Di Karanganyar Belasan SMP Kekurangan Siswa, SD Lebih Dari 20

hari-pertama-masuk-sekolah
FOTO ILUSTRASI

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Belasan SMP di Karanganyar kekurangan siswa baru saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) beberapa waktu lalu. Sedangkan SD ada lebih dari 20 sekolah yang siswanya kurang dari 20 anak.

‘’Saat ini sedang kami evaluasi kenapa, apakah memang jumlah kelulusannya kurang atau karena ada orang tua yang tidak mau menyekolahkan anak. Namun kabar sementara yang kami terima memang jumlah siswa SD yang lulus cenderung berkurang,’’ kata Tarsa Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar, Selasa.

Dia mengatakan, memang sudah agak langganan di beberapa sekolah cenderung kekurangan, misalnya sekolah di pinggiran, seperti SMP Jatiyoso 3, Jumantono 3, Colomadu 3, SMP Jenawi 3, SMP Satu atap yang di perbatasan Sragen. Malah terdengar kabar jika SMP Sragen menambah rombongan belajar, sehingga semua lari ke sana karena lebih dekat meski alamatnya di Karanganyar.

‘’Kami sedang mengevaluasi sekolahan mana yang kurang, apakah masih ada calon siswa yang belum mendapat sekolahan. Jika ada yang belum mendapat sekolahan maka kita sarankan pada sekolah untuk tetap menampung mereka.”

“Pada saat sekolah sudah kita gratiskan, maka harus tidak ada lagi anak mengeluh tidak bisa sekolah karena biaya, semua sudah ditanggung negara dan semua anak harus sekolah. Tinggal bagaimana meyakinkan orang tua agar anak bisa tetap sekolah.

Jadi sampai waktu masuk sekolah pada akhir Juli atau Agustus nanti sekolah masih bisa menerima siswa baru yang menampung anak-anak yang tidak mendapat sekolah. Semua harus tertampung dan sekolah,” imbuhnya

Sedangkan untuk siswa SD, Dibud akan menyisir ke desa-desa, mengerahkan petugas Dikbud Kecamatan untuk mendata semua anak usia sekolah, termasuk meminta bantuan aparat RT. RW dan desa, untuk menyisir jangan sampai ada anak usia sekolah yang belum masuk.

Tahun lalu ada 26 SD yang direkomendasi DPRD untuk digabung (diregrouping) untuk lebih efisien, namun karena pertimbangan tertentu masih belum terlaksana. Antara lain jarak sekolah jika diregrouping, apakah memberatkan, fasilitas belajar mengajar, jumlah guru, semua jadi pertimbangan.

“Yang jelas jika memang mendesak bisa saja dilakukan regrouping SD untuk efisiensi. Namun memang mempertimbangkan juga faktor jarak sekolah dengan sekolah di atasnya, karena sistem zona dalam PPDB yang masih dilaksanakan,” ungkap Tarsa.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan