Bangunan Klinik Kesehatan di Belakang Bangsal Keputren Ambruk

bangsal-keputren-keraton-surakarta2
NYARIS ROBOH = Bangunan Bangsal Bedaya ini terletak di seberang bangunan Klinik Kesehatan yang roboh, Selasa petang (28/7). Karena kondisinya yang sudah rusak parah jauh sebelum 2017, bangunan ini juga tinggal menunggu robohnya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Di Zaman Sinuhun PB X Layani 3 Ribu Orang

SOLO,suaramerdekaolo.com – Bangunan klinik kesehatan yang didirikan semasa Sinuhun Paku Buwono (PB) X (1893-1939) yang melayani keluarga besar raja sampai tahun 1960-an, Selasa petang (28/7) ambruk dan dinding temboknya rata dengan tanah. Tak ada laporan mengenai adanya korban, atas ambruknya bangunan kosong yang sudah puluhan tahun dalam kondisi rusak parah tak terurus itu.

”Ya memang sudah lama dibiarkan kosong, karena ya mulai rusak. Aawalnya karena klinik kesehatan di dalam keraton memang sudah ditutup, terakhir di masa kecil saya tahun 1960-an. Setelah itu, yang semakin rusak, semakin parah, karena tidak terurus,” jelas GKR Retno Dumliah (Pengageng Pasiten) dan GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), saat diwawancarai suaramerdekasolo.com di kantornya, Badan Pengelola Keraton Surakarta, tadi siang.

Menurut GKR Retno Dumilah, saat bangunan tua berukuran kurang lebih 250 meter persegi itu runtuh, kelihatannya nyaris tidak ada orang di dekatnya. Karena, semua penghuni Bangsal Keputren yang berada di dekatnya, sudah meninggalkan tempat akibat ekses insiden evakuasi berkekuatan militer 2.400 personel pada 15 April 2017.

GKR Retno Dumilah atau Gusti Retno mengaku mendengar suara gemuruh saat bangunan itu ambruk, Sabtu petang (28/7), menjelang magrib, karena posisinya sedang berada di ndalem Kayonan, yang nyaris bersebelahan dengan lokasi kawasan tempat bangunan klinik kesehatan berdiri.

Tak Punya Legal Standing

Setelah beberapa saat tidak ada kabar lebih lanjut atas peristiwa itu, Gusti Retno melapor kepada GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng selaku Ketua LDA. Karena, adik kandung dan lembaga yang sedang dipimpin itu yang berwenang secara hukum mengurus asemua aset keraton, termasuk bangunan itu.

Gusti Retno mengaku, peristiwa itu tidak dilaporkan kepada Sinuhun PB XIII atau lembaga yang ada di Sasana Putra, mengingat Sinuhun dalam keadaan sakit gangguan stroke dan cacat permanen. Sementara, orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak mempunyai legal standing menjadi otoritas yang berwenang mengurusi aset-aset keraton.

” La wong saya yang secara adat seharusnya tinggal di Bangsal Keputren, juga dilarang tinggal di situ. Jelas tidak mungkin lapor ke sana. Apalagi, yang berwenang mengurusi itu ‘kan Gusti Moeng. Dia selaku Pengageng Sasana Wilapa, sekaligus Ketua LDA. Secara hukum menjadi badan otoritas berwenang atas semua aset keraton,” jelas Gusti Retno.

Bangunan klinik kesehatan itu, didirikan di masa Sinuhun PB X, guna melayani kesehatan sekitar 3 ribu orang kerabat dan keluarga, terutama penghuni Bangsal Keputren. Salah satu dokter yang bertugas di situ, adalah KPH dr Padmanagara yang juga salah seorang menantu Sinuhun PB X.

Layanan kesehatan di bangunan klinik yang posisinya berada di belakang Bangsal Keputren, ditutup di tahun 1960-an. Gusti Moeng mengaku pernah diantar sang ibu (KRAy Pradapaningsih) berobat ke situ di usia SD, di saat ayahandanya yaitu Sinuhun PB XII jumeneng nata (1945-2004).

bangsal-keputren-keraton-surakarta1
LOKASI BANGUNAN : Di kelilingi semak-semak liar yang hampir menutupinya, bangunan klinik kesehatan di dekat Bangsal Keputren itu ambruk dan rata dengan tanah hingga nyaris tidak tampak dari jarak 50-an meter saat Gusti Retno mengambil fotonya, Selasa petang (28/7). (suaramerdekasolo.com/dok)

Tak Ada Akses Masuk

Sementara itu, Gusti Moeng yang dilapori soal runtuhnya bangunan kosong itu juga baru sebatas mendata peristiwanya, antara lain mendokumentasi dengan foto bangunan yang sudah rata dengan tanah. Foto itu diambil Gusti Retno dengan kamera HP, yang tampak berjarak cukup jauh, meskipun antara ndalem Kayonan tempatnya memotret dengan objek bangunan yang runtuh yang difoto, hanya sekitar 50 meter jaraknya.

Lebih lanjut dikatakan, sampai tadi siang pihaknya tidak mendengar ada korban akibat itu. Selain lokasi di sekitarnya kosong karena memang bukan tempat hunian umum, sejak 2017 nyaris tak ada abdidalem yang berada di sekitar itu karena semua dilarang masuk, walau abdidalem yang bertugas di bidang kebersihan (Kebon Darat) atau pecaosan (pasang sesaji).

”Kalaupun misalnya Gusti Retno yang punya hak tinggal di Bangsal Keputren, ya jelas tidak mau di situ kalau untuk keluar-masuk harus melalui satu pintu di Sasana Putra. Itu aturan adat apa? La wong pintu masuknya saja sudah diatur, lewat Kori Wiwarakenya”.

”Artinya khusus untuk lewat (keluar-masuk) wanita. Kok disuruh lewat Sasana Putra. Ini ‘kan memalukan, karena mengaku bagian dari masyarakat adat tidak tahu adat. Saya yakin mereka juga tidak sadar siapa dirinya? Kalau sudah begitu, ya rusak semua. Rusak keraton ini. Rusak tata nilai adat ini,”gerutu Gusti Moeng terheran-heran, karena orang-orang yang tak jelas secara adat di sekitar Sinuhun itu, justru didukung pemerintah.

Tak Ada UPaya Perbaikan

Karena beberapa kesulitan terutama untuk mendapatkan akses masuk melihat secara langsung bangunan yang runtuh, LDA baru bisa mendata saja. Dan selama tiga tahun berada di luar akibat insiden 15 April 2017 itu, yang bisa dilakukan hanya sebatas mendata saja.

Termasuk dinding tembok di pojok barat Sasana Putra yang sebagian runtuh beberapa tahun sebelum 2017, materialnya menutup sebagian jalan dan ke bangunan rumah yang pernah ditinggali keluarga BKPH Prabuwinoto. Kerusakan itu dibiarkan menjadi pemandangan publik sehari-hari, tanpa ada upaya perbaikan oleh Sinuhun PB XIII dan kelompok yang kini menguasai keraton.

Termasuk pula atap bangunan kandang kereta kuda atau Bale Rata di dekat Pendapa Sasanamulya. Atap itu juga runtuk di tahun 2018, dan hingga kini dibiarkan rusak dan terbengkalai begitu saja, sedang LDA tidak bisa berbuat banyak karena kewenangan untuk itu belum didapat kembali.

”Beruntung, bangunan klinik kesehatan yang di Kamandungan sudah sempat kami renovasi. Tetapi yang bisa rusak lagi. La wong tidak pernah dirawat. Termasuk sejumlah bangunan yang kami renovasi sebelum 2017. Sekarang bisa rusak lagi. Karena sudah tiga tahun tidak dirawat,” tunjuk Gusti Moeng lagi. (won)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan