapun Meliawati yang diperiksa terakhir sebagai terdakwa menyatakan bahwa setiap kali ada penarikan uang, pihak bank mengirim rekening koran di setiap bulannya kepada pemilik rekening.

”Selama mengirim rekening koran ke pemilik rekening, tidak ada komplain dari pemilik rekening,” jelasnya.

Sidang pemeriksaan terdakwa tersebut, jaksa penuntut umum (JPU) Rr Rahayu Nur Raharsi SH MH maupun penasihat hukum terdakwa yang dikoordinir Zainal Arifin SH MH, juga menanyakan kinerja ketiga terdakwa saat melaksanakan pekerjaan dalam merekomendasi adanya penarikan uang yang dilakukan Waseso. 

Adapun dalam kasus lain yakni perkara tindak pidana pemalsuan tanda tangan, dimana Waseso yang memalsukan tanda tangan Roetina Cahyo Dewi di slip penarikan uang di bank UOB dinyatakan bersalah dan diputus tiga tahun penjara oleh putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) sekitar bulan pertengahan Tahun 2017. 

Adapun Roestina Cahyo Dewi yang ikut menghadiri sidang membantah sebagian besar keterangan para terdakwa. Dia mengaku tidak pernah memberikan KTP asli miliknya kepada Waseso untuk penarikan uang di Bank UOB. ”Terlebih lagi, beberapa kali Waseso memalsukan tanda tangan saya untuk menarik uang milik saya sekitar Rp 21,6 miliar yang berasal dari buyer luar negeri,” ungkap pemilik pabrik garmen PT Ladewindo di Karanganyar itu. 

Keterangan lain yang dikemukakan para terdakwa bahwa pihak bank mengirim ke rekening koran kepada pemilik rekening, hal itu juga dibantah Roestina Cahyo Dewi. Alasannya, dia yang tinggal di Jalan Jaya Wijaya Nomor 188 A Surakarta tidak pernah menerima rekening koran dari bank.

”Sampai saat ini, saya tidak pernah mendapat rekening koran dari bank,” terang saksi korban tersebut setelah sidang pemeriksaan tiga terdakwa selesai. Lucunya lagi,” kata Dewi, saat dia mengambil uang di Bank UOB pada 24 April 2013, sekitar Rp 925,1 juta yang hanya menyertakan tanda tangan Waseso, namun tidak membawa KTP Waseso yang asli juga diproses pihak bank.

”Karena tidak ada kerugian dan tidak ada pemalsuan tanda tangan, penarikan uang yang saya lakukan tersebut tidak diproses secara hukum,” urainya.

 Yang menurutnya anehnya, dalam ketentuan penarikan uang dapat dilakukan salah satu pemilik rekening dengan syarat penarik uang juga menyertakan tanda tangan pemilik rekening satunya dan menyerahkan KTP asli pemilik rekening satunya.

”Namun kenapa saat saya mengambil uang, tanpa menyertakan KTP asli milik Waseso, juga bisa menarik uang sesuai yang saya inginkan,” papar pemilik rekening Rp 21,6 miliar itu kepada media. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

 

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan