Bupati Wonogiri Layangkan Pengunduran Diri sebagai Calon Bupati, Rencana Besok Rabu

bupati-wonogiri
FOTO DIRI/ Bupati Wonogiri Joko 'Jekek' Sutopo. (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Bupati Wonogiri Joko ‘Jekek’ Sutopo berencana melayangkan surat pengunduran diri sebagai bakal calon Bupati Wonogiri, Rabu mendatang (8/7).

Surat pengunduran diri itu dilayangkan kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan. Dia mengundurkan diri dari pencalonan jika pemungutan suara Pilkada dilaksanakan tanggal 9 Desember 2020 mendatang.

“Besok Rabu saya akan ke Jakarta (DPP PDI Perjuangan). Maksimal Kamis (9/7), langsung saya serahkan ke Jakarta. Secara kelembagaan saya ke DPP, nanti akan diarahkan ke mana, saya ikuti,” katanya, Senin (6/7).

Dalam kesempatan itu, dia akan memohon kepada DPP agar ada koreksi terkait penunjukan dirinya sebagai calon bupati. “Itu saya lakukan karena kami harus bertanggung jawab moral dan konsisten dengan statemen yang kami sampaikan,” ujarnya.

Namun, jika permohonan pengunduran diri sebagai calon bupati itu tidak direstui DPP PDI Perjuangan, dia akan mengambil sikap sebagai seorang petugas partai. “Tinggal kami serahkan kepada kebijakan DPP partai,” imbuhnya.

Keputusannya diambil ketika dia berperan sebagai dirijen dalam menggerakkan roda pemerintah daerah. Keputusan itu kemudian diambil dalam membangun optimisme, menimbulkan semangat dan kebersamaan. “Saya menginisiasi membangun semangat dalam rangka memberi jaminan perlindungan kepada masyarakat. Seluruh perangkat kerja harus mempunyai pemahaman yang sama dan tidak perlu berspekulasi,” imbuhnya.

Dengan cara itu, kewenangan, energi dan potensi dapat difokuskan untuk penanganan Covid-19. Menurutnya, pemungutan suara 9 Desember 2020 tidak tepat digelar karena masyarakat masih menghadapi pandemi Covid-19.

Dia menolak anggapan sebagian pihak yang menilai dirinya tidak konsisten. Pasalnya, statemen itu dia lontarkan untuk membangun optimisme dan semangat perangkat kerjanya.

“Tidak konsisten itu, misalnya Jekek dilantik jadi DPR RI, sudah diambil sumpah jabatannya. Setelah itu mundur untuk meraih jabatan tertentu. Itu berarti tidak konsisten,” katanya.

Keputusan untuk meninggalkan tanggung jawab untuk meraih kekuasan yang baru, itulah yang menurutnya tidak konsisten. (Khalid Yogi)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan