Bupati Juliyatmono Sedang Sibuk Bagikan Degan Wulung ke Pasien Covid-19, Apakah Ada Efeknya ?

bupati-karanganyar-juliyatmono
FOTO DIRI : Bupati Karanganyar, Juliyatmono (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

ADA aktivitas baru Bupati Karanganyar Juliyatmono, selama wabah covid-19 ini sejak Maret lalu. Hampir setiap hari dia mengutus staf kabupaten untuk mengantarkan air degan wulung ke penderita Covid-19 di Karanganyar.

Entah bagaimana pengaruhnya, namun dari 62 penderia 42 sembuh dan 3 meninggal, serta 19 masih dalam perawatan.

‘’Saya tidak mengatakan air degan wulung itu obat melawan Covid-19. Namun dari turun temurun kakek nenek kita, degan wulung itu meningkatkan imunitas tubuh. Dan yang jelas secara psikologis nek diteri degan Bupati ki atine seneng. Dan senang itu termasuk imun yang baik,’’ kata Juliyatmono, Rabu.

Awal-awal wabah terjadi, dia sempat mengantarkan sendiri air degan wulung itu ke pasien di rumah sakit umum daerah Dr Moewardi atau RSUD Karanganyar. Baru belakangan ini dia mengutus stafnya seorang pegawai di Dinkes untuk mengantar degan wulung.

“Dulu degannya yang langsung diantar, namun kini malah air degan itu ditaruh di dalam botol air mineral dan diberikan ke penderita. Tetap dengan pesan, air dari Pak Bupati Karanganyar, semoga cepat sembuh.”

Dia mengatakan, itu hanya bentuk perhatian saja dari seorang Bupati kepada rakyatnya yang menderita. Bukan untuk mengobati penyakitnya, sekadar peduli saja, bahwa meski sibuk dia tetap memperhatikan rakyatnya.

Kini yang jelas, di rumahnya selalu bertumpuk degan wulung yang dia beli dari wilayah Jumapolo. Matesih, Jatipuro, yang memang cukup banyak degan wulung. Setiap pasien paling tidak diberinya enah air degan.

‘’Sekarang air degan wulung jadi mahal gara-gara sering dicari orang. Biasanya hanya Rp.10.000 atau Rp 12.000 kini sampai Rp 20.000 sebutir. Ya sudah berkah bagi mereka penjual degan wulung. Degan itu biasanya sweratnya agak kemerah-merahan, dan orang kuno memang menggunakan untuk penambah imun,’’ kata Bupati.

Namun satu hal dia selalu berpesan pada semua orang untuk percaya Tuhan yang menyembuhkan. Bukan pada air degan, atau obat. Optimisme itu obat tersendiri untuk mereka.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan