Bendung Andalan Sawah 1.100 Hektare kebonharjo Direhab, Setelah Rusak Bertahun-tahun

irigasi-polanharjo-klaten-rusakirigasi-polanharjo-klaten-rusak
PROYEK REHAB: Proyek rehab bendung dan saluran irigasi Blambangan di Kecamatan Polanharjo dimulai setelah bertahun-tahun rusak (suaramerdekasolo.com/Achmad H)

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Petani di sedikitnya tujuh desa di wilayah sentra penghasil beras di Kabupaten Klaten akhirnya bisa merasa lega menyusul direhabnya bendung Blambangan di Desa Kebonharjo, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Bendung yang memasok air ke sawah seluas 1.100 hektare itu sebelumnya rusak bertahun-tahun.

Ketua Gabungan Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Kecamatan Delanggu, Maryana perbaikan sudah dimulai awal pekan lalu dengan anggaran dari APBD Provinsi Jawa Tengah.

” Direhab dari provinsi. Bendungan itu menyuplai air ke sawah di sedikitnya tujuh desa di tiga kecamatan yang luasnya sekitar 1.100 hektare,”  jelas Maryana,  Rabu (29/7) siang.

Menurut Maryana desa yang dialiri berada di Kecamatan Polanharjo, Delanggu dan Wonoasri. Meliputi Desa Kebonharjo, Keprabon, Segaran, Kepanjen, Delanggu, Gatak dan Boto dan lahan padi semua. Bendung itu rusak sejak tahun 2006, sudah dilaporkan beberapa kali ke Pemkab dan baru direhab tahun ini dari provinsi.

Sebelum rusak aliran air dari bendung itu mensuplisi atau menambah air ke jaringan irigasi Plosowareng dari Sungai Pusur. Namun sejak rusak tidak bisa lagi mengalir. Akibatnya air dari sungai Blambangan tidak bisa masuk jaringan Plosowareng sehingga debit air berkurang yang menyebabkan jangkauan aliran ke lahan ikut berkurang dan petani kerepotan jika kemarau.

Debit Kecil

Warga Desa Kebonharjo, Jaka Riwayat mengatakan saluran itu rusak sejak
lama. Sejak dua tahun terakhir malah mati.

” Sebelum dua tahun macet itu, saluran masih mengalir tapi debit sangat kecil karena ada sumbatan di bawah tanah. Padahal dulu sampai 300 liter per detik,” kata Jaka.

Saluran itu, sambung Jaka dibangun tahun 1970 dan mengaliri tujuh desa. Jika kemarau tiba sering membuat keributan antarpetani sebab air tak cukup di hilir. Dengan direhab semoga tidak ribut lagi masalah air dan ketersediaan air lebih baik.

Rusdi pengawas proyek rehab mengatakan bendungan dibenahi dan saluran dibangun ulang. Saluran diubah tingginya. ” Ini kita buat tinggi 3 meter jadi jika mampet petani bisa membersihkan. Dulu hanya satu meter jadi begitu tertutup tidak bisa dibersihkan,” terang Rusdi. Pantauan di lokasi pembangunan dilakukan dengan mengeruk tanah di atas saluran dengan ekskavator. Saluran yang mampet dibongkar dan dibuat saluran baru.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Pemkab Klaten, Widiyanti mengatakan lahan yang dialiri saluran itu mencapai 1.110 hektare sehingga kewenangan di pemerintah provinsi. Dengan direhab diharapkan ke depan panen petani semakin baik.(Achmad H)

Tinggalkan Pesan