Wonogiri Waspada, Dikelilingi Daerah Zona Merah

bupati-wonogiri-jekek
FOTO DIRI : Bupati Wonogiri, Joko 'Jekek' Sutopo

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Meskipun Wonogiri sudah masuk ke dalam zona hijau, kabupaten tersebut meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, daerah-daerah di sekelilingnya, seperti Kabupaten Sukoharjo, beberapa daerah Provinsi Jawa Timur dan DIY masih masuk dalam zona merah.

Terlebih, sebagian besar pasien yang dinyatakan positif penyakit virus corona (Covid-19) di Kabupaten Wonogiri tertular dari transmisi luar daerah.

Bupati Wonogiri Joko ‘Jekek’ Sutopo mengungkapkan, awal pekan ini ada dua orang yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Mereka berinisial Z berusia 50 tahun dan W berusia 19 tahun. Keduanya merupakan warga Kecamatan Jatisrono. “Sebagian besar pasien terkonfirmasi positif karena transmisi perjalanan luar daerah,” katanya, Senin (6/7).

Pasien berinisial W sebelumnya merantau ke Surabaya. Di Surabaya, dia menjalani rapid test dan hasilnya reaktif. Namun, pemuda itu justru dipulangkan ke rumahnya di Jatisrono, Wonogiri. “Saya tidak tahu bagai mana kebijakan di Surabaya sana, dia justru dipulangkan ke Jatisrono. Kami langsung adakan test Swab dan hasilnya positif,” terangnya.

Alhasil, W diminta melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Dia tidak dirawat di RSUD karena kondisi fisiknya bagus serta kooperatif dengan pemahaman yang baik mengenai Covid-19. Pihaknya langsung melakukan penelusuran untuk mempersempit rantai penularan.

Adapun pasien berinisial Z sepekan sebelumnya sempat mengikuti kegiatan keagamaan di Demak. Dia dinyatakan positif Covid-19 pada Minggu (5/7). Pasien yang juga pengasuh sebuah pondok pesantren tersebut mempunyai penyakit penyerta, yakni diabetes melitus, pembengkakan paru-paru dan kondisi fisiknya lemas. Akibatnya, dia harus diisolasi di RSUD Soediran Mangun Sumarso (SMS) Wonogiri.

Bupati mengatakan, harus ada peningkatan kewaspadaan karena Wonogiri dikelilingi wilayah yang masuk zona merah. “Kekhawatiran kami dari awal terjawab hari ini. Fakta menunjukkan masih terjadi fluktuasi, tidak hanya dalam hitungan pekan, tetapi fluktuasi dalam hitungan hari,” ujarnya.

Oleh karenanya perlu memperkuat pemahaman kepada masyarakat. Adanya perubahan status, kebijakan di tingkat pusat, hingga terbitnya maklumat dari Polri itu tidak serta merta direspons seolah-olah pandemi telah berakhir. “Semuanya (pandemi) berakhir, itu tidak. Bukan dimaknai dengan bebas sebebas bebasnya,” terangnya.

Menurutnya interprestasi publik sudah terbelah dengan adanya kebijakan baru. Pengawasan dan kebijakannya sudah diperlonggar. “Yang penting sekarang harus ada kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan,” katanya. (Khalid Yogi)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan