Petruk Adipati Lengser, Abaikan Kepentingan Rakyat

pentas-wayang-kulit-dalang-untung
PENTAS WAYANg KULIT - Dalang Untung Wiyono mementaskan wayang kulit virtual Lakon ''Petruk Adipati'' ditayangkan live streaming di Joglo Taman nDayu Desa Saradan, Karangmalang, Sragen Minggu malam (19/7).(suaramerdekasolo.com/Anindito AN)

JANGAN pernah mengabaikan amanah rakyat. Jika abai dan tak lagi memikirkan rakyat, maka seorang pemimpin pun akan mudah tumbang atau kehilangan kepercayaan dari rakyat.

Itulah sinopsis dari lakon Wayang Virtual ”Petruk Adipati” dengan dalang Ki Untung Wiyono, saat pentas di rumah Joglo Taman nDayu di Dukuh Gembong RT 08, Desa Saradan, Karangmalang, Sragen, Minggu malam.

Pementasan wayang ditayangkan lewat live streaming, sehingga bisa disaksikan langsung peminat diseberang pulau maupun manca negara sekalipun melalui youtube.
”Meski tidak ikut hadir di Joglo Taman nDayu, penonton bisa menyaksikan melalui live streaming,” tutur Untung Wiyono, mantan Bupati Sragen dua periode 2000-2005 dan 2005 – 2010 itu.

Ketua Pepadi Jateng itu memang membatasi jumlah penonton dan menerapkan protokol kesehatan physical distancing.

Pentas wayang virtual memperingati Wetonan Bupati Sepuh Untung Wiyono. Hadir sejumlah dalang kondang Ki Manteb Sudharsono, KGPH Benowo dan dalang serta pakar seni tayub/cokek Karno KD, Ki Medot Sudharsono, Ki Manto Mudo Darsono, Ki Djuyadi, Ki Sukemi, Ki Simon Cless serta sejumlah dalang profesional di Sragen.

Hadir pula beberapa sahabat Untung Wiyono, seperti Dirkeu PT PLN Pusat Sarwono, Prof Widodo Ketua Harian Pepadi Jateng, Letkol (Purn) Sutrisno, dan Dewor Sutardi, politisi.

Pesan Moral

Ketua Pepadi Sragen Narto membeberkan ceritera singkat lakon carangan wayang kulit, bahwa di sebuah Negeri Sukomarto ada sosok Petruk yang menjadi Adipati. Namun selama menjadi Adipati, Petruk tidak bisa menjalankan amanah rakyat dengan baik.

”Karena kemaksiatan bermunculan dimana-mana,” tutur Narto.

Jalan-jalan rusak serta kondisi persawahan gagal panen dan banyak hama. Sehingga Prabu Puntadewa menugaskan Gareng, untuk mengkap Petruk yang abai saat menjadi Adipati. Gareng adalah kakak Petruk dalam Punakawan.

Gareng yang mendapat perintah Prabu Puntadewa diberi kewenangan menagkap Petruk karena terlibat kasus korupsi dan membiarkan kemaksiatan muncul dimana-mana. Akhirnya di tangan Gareng itulah Petruk yang dikenal berkuasa, bisa ditaklukkan dan dilengserkan dari kekuasaannya. Dia kemudian diserahkan kepada Prabu Puntadewa untuk diadili.

Pentas wayang menyelipkan pesan moral dan kebajikan yang kental agar penguasa menghindari korupsi, berbuat baik bagi sesama dan hidup guyub rukun.
Dalang Medot Sudarsono yang mendampingi Bupati sepuh Untung Wiyono mengaku kagum, karena walaupun bukan dalang profesional Untung berani pentas dan ditayangkan lewat live streaming.

”Pentas dalang tunggal Pak Untung dan ditayangkan lewat live streaming itu mendapat apresiasi penggemar dari sejumlah kota di tanah air,” tuturnya.

Pentas yang dimulai Pukul 20.00 berakhir Pukul 23.30 itu diwarnai dengan canda tawa. Karena tak jarang Untung mencandai enam pesinden, dalang yang hadir atau pengrawit di panggung pentas wayang itu. Sehingga terpaan angin malam yang dingin malam itu seakan tak terasa, karena penonton terhibur dengan banyolan segar yang dibawakan sang dalang.(Anindito AN)

Editor : Budi Sarmun

 

Tinggalkan Pesan