Masuk Ponpes, Santri Assalam Wajib Rapid Test

ponpes-assalam-solo
GAPURA: Gapura masuk Pondok Pesantren Assalam yang diresmikan, Rabu (8/7). (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)

SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Pondok pesantren modern Assalam akan mulai pembelajaran tatap muka mulai 2 Agustus mendatang.

Sekretaris Pondok Arkanudin Budiyanto mengemukakan, pihak sekolah akan memberlakukan protokol kesehatan secara ketat dengan kembali masuknya santri ke ponpes.

“Juli awal kemarin kami sudah mulai tahun ajaran baru namun masih menggunakan sistem daring. Mulai 2 Agustus, secara bertahap santri akan kembali masuk pondok untuk mengikuti pembelajaran tatap muka karena ada sejumlah materi yang tidak bisa diajarkan sevara daring. Kami perlakukan protokol kesehatan secara ketat, kata Arkanudin di sela sela kegiatan peresmian stadion dan gapura Ponpes Assalam, Rabu (8/7).

Dikemukakan, sebelum kembali masuk pondok, ara santri diwajibkan membawa hasil rapid test. Pihak pondok juga membatasi jumlah pengantar santri saat pertama masuk.
Sebelum masuk pondok, siswa juga diimbau untuk melaksanalan karantina mandiri selama 14 hari. Seluruh santri maupun pengantar juga akan discreening dan disemprot desinfektan. Sebanyak 2.150 santri akan masuk ke pondok secara berkala sehingga mengurangi resiko.

“Yang pertama didatangkan 530 santri baru yang berasal dari 34 provinsi dan lima negara. Protokol kesehatan yang kami terapkan sangat ketat untuk siswa mengingat kewasadaan terhadap penularan Virus Korona, ” imbuhnya.

Kendati pembelajaran tatap muka diberlakukan Agustus mendatang, namun pondok tetap memberi toleransi terhadap orangtua yang keberatan anaknya mengikuti kuliah tatap muka. Demikian pula untuk santri yang masih berada di zona merah dan belum bisa keluar. Mereka ini masih diizinkan untuk menggunakan pembelajaran secara daring.

Dikemukakan, selama masa pandemi santri dipulangkan. Namun ada sejumlah santri dari beberapa daerah yang tertahan karena penutupan akses ke kampung halaman mereka. Sebanyak 12 santri asal Papua dan seorang asal Malaysia sempat tertahan di pondok. Namun beberapa waktu lalu akses menuju Papua sudah kembali dibuka sehingga sebagian bisa pulang. Namun sebanyak tiga santri Papua dan seorang santri asal Malayasia memilih untuk menetap di pondok.

“Mereka merasa lebih nyaman tinggal di pondok dan bisa fokus belajar sesuatu misalnya menambah jumlah hafalan Alquran, ” katanya.

Untuk santri yang tidak mudik, lanjut Arkanudin, pondok juga menetapkan standar kesehatan dan keamanan yang ketat. Santri diantau kesehatannya secara rutin oleh Assalam Medical Center. Pembimbing juga secara ketat memantau kegiatan santri. Para santri juga diberikan tambahan gizi dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Mereka juga dilarang untuk keluar pondok agar tak tertular Covid 19.
Terkait fasilitas olahraga berupa stadion, Arkanudin menyebut jika tempat itu diharap bisa dimanfaatkan oleh internal maupun eksternal salam berbagai event kompetisi .

Untuk pembangunan stadion, Pondok menghabiskan anggaran sekitar Rp 1 miliar sementara untuk gapura yang menuju pintu masuk asrama menurutnya juga menelan biaya hampir sama yakni Rp 1 miliar.(Evie Kusnindya)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan