Terdampak Pandemi Covid-19, Pegiat Pariwisata Butuh Bantuan

0
pariwisata-sragen
GERAKAN BISA: Penyerahan alat kebersihan menandai acara Gerakan BISA dari Kemenparekraf, yang dihadiri Wakil Ketua Komisi X DPR Agustina Wilujeng Pramestuti, di Musem Sangiran, Kalijambe, Sragen pada Senin (3/8/2020). (suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Banyak pegiat wisata yang terdampak pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) yang berlangsung sekitar enam bulan ini. Belajar dari waktu selama enam bulan pandemi dinilai sudah cukup untuk melawan tantangan Covid 19 guna kembali menggerakkan dunia pariwisata, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Selama ini sektor pariwisata terbukti secara mikro mampu menggerakkan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Hal ini dikemukakan Wakil Ketua Komisi X DPR Agustina Wilujeng Pramestuti, saat kegiatan Gerakan BISA (Bersih, Indah, Rapi, Aman), yang digelar di Museum Situs Purba Sangiran, Kalijambe, Sragen, pada Senin (3/8) siang. Gerakan BISA adalah gerakan untuk kebersihan, keindahan, kesehatan dan keamanan di destinasi pariwisata, dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Secara umum Gerakan BISA untuk mengangkat kembali pariwisata yang terpuruk akibat pandemi Covid.

Baca : Polres Klaten Gelar Doa Bersama Pemilu Damai

“Sudah cukup waktu enam bulan kita mengenali bagaimana melawan tantangan pandemi Covid 19. Salah satu hal yang menggerakkan ekonomi mikro kita, terutama UMKM adalah pariwisata. Dimana kalau pariwisata digerakkan, efek karambolnya kemana-mana,” kata Agustina. Karena itu, setelah enam bulan mengalami pandemi Covid 19, sudah seharusnya kita semua tahu bagaimana caranya mengakali bagaimana supaya perekonomian tetap tumbuh, namun badan tetap sehat.

Salah satunya adalah dengan Gerakan BISA ini, yang inisiasinya muncul dari ruang sidang Komisi X dengan Menteri Parekraf. Yakni bagaimana menolong mereka yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata, baik yang terlibat secara langsung atau dari efek karambolnya destinasi wisata. Cara lain yang dilakukan adalah menggelar pertunjukan-pertunjukan virtual, utamanya untuk mengangkat sumber daya manusia yang mencari hidup dari dunia pariwisata.

Baca : Dukungan Partai Gerindra Jadi Kekuatan Tambahan Gibran-Teguh

Dia menyampaikan jika masih ada orang yang kaku dan mengatakan agar di rumah saja, harus mulai berubah. Bahwa saat ini orang-orang sudah mulai keluar dan beraktifitas, dengan menerapkan protokol kesehatan Covid 19. “Hal itu bisa kok dilakukan dan kita memang tidak bisa diam begitu saja “ tandas anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Menurut Agustina, Kawasan Situs Purba Sangiran adalah destinasi wisata terbaik yang memiliki sisi edukasi, sejarah yang tidak dimiliki tempat wisata lain.

Sebagai salah satu wilayah konservasi, ada beberapa titik yang tidak bisa dikembangkan atau dibangun. Namun hal itu harus dijawab dengan pengembangan di daerah sekitarnya, sehingga Sangiran dikunjungi serta masyarakat sekitarnya menerima manfaat. ”Sekarang yang menerima manfaat itu kabupaten atau kota lainnnya Sragen. Lha sekarang bagaimana Pemkab Sragen supaya wisatawan Sangiran bisa tinggal di Sragen. Mungkin dengan homestay,” ujarnya.

Baca : Penangkapan Djoko Tjandra Dilakukan Dengan Cara Serah Terima di Atas Pesawat

Direktur Manajemen Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Harwan Ekon Cahyo Wirasto menyampaikan Gerakan BISA adalah tindaklanjut dari arahan Presiden RI agar semua kementerian dan lembaga memiliki program-program yang terkait dengan kebersihan, kesehatan dan melibatkan masyarakat atau ada padat karya.

Terkait dengan pariwisata, Gerakan BISA untuk peningkatan kualitas destinasi wisata. ”Jadi manakala kunjungan wisatawan sudah mulai datang kembali, destinasi sudah siap,” terangnya. Kawasan Situs Purba Sangiran dipilih dalam Gerakan BISA karena menjadi salah satu dari empat destinasi pariwisata di Jawa Tengah yang ditetapkan sebagai kawasan strategis pariwisata nasional. Yakni Candi Borobudur, Kepulauan Karimunjawa, Pegunungan Dieng dan Kawasan Situs Purba Sangiran.

Soal pembukaan destinasi wisata, Harwan menyampaikan diserahkan pada pengelola destinasi wisata masing-masing.
”Misalnya Bali dinyatakan buka oleh Gubernur Bali, Banyuwangi dinyatakan buka oleh Bupati Banyuwangi. Misal taman nasional tergantung kementerian kehutanan. Demikian juga cagar budaya dibawah kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti Sangiran diserahkan pada yang berwenang,” jelasnya. (Basuni Hariwoto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan