Keraton Izinkan Pintu Alkid Dibuka untuk Berdagang, PKL Langsung Kenduri Syukuran

alkid-solo-jualan-pkl1
KENDURI SYUKURAN : Para PKL Alkid dan warga Baluwarti, menggelar doa wilujengan syukuran karena diizinkan kembali berjualan di Alkid di lokasi setempat, tadi sore. Tampak hadir di situ, Ketua LDA Gusti Moeng, ketua pengelola kawasan Alkid Gusti Timoer, Lurah Baluwarti, takmir masjid Baluwarti dan koordinator PKL ikut mengamini doa yang dipimpin abdidalem ulama KRT Hartoyodipuro itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Gusti Timoer Didukung Para PKL Buka Pintu Brajanala

SOLO,suaramerdekasolo.com – Lebih dari 200 pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di Alun-alun Kidul (Alkid), mengekspresikan kegembiraannya sekaligus rasa syukurnya kepada Tuhan YME, karena telah diizinkan kembali mencari nafkah dengan berjualan di tempat masing-masing di kawasan selatan Keraton Surakarta itu.

Ekspresi kegembiraan dan rasa syukur itu, diungkapkan bersama-sama dalam sebuah doa kenduri wilujengan di bagian utara Alkid. Kegembiraan itu juga diekspresikan bersama beberapa kerabat dari Lembaga Dewan Adat , di antaranya GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng) selaku ketuanya, GKR Retno Dumilah (Pengageng Pasiten), GKR Timoer Rumbai Kusumadewayani selaku ketua pengurus pengelola kawasan Alkid, KGPH Mangkubumi, GPH Nur Cahyaningrat dan sejumlah pengurus pengelola Alkid lainnya.

Momentum penting setelah insiden penutupan Alkid, Kori Brajanala dan sejumlah fasilitas publik di kawasan utara keraton termasuk tempat Alun-alun Lor kira-kira seminggu lalu, dihadiri juga para pengurus takmir masjid di Baluwarti, Lurah Baluwarti Danang Agung Wasiyanto SIP MM dan perwakilan Koramil Pasakliwon.

Baca : Breaking News : Wakil Wali Kota Achmad Purnomo Negatif Covid-19, Hasil Laboratorium Rumah Sakit di Solo

Dalam penjelasannya, Khoirul Akyar selaku Ketua Takmir Masjid dan LPMK sekaligus RW 04 Baluwarti, menyampaikan kegembiraannya karena Gusti Moeng selaku Ketua LDA dan Gusti Timoer selaku ketua pengelola Alkid bersedia mengakomodasi kegelisahan warga Baluwarti dan lebih 200 PKL Alkid.

”Kami sangat menghormati keraton. Dan kami ingin bangga tinggal di kawasan keraton, bisa mencari nafkah di kawasan keraton. Kami berterima kasih sudah difasilitasi Gusti Moeng, Gusti Timoer dan semuanya. Tetapi kami, sebenarnya sedih dan prihatin, mengapa keraton begini terus?,” ujar Khoirul di dapen Gusti Moeng dan Gusti Timoer sebelum kenduri wilujengan dimulai.  

Pertemuan yang sangat langka antara lurah dan perwakilan warga Baluwarti dengan beberapa tokoh representasi di Keraton Surakarta itu, diperoleh kesepakatan untuk membuka kembali kesempatan menjalankan aktivitas masing-masing seperti sedia kala.

Namun, ada syarat yang harus dipatuhi, yaitu tetap mendukung pemerintah yang memberlakukan aturan protokol kesehatan Covid 19. Semua bersepakat untuk bersama-sama menjaga Alkid dan kawasan cagar budaya lain di Keraton Surakarta, serta menjaga semuanya agar terhindar dari terjangkitnya virus Corona.

Baca : Paguyuban Kades Bantah Gabung Joswi

”Sebab itu saya minta, semua persyaratan protokol Covid 19 dipenuhi. Kita dukung aturan pemerintah. Teman-teman sudah diizinkan berdagang kembali, kita wajib bersyukur. Kalau sampai ada yang tidak pakai masker, akan saya denda lo. Silakan ditegur, kalau ada pengunjung yang tidak pakai masker. Fasiltas cucu tangan, harus tersedia di tiap tempat jualan. Harus jaga jarak,” pinta tegas Gusti Timoer yang disambut kata ”siap” dan ”setuju” kalangan PKL dan warga Baluwarti.

Gusti Moeng hadir selaku Ketua LDA, banyak menjelaskan perkembangan terakhir di keraton, dan menurutnya sudah seharusnya selesai. Tetapi, insiden yang muncul terakhir itu, adalah ulah seorang oknum yang mengatasnamakan utusan Sinuhun PB XIII.

”Orang itu bukan siapa-siapa. Tidak ada hubungan kekerabatan maupun hubungan kerja dengan Keraton Surakarta. Jadi, mulai sekarang jangan melayani orang itu. Dia bukan siapa-siapa. Kerabatpun bukan. Mari kita jaga kawasan keraton ini. Silakan berjualan lagi. tetapi harus taat protokol Covid 19,” pinta Gusti Moeng.

Tepat pukul 17.00, acara pokok kenduri wilujengan diizinkannya para PKL kembali berjualan di Alkid, dimulai yang didahului dengan sambutan Gusti Timoer. Abdidalem ulama KRT Hartoyodipuro mendapat dawuh Gusti Timoer untuk memimpin doa wilujengan.

Doa wilujengan berlangsung hanya sekitar 15 menit, sehabis itu Gusti Moeng kembali berbicara panjang lebar tentangf keraton dan nama-nama tempat di kawasan cagar budaya Keraton Surakarta. Tetapi intinya mengajak kalangan PKL dan warga Baluwarti untuk bersama-sama merawat Alkid dan menjaga kesehatan sesuai protokol Covid 19.

Menutup kenduri wilujengan itu, Gusti Timoer memberi tebakan isi kantong kecil warna hitam yang diacungkannya. Para PKL yang duduk lesehan di atas tikar yang bisa menebak, diberi hadiah Rp 200 ribu.

DIWAWANCARAI WARTAWAN : Gusti Moeng diwawancarai beberapa awak media yang mengikuti jalannya doa syukur wilujengan kalangan PKL dan warga Baluwarti, yang diakhiri dengan pembukaan kembali Kori Brajanala, tadi petang, setelah sekitar seminggu ditutup oknum orangnya Sinuhun PB XIII.
(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tebakan itu bisa dijawab seorang wanita pedagang, dan hadiah langsung diberikan. Diselingi peragaan cuci tangan oleh seorang cucu Sinuhun PB XIII, acara itu ditutup dengan beramai-ramai berjalan menuju Kori Brajanala Kidul yang letaknya kira-kira 200 meter dari tempat wilujengan.

Setelah isi kantong bisa ditebak ada kunci pintu kori yang oleh masyarakat kebanyakan disebutr Lawang Gapit Kidul, mereka bersama Gusti Moeng, Gusti Rento Dumilah, Gusti Timoer dan sejumlah kerabat lain berjalan ke arah utara untuk membuka Kori Brajanala Kidul yang pernah ditutup oknum yang mengaku mendapat tugas Sinuhun PB XII.

”Buka….buka…..buka…..Pintu lawang gapit dibuka….Hidup Gusti Moeng… hidup Gusti Moeng… Hidup Lembaga Dewan Adat….,” teriak bergantian semua yang berkumpul di depan dan pintu akses keluar-masuk Baluwarti itu.

Hanya butuh waktu lima menit, abdidalem ulama KRT Hartoyodipuro yang diminta memimpin doa untuk membuka gembok, langsung bertindak dan gembok bisa lepas. Gembok dan anak kunci dibawa Gusti Moeng, untuk diganti baru yang lebih bagus, dan pintu dibuka lebar-lebar yang disertai lalu-lintas umum begitu cepat berlalu-lalang di situ. (won)

Editor : Budi Sarmun

  

 

Tinggalkan Pesan