Jelang Pilkada, APTRI Jaga Suasana Tetap Kondusif

0
tebu-sragen
DIALOG BERSAMA APTRI- Kanit Ekonomi Sat Intelkam Polres Sragen dipimpin Ipda Mulyadi (kiri) dialog dengan Ketua DPC APTRI Sragen H Parwanto (kanan) yang mendukung Sragen tetap kondusif jelang pilkada.(suaramerdekasolo.com/Anindito AN)

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Menjelang Pilkada Sragen 9 Desember 2020, kalangan petani tebu tergabung dalam DPC Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Sragen ingin menjaga situasi tetap kondusif. Meski pun kondisi petani tebu saat ini banyak menghadapi persoalan.

Ketua DPC APTRI Sragen H Parwanto mengungkapkan, petani tebu di Sragen siap memberikan andil utuk menjaga situasi tetap kondusif. Dikatakan petani tebu APTRI Sragen netral, tidak memihak pada salah satu calon tertentu saat Pilkada nanti.

”Terserah anggota APTRI mau milih siapa dalam pilkada nanti. Mereka akan memberikan dukungannya, terserah saja,” tutur H Parwanto saat dimintai konfirmasi, Kamis (16/7/2020).

Tim Unit Ekonomi Sat Intelkam Polres Sragen dipimpin Ipda Mulyadi, secara khusus berdialog dengan Parwanto selaku ketua DPC APTRI.

Kapolres AKBP Raphael Sandy Cahyo Priambodo memuji sikap DPC APTRI Sragen yang ikut menciptakan situasi Sragen yang kondusif menjelang pilkada nanti. Sebab kondisi Sragen yang tertib, aman dan tenang menjadi dambaan khalayak.

Parwanto menjelaskan, sebagai pembina petani tebu prinsipnya siap bekerjasama untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat disaat pandemi Virus Covid-19 hingga pelaksanaan pilkada nanti. Dia juga menjelaskan perkembangan situasi yang menimpa 300 kelompok petani tebu anggota DPC APTRI Sragen.

Harga Gula

Dikatakan pada saat harga gula di tingkat konsumen pernah mencapai Rp 18.000 per kg, hal tersebut terjadi pada saat petani tidak memiliki gula hasil produksi. Namun pada saat petani tebu mulai bisa produksi (panen tebu) seperti sekarang ini, harga gula di tingkat konsumen mulai turun dan normal kembali.

Kondisi itu yang membuat galau petani. Artinya, lanjut Parwanto kalangan petani tidak bisa menikmati hasil produksi dengan maksimal.

Di tengah kegalauan petani pada musim produksi ini atau pada awal musim giling tebu, petani belum bisa menjual hasil tebu sesuai dengan harapan. Musim giling tebu di Pabrik Gula Mojo dimulai sekitar pertengahan Juni 2020 lalu.

Parwanto juga menjelaskan, sebelumnya pernah disepakati oleh 12 Importir Gula akan membeli semua hasil produksi petani dengan harga Rp 11.200 per kg.

Pada masa pandemi wabah covid-19, imbuh Parwanto APTRI mengharap pada 12 importir agar memenuhi kesepakatan membeli semua gula petani sesuai kesepakatan yang pernah dibuat bersama DPP APTRI. Disebutkan sejak awal musim tanam hingga panen, petani mengalami hambatan dalam produksi tebu.

”Diawali adanya pengurangan pupuk,” ungkapnya.

Selain persoalan pupuk ada lagi persoalan dicabutnya kredit ketahanan pangan dan energi. Persoalan lain adalah di lahan kering untuk menanam tebu tidak ada irigasi yang baik, sehingga usaha yang dilakukan merupakan usaha mandiri oleh petani. ”Meski banyak menghadapi persoalan, namun petani tebu yang tergabung dalam APTRI siap membantu mengelola situasi kamtibmas saat ini maupun pada masa pelaksanaan tahapan demokrasi pilkada,” ujar Parwanto.

Lelaki berkacamata itu menjelaskan kalau jumlah petani tebu anggota APTRI Sragen mencapai sekitar 5.000 petani. Dengan asumsi, setiap kelompok petani memiliki anggota antara 15 hingga 20 orang. Jumlah kelompok petani total ada 300 kelompok.(Anindita AN)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan