Lagu-lagu Didi Kempot Membuat Senang Banyak Orang

didi-kempot-keturunan-jawa1
SEKILAS TAK BEDA : Sepasang suami-istri sebagai tamu yang mengapit Didi Kempot sebagai tuan rumah itu, sekilas tak ada beda ciri-ciri ras dan posturnya, karena memang sama-sama keturunan wong Jawa dan sama-sama punya peradaban/budaya Jawa. Itulah yang membuat warga Suriname mencari tokoh ikon wong Jawa idolanya sampai di Solo, beberapa tahun lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Didi Kempot Sukses Ajak Publik Pahami Budaya Jawa (2-habis)

BAHASA Jawa adalah bahasa yang hingga kini ”tidak mudah dipahami suku-suku lain” di Nusantara ini, bahkan sempat menimbulkan kecurigaan suku lain terhadap upaya Jawanisasi dengan adanya program transmigrasi.

Tetapi faktanya, ketika bahasa Jawa itu terbalut musik dangdut dan dilantungkan Didi Kempot sampai 700-an single, sangat mudah membuat menghibur dan bergoyang-goyang banyak orang, segala usia, tak peduli jabatan dan status sosialnya, bahkan lintas suku dan lintas bangsa.

Semua seakan bisa menikmatinya, bisa merasakan pesan yang disampaikan lewat lirik-lirik lagunya dan bisa membuat senang semua yang mendengarnya. Kesimpulannya, Didi Kempot telah membuat senang atau happy banyak orang.

”Kalau sampai terbentuk komunitas ‘Kempoters’, kemudian disusul komunitas ‘Sobat Ambyar’ di mana-mana, itu bukti bahwa banyak sekali orang merasa dibuat happy oleh Ndane. Itu bukti bahwa kalangan milenial yang diwadahi ‘Sobat Ambyar’ itu, sangat menyukai lagu-lagunya Ndane,” jelas Mbolo Wawan Liswanto, sahabat seperjuangan tatkala sama-sama merantau di Jakarta sebagai pengamen trotoar.

Bermakna Filosofis

Melihat kehebatan karya-karya Didi Kempot, tentu perlu mencermati profil setiap karya dan makna konotatif atau juga makna filosofis yang terkandung dalam lirik-lirik lagunya.

Selain bisa mengetahui kekuatan makna lirik dan lagunya secara utuh, mendiagnosa lagu-lagu almarhum bisa juga untuk mengetahui perkembangan psikologi kebatinan dan tingkat penguasaan bahasanya (Jawa).

Tingkat kematangan Didi Kempot dalam melahirkan lagu-lagu yang berbobot dan bermakna filosofis maupun konotatif apakah ada unsur (bimbingan) orang lain atau ahli atau konsultan?. Baik sang istri, Yan Vellia maupun Mbolo selaku sahabat dekatnya dengan tegas menyatakan ‘tidak”.

didi-kempot-keturunan-jawa2
CAra MENIKIMATI : Meski sama-sama merasa berasal dari perdaban/budaya Jawa, warga Suriname yang dijamu Didi Kempot di Solo, beberapa tahun lalu, punya cara tersendiri untuk menikmati lagu-lagu dangdut Jawa yaitu berdansa dengan pasangannya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Saya belum pernah lihat ada orang lain (konsultan/ahli bahasa) didatangkan untuk menulis lagu. Jadi enggak ada yang memberi saran. Papi menulis langsung syair-syair lagu yang diciptakan,” ujar Yan menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, beberapa waktu lalu.

Tak hanya Yan, Mbolopun menegaskan bahwa dalam mencipta lagu yang dimulai dari menulis hingga proses aaransemen musik iringan kemudian proses rekaman, adik kandung pelawak Mamik Prakosa ”Podang” (alm) itu tak pernah melibatkan konsultan bahasa atau ahli bahasa (Jawa).

”Jadi, selain dari sisi pesan yang disampaikan, walau menggunakan bahasa Jawa, yang mendengarnya bisa merasakan makna pesan itu. Padahal, banyak yang belum paham benar bahasa Jawa. Di situlah kehebatan karya-karya Ndane (”Komandane”, panggilan akrab Didi Kempot-Red),”
sebut Mbolo.

Mempengaruhi Emosi

Kemampuan Didi Kempot menulis lagu dengan syair yang mampu menyentuh nurani hingga mempengaruhi emosi orang banyak walau menggunakan bahasa Jawa, itu merupakan hal yang wajar untuk seorang anak pelawak bernama besar Ranto Edy Gudel, adik pelawak (Srimulat) Mamik Prakosa Podang dan belasan tahun punya pengalaman sebagai pengamen jalanan.

Dua tempat yang menjadi habitat sangat baik hingga Didi Kempot makin matang menulis lagu menggunakan parama sastra atau tata bahasa Jawa dengan baik, bahkan berestetika tinggi, adalah lingkungan panggung ”perusahaan lawak” Srimulat, sekaligus Ketoprak Cokrojiyo.

didi-kempot-keturunan-jawa4
HABITAT YANG MEYAKINKAN : Sukses Didi Kempot dalam ”memasarkan” lagu-lagu dangdut Jawa, tak lepas dari potensi habitat yang total mendukung dan meyakinkan. Karena, di antara keluarga besarnya, ada kakak kandung bernama Sentot (alm), yang juga penyanyi. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bahkan  juga panggung ludruk dan  pentas-pentas wayang kulit yang pernah dijenal dekat karena almarhum sang ayah dan sang kakak ada di situ sebagai pemeran dan bintang tamunya.

‘”Karena saya pernah semobil dengan almarhum yang kebetulan sedang menulis lirik lagu ‘Banyu Langit’, maka saya berkeyakinan Ndane tidak melibatkan konsultan bahasa (Jawa). Beliau kelihatan bisa sendiri menyusun kata-kata, yang ternyata mirip yang ada di karya-karya pujangga dan empu-empu karawitan itu,” tegas Mbolo pada kesempatan terpisah.

Dikayakan Kesenian Tradisi

Panggung-panggung kesenian tradisional yang selalu disimak Didi Kempot langsung atau tidak langsung, jelas memberi pelajaran yang luar biasa banyak khususnya dalam soal kebahasaan.

Karena semua panggung hiburan di atas, secara langsung maupun tidak, telah mengajarkan cara penggunaan bahasa Jawa terutama ”parama sastranya”, juga istilah-istilah yang ada dalam kehidupan keseharian masyarakat Jawa.

”Saya yakin, Ndane juga memperkaya pengetahuannya tentang bahasa (Jawa) dari panggung-panggung itu. ‘Kan, semua panggung itu menggunakan bahasa pengantar atau antawecana dengan bahasa Jawa. Kadang krama tengahan, krama inggil juga ngoko,” sebut Mbolo.

Meski sangat dimungkinkan Didi Kempot belajar dan memperkaya pengetahuan bahasa Jawa dari panggung-panggung dan habitatnya, dwija Sanggar Pawiyatan Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, KRA Budayaningrat menyebut, banyak lagu-lagu Raja Dangdut Jawa itu menggunakan parama sastra atau kaidah teknis kebahasaan secara secara benar, meski tidak lengkap dan tidak disadari penulisnya.

didi-kempot-keturunan-jawa5
TOKOH KURATOR : Penguasaan pengetahuan tentang budaya Jawa khususnya bahasa yang dimiliki KRA Budayaningrat, selain bermanfaat bagi kalangan siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, bisa mengedukasi para penikmat dangdut Jawa karya Didi Kempot setelah dikurasi lirik-lirik lagunya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bawa Simbol Budaya Jawa

Lihat saja kata ”Banyu Langit” itu jelas memakai ”wangsalan” atau kiasan dari kata ”air hujan”. Demikian juga ketika mendengar penggalan kalimat ”…nadure pari, thukule suket teki” pada lagu berjudul ”Suket Teki”. Inilah contoh-contoh bahan dan rangkaian kalimat berestetika dalam karya-karya Didi Kempot.

Rangkaian kalimat ”wangsalan” yang menggunakan susunan ”purwakanthi” dari 700-an lagu-lagu Didi Kempot, ternyata banyak didapati dalam gending-gending karya empu-empu karawitan dan tembang-tembang Macapat karya para pujangga Jawa yang sudah dikenal luas.

”Yang jelas, Didi Kempot telah sukses mengajak banyak orang untuk memahami bahasa Jawa. Dengan demikian, dia juga berhasil mengenalkan budaya Jawa. Karena dia sering tampil mengenakan stelan busana beskap dan blangkon, sebagai simbol dan atribut dari budaya Jawa”.

”Karena lagu-lagunya, banyak orang menjadi suka budaya Jawa. Padahal mereka itu ada yang bule, Jepang, Suriname dan sebagainya,” jelas KRA Budayaningrat yang kini mengaku lebih sibuk dari biasanya, karena proses belajar-mengajar dengan para siswanya dilakukan secara ”online”.

Walau bahasa Jawa yang digunakan Didi Kempot tak seperti proses belajar-mengajar di sanggar yang begitu intensif, tetapi karya-karyanya banyak bercerita tentang kondisi riil yang tidak jauh dari urusan asmara.

Sampai Menangis Histeris

Tetapi segala kondisi dalam hubungan asmara dalam konotasi yang sederhana, yang gampang dipahami generasi sekarang ini, entah yang bermakna galau, ingkar janji (”Cidra”), kecewa (”Tatu), putus cinta, bohong (”Kalung Emas”/”Suket Teki”).

didi-kempot-keturunan-jawa3
EKSPRESI UMUM : Sama dengan warga di Tanah Air pada umumnya, bila mendengar lagu-lagu dangdut (Jawa), pasti spontan akan melantai dan bergoyang. Tetapi bagi warga Suriname yang dijamu Didi Kempot di Solo, beberapa tahun lalu, bisa menikmatinya dengan berdansa berpasangan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Juga yang berkonotasi benci seperti dilukiskan dalam lagu ”Pamer Bojo”), rindu (”Layang Kangen”) dan segala kondisi dalam hubungan asmara tetapi dalam konotasi yang sederhana seperti dilukiskan di antara 700-an single lagu karyanya.

Meski musik dangdut pernah ”dibenci” kalangan muda dari keluarga-keluarga elit di Tanah Air, tetapi konser-konser yang digelar secara off air dan on air menjelang ajal Lord Dangdut Jawa, tampak sekali gestur dan ekspresi yang berkebalikan.

Hampir semua wajah yang menonton di barisan paling depan dan ”bintang tamu” yang diajak Didi Kempot naik panggung, begitu happy, ceria bahkan lepas emosinya sampai menangi-snangis histeris. Padahal, kebanyakan mereka itu kalangan milenial yang rata-rata dari keluarga berkelas.

Pertemuan Sekaligus Perpisahan

Lihat saja bagaimana komentar dan antusiasme Jody Lee Warwick, seorang remaja cantik keturunan campuran yang tinggal di Purwokerto, yang pernah diajak nyanyi bersama di panggung dalam suatu konser Didi Kempot.

Lihat bagaimana pula penyanyi yang sudah terkenal di jalur pop, Yuni Shara, begitu menyukai dan merasa terhormat ketika diajak Didi Kempot untuk menjadai pasangan duet pada lagu ”Kapusan Janji”.

Walau tampak canggung, kakak Kris Dayanti itu tampak bergoyang menikmati juga meski masih agak malu-malu ketika menyanyikan lagu bergenre dangdut sebagai tanda awal ”pertemuan” sekaligus ”perpisahan” untuk selamanya, karena figur sosok yang dikaguminya berpulang menjelang launching lagu itu.

Mereka merasa happy, merasa tersentuh nurani dan imagijansinya, hingga tampak tergila-gila saat Didi Kempot membawakan lagu-lagunya yang notabene diiringi musik dangdut, terlebih liriknya berbahasa Jawa yang tak begitu dipahami arti harafiahnya. (Won Poerwono-habis)  

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan